Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Arief Yahya: Pariwisata akan Jadi Penyumbang Devisa Terbesar

Rabu 16 Okt 2019 08:50 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Sejumlah wisatawan mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (30/8/2019). Pemerintah menetapkan empat prioritas destinasi wisata, salah satunya Borobudur di Magelang, untuk manggaet wisman demi meningkatkan devisa dari sektor pariwisata.

Sejumlah wisatawan mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (30/8/2019). Pemerintah menetapkan empat prioritas destinasi wisata, salah satunya Borobudur di Magelang, untuk manggaet wisman demi meningkatkan devisa dari sektor pariwisata.

Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Selama empat tahun terakhir sektor pariwisata Indonesia berkembang signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pariwisata, Arief Yahya meyakinkan bahwa sektor pariwisata diproyeksikan akan menjadi core economy dan penyumbang devisa terbesar di Indonesia dalam lima tahun kedepan. Saat ini, kata dia, sektor pariwisata telah ditetapkan sebagai sektor unggulan penyumbang ekonomi nasional oleh pemerintah melampaui komoditas minyak sawit atau crude palm oil (CPO). 

Baca Juga

Selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, sektor pariwisata dapat berkembang signifikan. “Saya optimistis tahun ini dan lima tahun ke depan, industri pariwisata menjadi salah satu yang menyumbangkan devisa terbesar, mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar 20 miliar dolar AS,” kata Arief dalam keterangannya, Selasa (16/10).

Indonesia memiliki ribuan destinasi, baik yang tekah populer maupun yang masih belum digarap optimal. Di tengah pembangunan infrastruktur yang terus berhalan, pemerintah yakin pariwisata akan menjadi andalan baru bagi pemasukan negara.

Arief mengatakan, berdasarkan data World Travel & Tourism Council, pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat tumbuh dengan menempati peringkat ke-9 di dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara.

Indeks daya saing pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan. Peringkat Indonesia naik 8 poin dari 50 pada 2015, ke peringkat 42 pada 2017. “Persaingan sekarang ini bukan soal yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi siapa yang tercepat. Kita bisa melampaui negara-negara pesaing kita di Asia Tenggara,” ujarnya.

Pada 2017, kata Menpar, pertumbuhan sektor pariwisata melaju pesat sebesar 22 persen, menempati peringkat kedua setelah Vietnam (29 persen). Sementara Malaysia tumbuh 4 persen, Singapura 5,7 persen, dan Thailand 8,7 persen. Di tahun yang sama, rata-rata pertumbuhan sektor pariwisata di dunia 6,4 persen dan 7 persen di ASEAN.

“Vietnam lebih tinggi karena mereka melakukan deregulasi besar-besaran. Jadi, Vietnam saat ini adalah turis and investor darling,” katanya.

Sampai Agustus 2018, jumlah wisman mencapai 10,58 juta. Wisatawan nusantara juga terus naik. Sejak 2015 sebanyak 256 juta, tahun 2016 berkembang lagi menjadi 264,33 juta, dan tahun 2017 meningkat menjadi 270,82 juta.

Sementara itu, sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari 12,2 miliar dolar AS pada 2015, menjadi 13,4 miliar dolar AS di 2016, dan naik lagi menjadi 15,24 miliar dolar AS pada 2017. Pada 2018 ditargetkan meraup devisa 19,29 miliar dolar AS serta pada 2019 dibidik menyumbang devisa nomor 1 mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar 20 miliar dolar AS.

Gubernur Jawa Tengah menambahlan, infrastruktur pariwisata daerah memegang peran penting agar wisatawan yang datang merasa nyaman dan tidak kecewa saat berkunjung. “Jateng sendiri tengah mempersiapkan Jalan Tol Solo - Yogyakarta, sehingga tidak macet lagi. Kita sedang siapkan dan tahun ini sudah berjalan,” katanya.

Sementara itu, Tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Pariwisata Irfan Wahid menjelaskan, formula baru “storynomics tourism” bakal digunakan untuk mengakselerasi percepatan pembangunan wisata di lima kawasan destinasi super prioritas.

Irfan mencontohkan, kisah-kisah dari kawasan Danau Toba sejatinya begitu banyak namun tak pernah digarap dengan benar-benar optimal. ”Kita memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan alam yang begitu banyak namun masih sangat minim informasi maupun konten yang menceritakan tentang hal-hal tersebut. Seperti contohnya yang kita alami selama berada di Toba,” katanya.

Ia menilai diperlukan pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA