Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Koran Australia Disensor untuk Protes Ancaman Kebebasan Pers

Rabu 23 Oct 2019 10:54 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Koran Australia

Koran Australia

Foto: AP Photo/Rick Rycroft
Halaman depan koran Australia dipenuhi tulisan dicoret dan disensor untuk protes.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Hampir semua surat kabar di Australia menujukkan halaman depan dengan tulisan dicoret dan banyak disensor pada Senin (21/10). Hal tersebut tidak lain sebagai bentuk protes keras terhadap pengekangan kebebasan pers yang dilakukan oleh pemerintah.

Berita utama News Corp Australia dan Nine pada Senin menujukkan teks gelap. Di sampingnya terdapat perangko merah bertuliskan "rahasia".

Dilansir BBC, protes tersebut ditujukan pada undang-undang keamanan nasional yang menurut para jurnalis Australia menghambat pelaporan mereka. Selain itu, pemerintah dianggap menciptakan "budaya kerahasiaan" di Australia. Pemerintah dinilai mendukung kebebasan pers tetapi tidak ada yang di atas hukum.

Baca Juga

Kampanye itu berpendapat bahwa undang-undang keamanan yang lebih keras yang diberlakukan selama dua dekade terakhir, telah mengancam jurnalisme investigatif, serta mengikis "hak untuk tahu" publik. Sejak undang-undang kontra-spionase baru diperkenalkan tahun lalu, para bos media telah melobi agar wartawan dan pelapor diberi pengecualian untuk melaporkan informasi sensitif. Hal itu merupakan bagian dari daftar tujuh tuntutan yang diajukan kepada pemerintah pada Senin yang juga menyerukan reformasi terhadap kebebasan informasi dan undang-undang pencemaran nama baik.

Pada Juni, penggerebekan polisi terhadap Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan rumah wartawan News Corp Australia memicu reaksi yang sangat besar. Organisasi media mengatakan penggerebekan itu dilakukan atas artikel-artikel yang mengandalkan informasi yang dibocorkan pelapor. Satu tuduhan terperinci atas kejahatan perang, sementara yang lain melaporkan dugaan upaya agen pemerintah untuk memata-matai warga Australia.

Protes mensensor halaman depan koran juga didukung oleh beberapa stasiun televisi, radio, dan media online. Ketua Eksekutif News Corp Australia Michael Miller mengunggah foto pada thread Twitternya termasuk foto sensor dari The Australian dan The Daily Telegraph. Dia mendesak masyarakat untuk bertanya kepada pemerintah: "Apa yang mencoba mereka coba sembunyikan dari kita?"

Sementara, Nine (penerbit Sydney Morning Herald dan The Age) menerbitkan halaman depan serupa. "Australia berisiko menjadi negara demokrasi paling rahasia di dunia," kata Direktur Pelaksana ABC David Anderson.

Pada Ahad, pemerintah menegaskan kembali bahwa terdapat tiga jurnalis yang mungkin akan menghadapi penuntutan setelah penggerebekan Juni lalu. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan kebebasan pers penting bagi demokrasi Australia. Meski dia menegaskan "aturan hukum" perlu ditegakkan. "Itu termasuk saya, atau jurnalis, atau siapa pun," katanya Ahad lalu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA