Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Budaya Dialog Jadi Bagian Penting dari Demokrasi

Rabu 16 Oct 2019 21:41 WIB

Red: Ratna Puspita

Ilustrasi Dialog

Ilustrasi Dialog

Foto: Republika
Saat ini, banyak orang yang berpegang keras terhadap opini yang dipercayai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan anggota parlemen Denmark, Ozlem Sara Cekic, menyebut budaya berdialog dan percakapan antar-manusia menjadi salah satu aspek penting dari demokrasi. Namun, ia mengatakan, budaya itu kerap sulit untuk dilakukan.

Baca Juga

Dia mengatakan, saat ini, banyak orang yang berpegang keras terhadap opini yang dipercayai dan tak memberi ruang untuk mempertimbangkan pandangan yang dianggap berseberangan. Akibatnya, tak banyak dialog yang terjadi antara opini-opini yang berbeda.

“Kita hanya bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran serupa dan tidak menghargai pemikiran orang lain. Kita tidak berusaha untuk berbicara dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda. Itu dapat merusak demokrasi yang sehat,” kata Ozlem dalam acara diskusi bertajuk "Secangkir Kopi, Secercah Toleransi untuk Empati" di Jakarta, Rabu (16/10).

Percakapan yang dilakukan oleh orang-orang dengan pandangan yang berseberangan, menurutnya, bukan bertujuan untuk mengubah pandangan siapapun. Namun, ia menyatakan, untuk menerima keberagaman.

Dalam semangat toleransi dan empati, Ozlem meyakini masyarakat harus menjaga keterbukaan pikiran akan pandangan-pandangan yang mungkin berbeda, bahkan berseberangan, dengan yang dimiliki. Dia pun menganggap keterbukaan dan penerimaan itu dapat mencegah penyebaran kebencian dan tindak kekerasan.

“Kita harus berbicara dengan sebanyak mungkin orang, namun kita juga harus memastikan pikiran kita juga terbuka. Kebencian dan kekerasan hanya dapat dicegah melalui debat, percakapan yang kritis dan mendorong dialog yang tidak menjelekkan (demonize)orang lain,” paparnya.

Ozlem telah menginisiasi gerakan #DialogueCoffee yang dia mulai beberapa tahun silam. Saat itu, dia kerap mendapat surat-surat penuh ujaran kebencian, bahkan ancaman terhadap dia dan keluarganya, ketika mulai menjabat sebagai anggota parlemen pada tahun 2007 .

Pada 2010, saat masih menjabat di parlemen, dia mulai mengajak para pengirim surat-surat tersebut untuk bertemu dan bercakap-cakap sembari menikmati segelas kopi. Hingga hari ini, Ozlem telah bertemu dengan kurang lebih 300 orang.

Dari pengalamannya itu, Ozlem mengatakan dia belajar untuk tidak menilai seseorang hanya dari pandangan politik atau idealisme-idealisme yang dipegang, baik yang sejalan ataupun yang bertentangan dari apa yang dia percayai.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA