Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

The Italian Job

Senin 21 Oct 2019 08:49 WIB

Red: Elba Damhuri

Adiwarman Karim

Adiwarman Karim

Foto: Republika/Da'an Yahya
Ada tiga pelajaran dari film The Italian Job ini untuk kehidupan berbangsa.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Adiwarman Karim

Film The Italian Job adalah film lawas tahun 2003 yang tetap menarik disimak. Tidak ada yang abadi dalam koalisi. Keahlian dan pengalaman dalam mengambil yang bukan haknya menjadi pemicu pecahnya koalisi karena keserakahan dalam membagi hasil ilegal yang diperoleh.

Film karya Gary Gray ini menggambarkan keberhasilan sekelompok penjahat profesional yang dipimpin John Bridger mencuri emas batangan bernilai jutaan dolar AS. Alih-alih menikmati hasil kerja cerdas skenario yang disusunnya, John malah dibunuh oleh anggota timnya sendiri, Steve, yang mencuri semua hasil curian dan menyingkirkan anggota tim yang lain. Koalisi ini bubar ketika mereka telah sukses mendapatkan hasil dan ada salah satu anggota tim yang berkhianat.

Charlie Crocker kemudian mengumpulkan anggota tim yang lain dan Stella, anak John, untuk membalas dendam serta merebut kembali emas batangan dengan ikon penari Bali. Skenario pun disusun dengan cermat. Ini yang menarik, satu ilmu satu guru, saling menyusun skenario berlapis. Ada tiga skenario yang menarik disimak.

Pertama, penyusupan dan pengelabuan. Stella yang tidak dikenal Steve disusupkan untuk memetakan situasi kondisi walaupun akhirnya pengelabuannya terkuak. Spionase dan kontraspionase merupakan langkah awal untuk keberhasilan suatu rencana aksi. Pesan penting Stella ketika pengelabuannya terbongkar, "I trust everyone; It’s the devil inside them that I don’t trust."

Kedua, nabok nyilih tangan. Ketika Charlie menyadari tidak mampu menyingkirkan Steve dengan kekuatannya sendiri, strategi nabok nyilih tangan digunakan. Memanfaatkan kesalahan Steve yang menggunakan kekerasan berlebihan yang berujung pada kematian Yevhen, Charlie nabok nyilih tangan.

Kematian Yevhen menjadi awal masuknya kelompok mafia Ukraina pimpinan Mashkov ke dalam koalisi Charlie. Kekuatan Mashkov digunakan Charlie untuk menyingkirkan Steve.

Ketiga, menggunting dalam lipatan. Mashkov tidak terlibat sejak awal dalam koalisi, bahkan harus kehilangan Yevhen. Namun, karena koalisi Charlie kesal dengan keserakahan dan dominasi Steve, sementara koalisi tidak mampu menyingkirkan Steve dengan upaya sendiri, terbukalah kesempatan Mashkov untuk menggunting dalam lipatan. Kalah di awal tidak selalu berarti kalah di akhir.

Ada tiga pelajaran yang dapat diambil dari film ini. Pertama, adagium the winner takes all lebih dekat pada keserakahan daripada kemenangan yang langgeng. Apa artinya kemenangan bila yang kalah seakan dianggap tidak wujud. Kesalahan terbesar Steve adalah merasa dapat menang sendiri.

Steve merasa menyingkirkan John yang merupakan pemimpin dan mentor bagi anggota tim lain dapat menimbulkan ketakutan. Steve percaya, pegang kepala ular maka kau dapatkan buntutnya. Dia salah besar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA