Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

PLN Terangi Papua dengan Pembangkit Energi Baru Terbarukan

Selasa 22 Okt 2019 15:18 WIB

Rep: intan pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas menata sambungan listrik yang rusak di salah satu rumah warga yang terbakar di Jayapura, Papua, Sabtu (31/8/2019).

Petugas menata sambungan listrik yang rusak di salah satu rumah warga yang terbakar di Jayapura, Papua, Sabtu (31/8/2019).

Foto: Antara/Zabur Karuru
Rasio Elaktrifikasi di Papua 95,75 persen.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- PLN menerangi Papua dengan pembangkit energi baru terbarukan. Tanah Papua dengan bentang alam dan kekayaan geografisnya menjadi tantangan dalam mengalirkan listrik ke rumah-rumah para penduduknya.

Baca Juga

PLN menyusun skenario alternatif untuk melistriki Bumi Cendrawasih dengan meluncurkan  program, 1.000 Renewable Energy for Papua. Berdasarkan data Kementerian ESDM, Rasio Elektrifikasi (RE) di Provinsi Papua adalah 94,28 persen dan Papua Barat 99,99 persen, sehingga saat ini RE di dua provinsi itu adalah sebesar 95,75 persen, yang dicapai melalui kontribusi PLN (58,25 persen), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari  Kementerian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat. 

"Masih ada sekitar 1.724 desa yang gelap gulita, dari jumlah desa sebanyak 7.358 desa, oleh karena itu PLN meluncurkan Program 1.000 Renewable Energy for Papua sebagai tindak lanjut dari program Ekspedisi Papua Terang,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi F.X. Sutijastoto, Selasa (22/10).

Direktur Regional Maluku dan Papua, Ahmad Rofik memaparkan, Program 1.000 Renewable Energy for Papua ini merupakan inisiatif strategis PLN  untuk mencapai target rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun 2020. PLN menggelar survei Ekspedisi Papua Terang di bulan Agustus-September 2018 yang melibatkan 165 mahasiswa pecinta alam dari 5 kampus perguruan tinggi negeri (Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Cendrawasih).

"Ekspedisi ini melibatkan juga LAPAN dan TNI AD. Tujuannya untuk mendapatkan data bagi keperluan penyusunan rencana paling efektif, melistriki ratusan desa di Provinsi Papua dan Papua Barat,” ujar Ahmad Rofik.

Ia juga menerangkan, dengan tantangan geografis, kerapatan hunian yang sangat rendah, dan infrastuktur yang terbatas, Program 1000 Renewable Energy for Papua dipandang sebagai solusi paling efektif untuk percepatan elektrifikasi di Papua dan Papua Barat melalui implementasi model Wireless Electricity.

“Optimalisasi energi lokal berbasis energi baru terbarukan (EBT) juga diharapkan akan memperbaiki kinerja Bauran Energi sekaligus menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik,” ujar Ahmad Rofik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA