Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Insiden Rasis Vs Inggris, Polisi Bulgaria Tangkap 6 Orang

Kamis 17 Oct 2019 11:30 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Endro Yuwanto

Presiden UEFA Aleksander Ceferin.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin.

Foto: EPA/Martial Trezzini
Operasi ini masih terus berlangsung dan mungkin akan lebih banyak tersangka.

REPUBLIKA.CO.ID, SOFIA -- Polisi Bulgaria menyatakan telah menangkap enam orang terkait dengan insiden rasis dalam kualifikasi Piala Eropa 2020 antara Bulgaria kontra Inggris. Kemenangan Inggris 6-0 bukan hanya menjadi kekalahan terbesar Bulgaria, tapi juga jadi sejarah kelam sepak bola negeri itu.

Suporter Bulgaria pada laga itu melakukan teriakan rasis kepada pemain Inggris dan hormat Nazi. ''Sejauh ini sudah enam orang ditahan dan kami masih mencari orang lainnya, berdasarkan bukti yang kami kumpulkan atas keterkaitan mereka dalam insiden tersebut,'' kata direktur departemen kepolisian Sofia, Georgi Hadzhiev, dikutip dari AS, Kamis (17/10).

Hadzhiev menambahkan, operasi ini masih terus berlangsung dan menyelidiki lebih banyak tersangka. Pertandingan antara Inggris dan Bulgaria tersebut juga sempat dua kali dihentikan oleh wasit berdasarkan protokol tahap ketiga yang dimiliki oleh Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA). UEFA juga sedang melakukan proses disiplin terhadap Bulgaria karena tindakan rasis dan pelemparan benda di Stadion Vasil Levski tersebut.

Presiden UEFA Alexander Ceferin menegaskan, organisasi yang dipimpinnya itu akan memperluas kampanye perang terhadap tindakan rasis untuk menyelamatkan sepak bola. ''Percayalah, UEFA berkomitmen melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk menghapus penyakit ini dari sepak bola,'' ujar Ceferin dikutip dari Skysport.

Kantor Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson sempat menghubungi UEFA untuk memberikan sanksi berat untuk Bulgaria. Namun Ceferin menegaskan, upaya untuk memberantas rasis ini perlu tindakan yang lebih luas lagi.

Baca Juga

Menurut Ceferin, UEFA tidak bisa sendiri dalam memerangi perilaku yang tidak beradab tersebut, kecuali dengan kerja sama dengan semua pihak. ''Hanya dengan bekerja sama atas nama kebaikan dan kehormatan kami akan membuat kemajuan,'' jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA