Wednesday, 24 Zulqaidah 1441 / 15 July 2020

Wednesday, 24 Zulqaidah 1441 / 15 July 2020

PLN Tingkatkan Porsi Pembangkit EBT Mulai Tahun Depan

Rabu 23 Oct 2019 15:47 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Plt Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani (Kanan)

Plt Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani (Kanan)

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Proyek pembangkit EBT skala besar yang akan dikerjakan PLN berlokasi di ibu kota baru

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan meningkatkan porsi EBT pada RUPTL tahun depan. Hanya saja, peningkatan prosi EBT ini tak hanya membangun pembangkit saja, tetapi juga penggunaan biodiesel.

Plt Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani menjelaskan saat ini PLN masih melakukan pembahasan dengan pemerintah mengenai RUPTL 2020-2025. Meski belum merinci berapa persen porsi EBT namun Inten memastikan bahwa proyek EBT terus berjalan.

"Kita lagi membahas terus. Tetapi porsi pasti akan kita tingkatkan di RUPTL tahun depan sesuai amanat presiden," ujar Inten di Kementerian ESDM, Rabu (23/10).

Inten menjelaskan untuk tahun ini saja porsi pembangkit EBT yang operasi juga bertambah dengan masuknya beberapa proyek PLTP yang masuk. "Muara Labu, Rajamandala sudah masuk juga," ujar Inten.

Namun, tak hanya menggenjot pembangunan pembangkit EBT saja, Inten mengatakan tahun depan perusahaan akan menyelesaikan solar rooftop. "Kita akan selesaikan juga proyek solar PV," ujar Inten.

Disatu sisi, kata Inten proyek EBT besar yang akan dikerjakan PLN juga adalah proyek kelistrikan ibu kota baru. Inten mengatakan PLN menggaet PUPR untuk bisa membangun PLTA.

"Kami yang pasti akan membangun PLTA dengan kerjasama PUPR. Jadi sudah ada skema kerjasama untuk supaya beliau yang membangun waduk kita yang bangun pembangkitnya," ujar Inten.

Untuk besaran investasinya sendiri, Direktur Keuangan PLN, Sarwono menjelaskan untuk tahun ini saja, perusahaan menganggarkan Rp 14 triliun untuk investasi pembangkit EBT. Untuk tahun depan, angkanya juga tidak jauh dari ini.

"Sekarang saja kan secara megawatt yang masuk sudah 700 an. Kalau satu saja investasinya butuh Rp 2 miliar, ya paling tidak kita butuh Rp 14 triliun. Tahun depan akan sama," ujar Sarwono di lokasi yang sama.

Terkait pengembangan EBT, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan, FX Sutijastoto mengatakan pemerintah mendukung proyek ini. Hanya saja, berbeda jika sebelumnya pemerintah menggenjot pasokan, kali ini, kata Totok pemerintah mengambil peran untuk membentuk demand.

"Kalau untuk mendorong EBT tentu kan kalau RUPTL kan by demand. Itu tetep jalan. Tapi yang paling penting sekarang ini adalah meningkatkan demand," ujar Totok di ESDM, Rabu (23/10).

Totok menjelaskan dengan meningkatkan pasar, pemerintah gencar menawarkan investor untuk bisa membangun ekosistem ekonomi sehingga kebutuhan listrik juga meningkat.

"Misalnya industri kita tawarkan potensi nya panas bumi misalnya. Daripada mereka bangun pabrik terus mereka bikin PLTU, kita tawarkan ada potensi PLTP yang bisa dikembangkan. Tinggal kita sodorkan ke PLN," ujar Totok.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA