Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Antisipasi Lonjakan Harga, Bulog Siapkan Beras 1,5 Juta Ton

Sabtu 19 Oct 2019 18:09 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Gudang beras Bulog.

Gudang beras Bulog.

Foto: kementan
Jumlah 1,5 juta ton adalah batas aman minimal stok beras Bulog.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Bulog memastikan minimal stok beras yang tersimpan di gudang hingga musim panen raya 2020 sebesar 1 hingga 1,5 juta ton. Sesuai ketetapan pemerintah, jumlah itu merupakan batas aman minimal stok beras Bulog dalam menjalankan fungsi stabilisasi harga.

Baca Juga

Sesuai Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015, Bulog berkewajiban untuk terus melakukan penyerapan gabah dan pengadaan beras dalam rangka program pemerintah. Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaluddin Iqbal, menuturkan, dalam mengantisipasi kebutuhan beras stok harus dipastikan cukup dan tidak kurang dari 1 juta ton.

"Sampai Januari kita harus terus menambah stok beras dengan melakukan penyerapan karena fungsi utama kita stabilisasi harga baik di produsen maupun konsumen," kata Awaluddin kepada Republika.co.id, Sabtu (19/10).

Saat ini, total stok di gudang beras Bulog mencapai 2,3 juta ton. Hingga akhir tahun diprediksi sisa stok beras sekitar 1,3 juta ton. Dikarenakan musim panen raya tahunan baru secara normal yang baru tiba pada Februari-Maret, stok akan terus ditambah agar tetap dalam posisi aman.

Hanya saja, Awaluddin mengatakan, perseroan berharap kepada pemerintah agar membantu Bulog dalam memasarkan produknya. Sebab, harus diakui, dalam setahun terakhir Bulog memang mengalami kesulitan dalam memasarkan berasnya seiring beralihnya program Beras Sejahtera ke Bantuan Pangan Non Tunai yang tidak lagi memprioritaskan beras Bulog.

Pengadaan beras Bulog hingga saat ini baru mencapai 1,09 juta ton dari target 1,8 juta ton. Minimnya realisasi pengadaan salah satunya akibat gudang Bulog yang telah penuh sementara penyaluran beras cukup minim. Karenanya, perseroan terpaksa mengerem pengadaan menyesuaikan dengan kebutuhan beras di pasar.

"Intinya, dalam konteks penugasan kita masih tunduk kepada Inpres. Tapi, sebetulnya harapan kita untuk penyaluran beras mestinya diberikan jalan keluar," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman meminta agar Bulog tetap melakukan pengadaan beras pada bulan Januari-Februari agar operasi pasar beras dapat digencarkan. Amran menjelaskan, stok 1,3 juta ton sangat mencukupi untuk periode Januari-Februari. Asumsi amannya stok tersebut mengacu kepada rata-rata volume operasi beras Bulog sejauh ini  sekitar 3.000 ton per hari.

"Operasi pasar per hari 3.000 ton, kalau dua bulan (Januari-Februai) berarti 180 ribu ton. Stok beras Bulog di atas 1 juta ton. Jadi aman," kata Amran.

Kendati demikian, ia mengatakan bahwa segala antisipasi harus disiapkan oleh pemerintah. Karenanya, Kementan meminta Bulog untuk terus melakukan penyerapan pada pergantian dan awal tahun 2020 agar persediaan mencukupi untuk operasi pasar. Dengan begitu, meski beras Bulog digelontorkan untuk operasi pasar, gudang tetap terisi sesuai kapasitas Bulog.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA