Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Psikolog: Cross-Dressing tidak Sama dengan Transgender

Rabu 16 Oct 2019 07:03 WIB

Red: Nora Azizah

Penampilan Harry Styles dalam ajang Met Gala 2019

Penampilan Harry Styles dalam ajang Met Gala 2019

Foto: Youtube
Orang yang melakukan cross-dressing memiliki beragam tujuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu selebriti internasional yang pernah terlihat beberapa kali melakukan cross-dressing adalah salah satu anggota dari grup vokal OneDirection, Harry Styles. Dia pernah mengenakan jumpsuit wanita berwarna hitam yang dihiasi renda serta frills, pada ajang MetGala 2019.

Baca Juga

Styles melengkapi penampilannya kala itu, dengan giwang mutiara pada telinga kanannya. Sontak penampilannya ini mendapat beragam tanggapan dari netizen di seluruh dunia.

Menurut Psikolog, cross-dressing merupakan aksi mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelamin bawaan lahir. Hal ini adalah salah satu jenis perilaku yang menyimpang.

"Perilaku ini kalau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan transvetisisme yakni perilaku yang sering kali dianggap sebagai suatu penyimpangan yang merupakan gangguan kejiwaan karena adanya keinginan dari seorang laki-laki atau perempuan yang mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh jenis kelamin sebaliknya," kata psikolog klinis dari RSUD Wangaya, Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari, belum lama ini.

Biasanya, kata Nena, perilaku transvetisisme berawal dari riwayat seseorang merasa tidak nyaman dengan identitas seksual yang dia miliki. Latar belakangnya biasanya akibat adanya trauma di masa lalu.

"Bisa jadi dia dulu mengalami pelecehan seksual sehingga dia merasa kalau memakai baju sebaliknya dia akan merasa nyaman," katanya.

Istilah cross-dressing tak sama dengan kondisi transgender. Seseorang yang melakukan cross-dressing disebut Nena bisa saja memiliki tujuan beragam, mulai dari penyamaran untuk melakukan tindakan kriminal, hiburan, atau ekspresi diri hingga mendapat kepuasan seksual.

"Transvetisme orientasi seksualnya sama dengan jenis kelamin yang dia miliki. Kalau transgender orientasi seksual dia berbeda dari jenis kelaminnya dan biasanya benar-benar tak mau kembali ke jenis kelamin yang dulu sampai dia melakukan transformasi misalnya dengan terapi hormon atau operasi kelamin," katanya.

Jika bertemu dengan orang dengan perilaku transvetisme, Nena menyarankan agar tidak panik. Bisa saja orang yang mengenakan pakaian layaknya wanita atau pria tersebut memiliki niat jahat yang bisa membahayakan.

"Kita tidak pernah tahu orang itu niatnya apa, apakah gangguan jiwa murni atau kenapa. Kalau bertemu jangan panik. Tenang saja. Segera pergi dari lokasi itu pelan-pelan dan langsung lapor pada yang berwajib. Masalahnya kita tidak pernah tahu apa motif mereka kan. Bisa saja mereka punya niat kriminal, kalau kita panik teriak-teriak dia bisa kalap yang tadinya cuma mau ambil dompet bisa saja membacok atau apa. Atau orang itu adalah ekshibisionis, di mana kalau kita bereaksi dengan perilakunya dia justru akan terpuaskan," kata Nena.

Sementara, lanjut Nena, jika transvestisme masih di ranah yang tepat, misalnya dalam dunia fashion di mana dikenal dengan jenis fashion androgini, maka hal tersebut masih bisa diterima.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA