Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Akulturasi Islam dalam Kesenian Debus

Rabu 16 Okt 2019 19:19 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sejumlah jawara melakukan atraksi debus saat hendak mencatatkan Rekor MURI Pertunjukan Debus Terbanyak di Alun-alun Serang, Banten, Ahad (19/11).

Sejumlah jawara melakukan atraksi debus saat hendak mencatatkan Rekor MURI Pertunjukan Debus Terbanyak di Alun-alun Serang, Banten, Ahad (19/11).

Foto: Antara/Asep Fathulrahman
Kesenian debus yang awal dari tarekat Islam kini lebih menekankan pada aspek hiburan

Dalam konteks Islam di Nusantara, salah satu bentuk ilmu hikmat adalah tradisi debus, yaitu warisan budaya keagamaan khas Banten yang resmi dijadikan identitas pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (Banten).

Debus bisa diterapkan melalui sarana latihan fisik dan rohani. Tradisi debus diambil dari Tarikat al-Rifa'iyah , sehingga debus dikenal pula dengan sebutan Rifa’i, atau al-Madad (dalam permainan disebut kata al-Madad/ penolong).

Debus merupakan permainan yang mengandalkan kekebalan tubuh dari benda tajam dan panas api. Hal itu tentunya tidak bisa dilepaskan dari praktek-praktek magisme yang dilakukan oleh para pelakunya.

Praktek magise dalam permainan debus merupakan campuran eklektik dari agama Islam, khususnya dari tradisi tarekat, dan dari tradisi yang telah berkembang di masyarakat pra-Islam di Banten. Kekebalan dan kesaktian sejak masa pra-Islam memang dipentingkan dan dicari orang banyak di Nusantara.

Bentuk kesenian debus tercermin dari kegiatan masyarakat sehari-hari, yang didasari atas ucapan dan doa yang dipanjatkan kepada Tuhan YME agar selalu diberikan pertolongan, perlindungan, serta keselamatan didalam menjalani kehidupan.

Debus di sini dijadikan sebagai simbol masyarakat Banten yang pada intinya dalam setiap tindakan yang kita jalani harus selalu berdoa kepada Tuhan YME agar dalam setiap langkah mendapat keberkahan dan dijauhkan dari perbuatan yang tidak baik. 

Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian debus saat ini sudah mengalami akulturasi dengan tradisi lokal lainnya yang ada di Banten dan unsur-unsur lokal dari Pra-Islam. Sehingga dengan proses akulturasi tersebut, maka terkadang sulit untuk membedakan secara tegas antara ritual tarekat di satu sisi dan ritual debus hasil adopsi tradisi lokal di sisi lain.

Dengan mengalami akulturasi, kesenian debus dengan tradisi lokal bahkan teknologi modern, maka secara tanpa disengaja, kesenian ini pun mengalami penyusutan kemurniannya, atau dengan kata lain, debus sudah mengalami pergeseran.

Namun, adaptasi Islam dengan budaya lokal yang terdapat pada debus tersebut sebagai sesuatu yang tak terhindarkan agar Islam diterima mayoritas penduduk lokal, namun adaptasi tersebut sering menimbulkan ketegangan-ketegangan antara keharusan untuk mempertahankan ontentisitas Islam dengan kebutuhan-kebutuhan praktis dan populer yang telah dianut secara luas oleh masyarakat lokal di Indonesia. Khususnya tanpa menghilangkan beberapa pengecualian tentang proses penyebaran Islam di Indonesia, namun secara umum proses Islamisasi di Indonsia berlangsung secara damai.

Karena itu, masyarakat Indonesia merupakan satu dari sedikit wilayah di dunia yang mengalami proses Islamisasi penduduknya tanpa kekuatan militer. Islam menyebar ke sejumlah wilayah di Nusantara melalui jalur perdagangan dan jaringan tarekat yang sangat akomodatif terhadap budaya-budaya lokal. Para penyebar sufi-pedagang mempergunakan simbol-simbol budaya dan pranata sosial lokal yang telah ada untuk menghadirkan Islam di tengah kehidupan masyarakat Nusantara.

Dalam legenda para wali sering diceritakan bahwa kemenangan Islam sering dihubungkan dengan keunggulan zikir dan wirid para wali Islam atas jampi atau mantra Hindu-Budha atau animisme. Karena itu banyak orang yang berasumsi bahwa pesatnya perkembangan Islam pada masa-masa awal di Nusantara melalui jalur tarekat, karena ajarannya yang dekat dengan budaya masyarakat Nusantara.

Banyak orang yang masuk tarekat bukan karena untuk meningkatkan kesadaran spiritual mereka dengan mensucikan jiwanya, tetapi mereka mengharapkan mendapat “ilmu” yang kuat, yakni kesaktian dan kedigjayaan. Selama ini memang ada beberapa tarekat yang dikenal secara luas oleh masyarakat seperti: Qodiriyah, Rifaiyah dan Sammaniyah, yang mengajarkan amalan atau wirid tertentu untuk praktek-praktek kekebalan tubuh dari benda tajam dan api kepada para muridnya. 

Seni tradisional debus dilakukan melalui berbagai macam atraksi, seperti memecahkan buah kelapa dengan cara dibenturkan ke kepala sendiri, menggoreng telur dan kerupuk di atas kepala, menyayat tubuh dengan senjata tajam, hingga membakar tubuh dengan minyak tanah. Selain itu, kesenian debus dikenal sebagai tradisi yang mengandung unsur mistis dan syarat dengan ajaran spiritual agama.

Hal itu tercermin pada saat sebelum permainan dilakukan, terlebih dahulu dimulai dengan berbagai ritual atau doa, dengan maksud meminta perlindungan dan keselamatan kepada Allāh SWT. 

Dalam sejarahnya, tradisi debus tidak bisa dipisahkan dengan ilmu tarekat yang berkembang di Banten, karena tradisi ini ditengarai bersumber dari ajaran beberapa tarekat. Sultan Hasanudin sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan kesenian ini adalah penganut ajaran Tarikat al-Rifa'iyah sebagaimana juga dianut oleh mayoritas para penyebar agama Islam di Banten.

Keeratan debus dengan tarekat bisa dilihat pada saat akan dimulainya pertunjukan, selalu dimulai dengan membaca shalawat Nabi, doa-doa, dzikir, serta diikuti ritual tertentu yang hampir serupa dengan tradisi tarekat-tarekat yang berkembang di Banten. Diajarkannya wiridan (baca: zikir) yang berasal dari tarekat tertentu dimaksudkan untuk memudahkan hati murid-murid untuk mendapatkan hidayah dari Allāh SWT.

Melalui zikir itu, murid-murid diharapkan bisa sampai kepada tingkatan manusia yang bertaqwa. Apabila seorang murid mampu mengamalkan zikir itu secara istiqamah, dan ia dianggap telah menjadi orang yang bertaqwa, maka murid itu akan memperoleh keajaiban-keajaiban yang secara logika bisa dianggap irrasional, namun secara empirik mengandung fakta yang valid. Apa yang diperoleh oleh seorang murid tersebut dalam istilah tasawuf dikenal dengan karamah. 

Dalam perkembangannya, debus sebagai suatu kesenian tradisional khas Banten menjadi tradisi kesenian keagamaan yang begitu pesat, dan banyak dimainkan oleh masyarakat Banten, bahkan hingga mutakhir ini. Di samping itu, tradisi debus dikenal tidak hanya di provinsi Banten semata, melainkan juga dikenal di banyak daerah di Indonesia.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, kesenian debus digunakan sebagai media penyebaran Islam di kalangan masyarakat Nusantara. Konon, kesenian ini masih ada hubungannya dengan Tarikat al-Rifa'iyah yang dibawa oleh Nuruddin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke 16. Artinya, debus tidak bisa dipisahkan dengan tarekat dan fakta itu juga menunjukkan bahwa debus syarat dengan ajaran-ajaran mistis agama.

Kita tahu, Islam datang dan menyebar di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ajaran mistik, yakni Islam Sufi (tasawuf/tarikat).  Di samping itu, Islam juga diwarnai oleh berbagai aliran, baik dalam bidang aqidah ataupun fiqhiyah. Pengaruh aliran itu sampai sekarang pun masih sangat kental, terutama di Banten. 

Corak Islam Nusantara itu tak lepas dari pengaruh intelektual muslim nusantara yang belajar ke Tanah Arab. Sekalipun pada saat itu pengawasan kolonial begitu ketat, namun tidak sedikit ulama-ulama Indonesia, termasuk ulama Banten yang menempuh pendidikan di Tanah Arab. Seperti halnya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Tanara, putra asli Banten yang belajar dan mengajar di kota suci, Makkah. 

Pemikiran Islam khas Nusantara, khususnya di Banten saat itu berkiblat kepada pemikiran Ki Nawawi (sebutan akrab Syekh Muhammad Nawawi), baik pemikiran tafsir, fikih, maupun tasawuf. Karena dianggap sebagai ulama intelektual yang memiliki keluasan dan kedalam ilmu agama, Syekh Nawawi memperoleh gelar Al-'Allamah (Orang yang sangat mendalam pengetahuannya tentang agama). 

Kitab-kitab yang telah ditulis dan diterbitkan Syekh Nawawi kurang lebih sekitar 150 kitab yang berisi pokok-pokok pikirannya dalam berbagai disiplin ilmu. Ketika Syekh Nawawi berkunjung ke Mesir, ia memperoleh gelar Sayyid 'Ulama al-Hijaz (tokoh/penghulu ulama Hijaz) yang diberikan langsung oleh ulama-ulama Mesir. Meskipun Ki Nawawi telah meninggal dunia, setiap tahun pada tanggal 25 Syawal, kewafatannya selalu diperingati oleh keluarga dan masyarakat Banten di tempat kelahirannya, Tanara. 

Selain Kiai Nawawi, ulama Banten yang juga memiliki keluasan intelektual adalah Kiai Abdul-Karim (Paman Kiai Nawawi), yang dikenal sebagai ulama yang mengembangkan tarikat Qadiriyah - Naqsyabandiyah di Banten. Ia telah melahirkan banyak murid-murid yang bertebaran di Banten, dan tidak sedikit para muridnya menjadi ahli tarikat yang mengembangkan ilmu hikmat melalui tradisi debus.

Pengaruh tarekat juga merambah dalam dunia politik, di mana ketika meletus perang Cilegon pada tahun 1888, yang pelopori oleh K.H.Wasyid dkk, semangat perang itu dijiwai oleh ajaran tarikat yang dikembangkan oleh Kiai Abdul-Karim . Hanya bermodal parang dan golok yang diberi sugesti melalui amalan-amalan, serta wirid oleh ahli tarikat yang mengembangkan ilmu hikmah, mereka mampu melawan Belanda yang pada saat itu sudah mempunyai peralatan modern yang canggih seperti tank, bedil dan mesin. Meskipun demikian, perlawan Kiai Wasyid mampu dipukul mundur oleh kompeni.

Dalam kesenian debus saat ini banyak sekali pergeseran, tidak hanya terjadi pada pergeseran dari segi ritual, pertunjukan atau perekrutan saja, pergeseran itu juga terjadi pada segi tujuan permainan debus. Pergeseran ini adalah sebuah kelanjutan dari adanya pergeseran-pergeseran debus di atas.

Kesenian debus saat ini sudah mengalami pergeseran dari segi tujuannya dengan debus tempo dulu. Sekarang, meskipun padepokan debus tumbuh menjamur di mana-mana— baik itu di sekitar Banten sendiri maupun luar Banten—akan tetapi semuanya lebih menekankan pada orientasi hiburan daripada tarekat murni Hubungan antara tarekat dan debus saat ini sudah renggang bahkan bisa dikatakan cerai atau terputus karena debus sudah beralih orientasi menjadi hiburan yang mendatangkan uang dan aset pariwisata yang layak jual. 

Bahkan sungguh ironi, ketika penelitian lapangan dan tulisan ini hadir, banyak di antara para guru debus atau para pemain debus yang tidak mengetahui atau paham kalau sebenarnya kesenian yang mereka pelajari selama ini berasal dari tarekat.

Pengirim: Syarifaeni Fahdiah, M Hum, Ketua Umum Forum Silaturahmi Alumni Madrasah Masyariqul Anwar (FORSAMMA) dan Pengurus KOHATI PB HMI 2018-2020

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA