Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Ahli: Anomali Iklim, Indonesia Berpotensi Kekurangan Pangan

Sabtu 19 Oct 2019 06:13 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Seorang petani, Micing (65), menunjukan padi yang rusak diserang hama tikus. Anomali iklim juga berpengaruh pada pola serangan hama tanaman pangan.

Seorang petani, Micing (65), menunjukan padi yang rusak diserang hama tikus. Anomali iklim juga berpengaruh pada pola serangan hama tanaman pangan.

Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Anomali iklim dapat membuat Indonesia kekurangan pangan.

REPUBLIKA.CO.ID,  LAMONGAN -- Gangguan anomali iklim dapat membuat Indonesia kekurangan pangan. Ahli pertanian mengungkapkan, perubahan dalam serangan hama tikus yang menyerang tanaman pangan juga terjadi karena anomali iklim.

"Oleh karenanya perlu inovasi untuk meminimalisir hama ini menyerang lebih luas lagi," kata ahli pertanian dari Indonesia Country Coordinator International Food Policy Research Institute-Program For Biosafety Systems (IFPRI-PBS) Prof Sidi Asmono.

Sidi mengatakan, dengan persediaan pangan per kapita per tahun yang sangat sedikit, Indonesia rentan terhadap kekurangan pangan untuk masa depan. Apalagi jika terjadi gangguan anomali iklim dan hama.

photo
Upaya petani menekan hama tikus.

Sementara itu, menurut dia, teknologi yang ada saat ini belum diterapkan dengan maksimal. Pemanfaatan teknologi belum menyentuh sampai tingkat bawah.

"Selain itu, perlu adanya perbaikan benih lebih unggul agar tahan terhadap hama," kata Sidi dalam acara temu wicara kontak tani tingkat kabupaten di Pendopo Lokatantra, Kabupaten Lamongan, Jumat.

Acara temu wicara kontak tani juga menghadirkan narasumber peneliti utama bidang hama dan penyakit tanaman Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur Prof Moh Cholil Mahfud dan Peneliti Madya Bidang Pedologi serta Pengindraan Jarak Jauh BPTP, Ir Chendy Tafakresnanto. Sementara Bupati Lamongan, Fadeli yang membuka acara itu, melihat adanya penurunan semangat dalam membantu petani untuk bercocok secara benar, khususnya menggunakan teknologi pertanian.

"Saya melihat ada penurunan semangat di tahun ini. Mari kita pompa semangat sehingga pertanian modern dapat kita aplikasikan. Jangan pernah merasa pintar, mari kita terus belajar memperbaiki keadaan," katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan, Rujito mengatakan, acara tersebut merupakan pertemuan strategis di bidang pertanian. Tujuannya untuk peningkatan produktivitas pertanian di Lamongan, khususnya jagung.

Rujito mengatakan, produktivitas jagung di wilayah setempat pada tahun 2019 mencapai 10 hingga 12 ton per hektare. Ia menyebut, potensi produksi jagung di Lamongan sangat luar biasa.

"Selain itu padi juga mengalami peningkatan yang signifikan. Sehingga secara bisnis petani mengalami pertumbuhan pendapatan," katanya.

Selain itu, temu ini juga bertujuan mewujudkan sumber daya manusia atau petani milenial menuju industri 4.0 bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. "Agenda tahunan ini merupakan forum diskusi antara pemerintah sebagai perencana dengan masyarakat petani sebagai eksekutor secara langsung," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA