Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Merangkum Kisah 29 Tokoh Perempuan Nusantara

Selasa 15 Oct 2019 16:10 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Karta Raharja Ucu

Kegiatan diskusi buku Perempuan-perempuan Menggugat di Universitas  Negeri Malang (UM).

Kegiatan diskusi buku Perempuan-perempuan Menggugat di Universitas Negeri Malang (UM).

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Kisah 29 tokoh perempuan itu terangkum dalam Perempuan-Perempuan Menggugat

REPUBLIKA.CO.ID, Isu perempuan bukan hal baru bagi Esthi Susanti Hudiono. Penulis buku Perempuan-perempuan Menggugat ini telah 30 tahun menekatkan diri sebagai aktivis perempuan. Keterlibatannya tidak lepas dari kondisi diskriminasi yang banyak dialami perempuan di Indonesia.

Berkat pengalaman tersebut, maka wajar apabila dirinya berkeinginan untuk berbagi cerita. Hal ini terutama tentang kisah-kisah perempuan di Nusantara. Tidak hanya perempuan di era kini, tapi juga masa lampau.

Kehadiran buku Perempuan-perempuan Menggugat sebenarnya bukan rencana awal dari Esthi. Mulanya, dia hanya ingin mengadakan pameran tunggal lukisan Seruni Bodjawati. Namun berkat saran dari berbagai pihak, dia pun menuliskan sekilas narasi dari tokoh-tokoh lukisan tersebut.

Dengan melakukan riset dan masukan dari berbagai pakar, Esthi pun berhasil menuliskan narasi 29 tokoh perempuan Nusantara. Riset dengan pengumpulan data dari berbagai sumber dilakukannya selama 19 bulan kerja. Kemudian narasi-narasi tersebut dilengkapi dengan 26 lukisan apik dari Seruni Bodjawati. 

Tokoh-tokoh perempuan yang tertulis dalam bukunya berasal dari berbagai zaman. Mereka hidup dari sebelum masa penjajahan hingga kini. Atau, lebih tepatnya tokoh-tokoh tersebut hidup dalam rentang waktu dari 833 hingga 2019.

Pemilihan 29 tokoh perempuan Nusantara dilatarbelakangi berbagai kriteria. Beberapa di antaranya seperti kesetaraan geografi, etnis, zaman, kelas sosial ekonomi dan profesi. Hal yang pasti, Esthi memilih tokoh-tokoh tersebut karena dianggap mampu menjadi agen perubahan atas struktur kehidupan.

Di dalam menulis 29 tokoh ini, Esthi memastikan, tidak ada prasangka gugatan terhadap laki-laki. Ia juga menghilangkan kemarahan pribadi dalam mengkritisi struktur kehidupan di masyarakat.

"Tidak boleh ada amarah dan emosi negatif. Harus kosong dalam menghadapi masalah secara betul," ucap Esthi di Universitas Negeri Malang (UM), belum lama ini.

photo
Kegiatan diskusi buku Perempuan-perempuan Menggugat di Universitas Negeri Malang (UM).

Pada 29 tokoh yang tertulis, terdapat satu sosok perempuan keturunan Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Dia adalah Laksamana Malahayati, perempuan yang hidup dari 1560 hingga 1607 Masehi. Seorang panglima perang perempuan yang mampu mengalahkan Cornelis de Houtman.

Memang tak banyak yang tahu tentang sosok Laksamana Malahayati. Sebagian besar masyarakat awam, hanya mengetahui sosok Tjut Nyak Dhien sebagai sosok perempuan hebat dari Aceh. Di balik itu semua ternyata ada satu perempuan lainnya yang terlebih dahulu menorehkan sejarah luar biasa di Nusantara ini.

Di dalam narasi, Laksamana Malahayati tertulis sebagai perempuan yang mendapatkan pendidikan militer di akademik Kerajaan Ma'had Baitul Maqdis. Berkat pendidikan dan pelatihan tersebut, dia dipercaya menjadi kepala barisan pegawai Istana, panglima rahasia dan panglima protokol pemerintahan. Ia juga menjadi laksamana mengikuti jejak ayah, kakek dan buyutnya.

Pada teks ini, perjuangan dan kiprah Malahayati melawan penjajah dijelaskan secara sekilas. Beberapa di antaranya kisah bagaimana dia membunuh Cornelis de Houtman dalam duel di atas kapal perang pada 11 September 1599. Dia juga berhasil menangkap dua laksamana dari Belanda pada 1600.

Menariknya lagi, Malahayati disebutkan pernah memimpin 100 kapal perang dan benteng di Teluk Lamreh Kraung Raya. Bahkan, ia menjadi pucuk pimpinan 2.000 pasukan Inong Bale. Pasukan ini terdiri dari para janda martir yang melawan penjajah sebelumnya.

Kisah Malahayati memang begitu ringkas ditulis oleh Esthi. Penulis sengaja memakai konsep ini agar pembaca memiliki rasa keingintahuan kuat untuk mengikutinya lebih dalam dari berbagai sumber lain. Hal yang pasti, Esthi dalam tulisannya selalu menyelipkan narasi reflektif di setiap akhir paragraf.

Di narasi Malahayati, Esthi mencoba membandingkan bagaimana kondisi perempuan di masa lampau dengan kini. Menurutnya, tatanan lama berkonsep matriaki sudah hancur tak berbekas di "Serambi Mekah". Kini perempuan di sana harus mengikuti aturan yang dianggap begitu mengekang hak mereka. 

Selain Laksamana Malahayati, penulis juga menuturkan kisah perempuan Nusantara lainnya. RA Kartini tentu saja menjadi ikon pasti yang tertanam di dalam buku tersebut. Kemudian adapula Inggit Garnasih, NH Dini, Marsinah, Toeti Heraty dan sebagainya. 

Secara keseluruhan, buku Perempuan-perempuan Menggugat mampu memberikan khazanah baru bagi masyarakat awam. Pembaca dapat mengetahui setidaknya sekilas mengenai tokoh-tokoh perempuan Nusantara. Dari informasi sekilas ini, penulis sepertinya ingin memantik pembaca untuk mengetahui dan mencarinya lebih lanjut dari berbagai sumber.

Namun bagi pembaca yang memiliki basis pengetahuan sejarah, buku ini tidak seberapa. Tidak ada hal baru yang membuat mereka terperangah atas isinya. Sebab, penulis hanya menyajikan narasi yang begitu singkat, tanpa penjelasan mendetail. 

Dari sisi tata bahasa dan gaya penulisan, buku Perempuan-perempuan Menggugat sepertinya belum menunjukkan hasil signifikan. Tidak ada sebutan gaya penceritaan yang begitu "mengalir" terhadap buku tersebut. Bahkan, beberapa kali acap menemukan kekeliruan penataan kata dasar yang membuat pembaca mengernyitkan dahi.

Hal yang paling menarik justru pada penyajian goresan lukisan di setiap akhir narasi tokoh. Lukisan tokoh karya Seruni Bodjawati mampu memberikan warna baru pada buku. Penampilan gambar tersebut bisa menjadi poin keunggulan dari buku Perempuan-perempuan Menggugat.

Selain itu, bagian kesimpulan reflektif penulis juga menjadi hal menarik di buku ini. Di bagian tersebut, penulis memaparkan analisa yang ditemukannya dari kisah 29 tokoh. Setidaknya terdapat 23 hal yang diharapkan bisa menjadi bahan refleksi pembaca di era kini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA