Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Terkenang Pak Harto Saat Soal SD Inpres Dapat Nobel

Kamis 17 Okt 2019 05:53 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Para guru dan siswa SD Inpres Kulitarek Wamena berfoto bersama tim BMH Perwakilan Papua dan TASK Hidayatullah.

Para guru dan siswa SD Inpres Kulitarek Wamena berfoto bersama tim BMH Perwakilan Papua dan TASK Hidayatullah.

Foto: Dok BMH
SD Inpres tenryata jadi inspirasi penelitian ekonom Peraih Nobel Ekonomi 2019

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Semalam ada supraise dari rekan jurnalis senior Teguh Setiawan. Tak ada angin dan hujan tiba-tiba dia mengirimkan tulisan yang dilansir media online CNBC Indonesia. Yang mengagetkan adalah isi kirimnya tentang fenomena SD Inpres yang digagas zaman Orde Baru yang dibawah Presiden Soeharto yang ternyata menjadi ide penelitian bagi tiga ekonom asing bisa meraih Nobel tahun 2019 ini.

Mereka adalah Abhijit Banerjee, Esther Duflo dan Michael Kremer. Ketiga warga AS itu, memenangkan penghargaan tertinggi atas penelitian mereka terkait kemiskinan global.

Agar tak salah intrepatasi saya kutip saja tulisan di CNBC Indonesia itu bulat-bulat. Ini menarik sebab pasti banyak orang Indonesia tidak tahu dan kaget atas fenomena SD Inpres yang digagas salah satu ekonom Orde Baru Prof Widjojo Nitisastro.

Jakarta, CNBC Indonesia- Hadiah Nobel di bidang ekonomi sudah diberikan kepada Abhijit Banerjee, Esther Duflo dan Michael Kremer. Ketiga warga AS itu, memenangkan penghargaan tertinggi atas penelitian mereka terkait kemiskinan global.

Berbeda dari kebanyakan peneliti yang melihat masalah kemiskinan secara luas, ketiga ekonom ini fokus pada isu-isu yang lebih spesifik seperti edukasi pada masyarakat miskin. Salah satunya adalah bagaimana meningkatkan kinerja sekolah di daerah-daerah miskin.

Dari ketiga pemenang tersebut, salah satunya adalah Esther Duflo. Perempuan berusia 46 tahun ini adalah tokoh termuda yang memenangkan Nobel selama 50 tahun terakhir dan merupakan perempuan pertama.

Tapi ternyata, tahukah Anda bahwa Duflo ternyata meneliti soal SD inpres di Indonesia?

SD Inpres merupakan proyek peningkatan kualitas pendidikan dasar di rezim Orde Baru. SD Inpres terbentuk dengan keluarnya instruksi presiden Nomor 10 tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD.

SD Inpres ini sering disebut "sekolah kecil" karena disediakan untuk anak-anak masyarakat miskin, di daerah terpencil. Kalaupun di wilayah perkotaan, SD Inpres berada di kawasan dengan penghasilan rendah, sementara di wilayah lebih maju pemerintah membuat SD negeri.

Penelitian ini diterbitkan di Agustus tahun 2000. Dengan judul schooling and labor market consequences of school construction in Indonesia: evidence from an unusual policy experiment (konsekuensi sekolah dan pasar tenaga kerja dari pembangunan sekolah di Indonesia: bukti dari eksperimen kebijakan yang tidak biasa).

Dalam abstraksinya ia menjelaskan penelitian ini berbasis pada realita yang terjadi di Indonesia tahun 1973 dan 1978. Di mana RI membangun lebih dari 61.000 SD.

Ia mengevaluasi efek dari program ini pada pendidikan dan upah. Dengan menggabungkan perbedaan antar daerah dalam jumlah sekolah yang dibangun dengan perbedaan antar kelompok yang disebabkan oleh waktu program.

Dalam risetnya, ia menunjukkan bahwa pembangunan SD Inpres menyebabkan peningkatan pendidikan dan pendapatan. Anak-anak usia 2 hingga 6 tahun di 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak pendidikan, untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.

Menggunakan variasi sekolah yang dihasilkan oleh SD Inpres ini sebagai variabel instrumental, ke dampak pendidikan pada upah, ia mendapatkan kesimpulan bahwa kebijakan ini sukses 'meningkatkan' ekonomi. Bahkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8% hingga 10,6%.

                 *****
Mah, adanya kenyataan ini menjadi sangat penting untuk bertanya kepada Indonesia pada hari-hari terakhir. Benarkah Orde Baru serba jahat? Benarkan semua masa lalu kita buruk? Bisakah kita tidak berani dan bisa berdamai dengan masa lalu?

Filsus Jerman Nietzhe sudah memberi contoh masa lalu hendaknya dibaca sebagai layaknya sebuah spion. Mengacalah dengan bijak. Spion itu penting untuk melihat situasi yang ada di belakang, namun jangan terlalu sering dan kelamaan memandang sebab bisa membuat kendaraan kita yang tengah melaju ke depan mengalami kecelakaan kareba menabrak sesuatu.

Jadi bila melihat ini maka ariflah. Sebab, faktanya semua yang berbau Orde Baru itu tak semuanya buruk, dan juga tak semua yang berbau Orde Lama total buruk. Sebab, yang lebih penting bisakah genari masa kini bisa berbuat lebih baik? Kasus SD Inpres zaman Pak  Harto bisa menjadi cermin..!

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA