Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Politikus PKS Kritisi Penunjukan Nadiem Sebagai Mendikbud

Rabu 23 Okt 2019 15:07 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho, Dessy Suciati Saputri/ Red: Andri Saubani

Mendikbud Nadiem Makarim bersiap mengikuti foto bersama seusai pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Mendikbud Nadiem Makarim bersiap mengikuti foto bersama seusai pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Latar belakang Nadiem sebagai pebisnis dinilai menimbulkan pertanyaan publik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritisi keputusan Joko Widodo (Jokowi) memilih pebisnis Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Latar belakang Nadiem sebagai pebisnis menimbulkan pertanyaan publik.

"Tentu saya tidak meragukan kemampuan Mas Nadiem Makarim dalam mengelola bisnis, namun tak salah juga jika saya mengkhawatirkan nasib dunia pendidikan kita ke depan," Anggota DPR Fraksi PKS Abooebakar Alhabsyi, Rabu (23/10).

Aboebakar mempertanyakan, bagaimana Nadiem Makarim yang merupakan seorang CEO Gojek bisa diberikan tugas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini, kata Aboebakar, menimbulkan pertanyaan terkait latar belakang penunjukan pebisnis sebagai menteri pendidikan.

"Ini akan dilihat seperti ada gambling pada dunia pendidikan kita. Padahal ini adalah sektor yang sangat menentukan masa depan bangsa," ujar Ketua DPP PKS ini.

Nadiem yang masih berusia 35 tahn ini menjadi menteri termuda di kabinet 2019-2024. Pria kelahiran Singapura, 4 April 1984, ini merupakan anak ketiga pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayah Nadiem merupakan aktivis sekaligus pengacara ternama di Tanah Air.

Ia menghabiskan masa sekolah dasar dan menengah pertama di Indonesia, lalu melanjutkan pendidikan menengah atas di Singapura. Lepas dari SMA, Nadiem melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas Ivy League di Amerika Serikat.

Jenjang strata satu ia tempuh di Brown University jurusan Hubungan Internasional. Ia juga sempat ikut pertukaran pelajar di London School of Economics and Political Science di Inggris. Setelah lulus, Nadiem melanjutkan S2 ke almamater sang ayah, Universitas Harvard, hingga meraih gelar Master of Business Administration.

Setelah berpindah-pindah dari sejumlah tempat kerja, Nadiem mendirikan Go-Jek. Hingga dipilih menjadi menteri, Nadiem tercatat sebagai CEO Go-Jek.

Secara umum, Aboebakar mengapresiasi susunan Kabinet yang diumumkan Jokowi dengan komposisi, dari 38 orang, sebanyak 21 berasal dari kalangan non-partai. Dengan demikian, setidaknya ada 55 persen para menteri berasal dari kalangan non-partai, sedangkan yang sisanya sebanyak 45 persen berasal dari partai politik.

Aboebakar juga mengapresiasi diambilnya nama nama profesional yang sangat jauh dari dunia politik. Seperti penunjukan dokter Terawan sebagai Menteri Kesehatan, Wisnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Eric Thohir sebagai Menteri BUMN.

"Bisa jadi banyak ide besar dan kreatif yang mereka bawa untuk mengembangkan kementerian. Saya kira ini adalah langkah berani dari presiden yang bisa membawa harapan baru bagi masyarakat," ujar dia.

Beberapa nama menteri lainnya yang diperkenalkan presiden adalah para incumbent yang selama ini memang telah diakui kemampuannya mengelola kementerian, misalkan saja Ibu Sri Mulyani di Kementerian Keuangan, atau Ibu Retno Marsudi di Kementerian Luar negeri. Aboebakar berpandangan, nama-nama tersebut tidak akan diragukan oleh publik, karena selama ini dinilai memiliki kinerja yang baik.

Nadiem Makarim menjelaskan alasannya ditunjuk oleh Presiden Jokowi menjadi salah satu menteri di Kabinet Indonesia Maju. Meskipun tak memiliki latar belakang pendidikan, Nadiem dianggap mampu menghubungkan sektor pendidikan dengan kebutuhan masa depan.

"Alasan kenapa saya terpilih walaupun saya bukan dari sektor pendidikan adalah, saya lebih mengerti, belum tentu mengerti, tapi lebih mengerti apa yang akan ada di masa depan kita. Karena saya bidangnya, bisnis saya di bidang masa depan, untuk mengantisipasi masa depan," ujar Nadiem di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Rabu (23/10) usai pelantikan Kabinet Indonesia Maju.

Nadiem menjelaskan, kebutuhan pekerjaan di masa depan akan selalu berubah dan berbeda. Karena itu, dibutuhkan link and match untuk menyambungkan institusi pendidikan dengan dunia pekerjaan sehingga dunia pendidikan di Indonesia mampu beradaptasi dengan segala perubahan. Menurutnya, peran teknologi saat ini sangat dibutuhkan di dunia pendidikan dan sistem administrasi pendidikan.

"Mau nggak mau peran teknologi akan sangat besar dalam semuanya, kualitas, efisiensi dan administrasi sistem pendidikan sebessar ini ya, jangan lupa ini empat terbesar di dunia sistem pendidikan ini, jadi peran teknologi sangat penting," jelasnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA