Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

BI Jabar Optimistis Investasi Dongkrak Ekonomi 0,5 Persen

Jumat 18 Oct 2019 16:40 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Friska Yolanda

Pekerja memproduksi aluminium di PT Handal Aluminium Sukses (HAS) di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4). PT HAS yang merupakan anak usaha Hyamn Group merupakan industri manufaktur produksi aluminium extruwion yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sebesar 600 ton.

Pekerja memproduksi aluminium di PT Handal Aluminium Sukses (HAS) di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4). PT HAS yang merupakan anak usaha Hyamn Group merupakan industri manufaktur produksi aluminium extruwion yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sebesar 600 ton.

Foto: Dedhez Anggara/Antara
Perlambatan ekonomi berdampak pada Jabar yang 42 persennya didorong manufaktur.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kepala Kantor Perwakilan bank indonesia Jawa Barat Doni P Joewono optimistis masuknya arus investasi ke Jawa Barat hingga Rp 53 triliun dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi di atas 0,5 persen. Sebagian besar investasi ini masih pada tahap pengurusan izin.

"Kontribusi rumah tangga di Jabar 60 persen, investasi 20 persen, pemerintahan 10 persen, nah nanti kita hitung dulu," ujar Doni pada acara West Java Investment Summit (WJIM) 2019 di Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jumat (18/10).

Jika 20 persen investasi bernilai Rp 70 triliun, hal ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 0,5 sampai 0,9 persen. 

Namun, masuknya arus investasi ke Jabar diperkirakan baru bisa dirasakan dampaknya tahun depan. Komitmen investasi yang dilakukan hari ini di WJIM senilai Rp 53 triliun, sebagian besar masih pada tahap pengurusan izin. Selain itu, realisasi investasi diperkirakan akan bertahap. 

"Jadi mungkin kontribusi terhadap pertumbuhan tahun depan dari investasi ini sekitar 0,3 hingga 0,4 persen. Karena value added-nya diperkirakan baru dirasakan tahun depan," kata Doni.

Doni mengaku, kondisi global sangat berdampak terhadap ekonomi Jabar. Karena 42 persen pertumbuhan ekonomi Jabar ditopang manufaktur . Sementara manufaktur yang didorong TPT dan otomotif, mengalami stagnasi ekspor akibat kondisi ekonomi global.

Doni memprediksi, pertumbuhan ekonomi Jabar pada tahun ini berkisar 5,55 persen atau sedikit tumbuh melambat dari tahun lalu samudra 5,65 persen. Imbas ekonomi pertambahan ekonomi global diperkirakan bakal terjadi antara dua hingga tiga tahun ke depan.

"Jabar ini paling terkena dampak, karena manufaktur 42 persen," katanya. 

Oleh karena itu, kata dia, Jabar harus mencari pertumbuhan ekonomi baru. Misalnya ke sektor wisata dan industri  kreatif. 

"Karena leisure tidak akan terdampak kondisi ekonomi dunia," kata Doni.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA