Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Menjadi Buzzer Bervisi Akhirat

Selasa 15 Oct 2019 15:37 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Twitter

Twitter

Foto: AP Photo/Richard Drew
Profesi buzzer sebenarnya bisa mendatangkan kebaikan dengan bervisi akhirat

Beberapa tahun belakangan, pekerjaan yang paling banyak dicari, mudah dan penghasilannya menjanjikan adalah buzzer. Kali ini pekerjaan ini sedang mengalami tren. Bagaimana tidak? Gaji yang besarnya fantastis sangat menjanjikan. Hanya bermodal akun media sosial, jari dan HP bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. 

Sesuai laporan dari The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation yang digarap oleh Samantha Bradshaw dan Philip N. Howard, gaji yang didapat berkisar Rp 1 juta hingga Rp 50 juta. Siapa yang tidak ngiler?

Namun, kita sebagai masyarakat yang beriman selayaknya mendetail pekerjaan apa yang ditawarkan sehingga orang berani menggaji begitu besar. Tak cukup kita melihat besar gajinya. Kita pun perlu mengetahui benar jenis pekerjaannya. 

Sebagai seorang buzzer, ia bekerja menyebarkan propaganda. Propaganda inilah yang akan membentuk opini umum. Jika opini umum telah terbentuk, maka masyarakat akan mudah digerakkan oleh orang-orang yang berkepentingan. Masalahnya opini yang telah terbentuk itu benar atau salah?

Jika propaganda yang dilakukan adalah sebuah kebohongan, maka masyarakat akan menerima opini salah. Jika ini diadopsi oleh masyarakat, alhasil informasi yang salah justru akan dianggap benar. Dan sebaliknya yang benar dianggap salah. 

Pekerjaan buzzer yang seperti ini justru akan menjerumuskan banyak orang, dan hal seperti ini harusnya tidak boleh dilakukan. Secara Islam menyebarkan berita bohong berarti sama dengan pembohong. Dan itu tidak diperkenankan.

“Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. An Nur: 7)

Bahkan orang-orang yang berbohong itu termasuk orang-orang munafik. Sebagaimana hadits, “Tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara, ia berbohong. Jika berjanji, ia ingkar. Jika diberi amanat, ia berkhianat.”

Maka sangat rugi jika kita melakukan perbuatan ingkar hanya demi meraih rezeki tidak halal. Apakah rela memberikan makan kepada keluarga dengan rezeki yang tak halal? 

Jikalau ingin bekerja sebagai buzzer, jadilah buzzer yang benar. Menyebarkan propaganda yang benar. Berkata jujur dan untuk tujuan yang benar. Kebenaran mutlak hanya milik Islam. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah: 3

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."

Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah. Sehingga kita hendaknya mengambil Islam sebagai pegangan. Termasuk saat melakukan pekerjaan. Agar kerja kita tidak hanya membuahkan materi, tapi juga pahala sebagai bekal ke Surga. Allah telah menjamin ketika kita mengikuti Rasulullah, keselamatan dunia dan akhirat akan diraih. Sebagaimana dalam  Q.S. Al Anbiya ayat 107

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."

Rosulullah mencontohkan ketika kita memilih pekerjaan dilihat dulu status hukumnya. Apakah halal ataukah haram. Hal ini diikuti oleh para sahabatnya. Bahkan ketika para sahabat mengopinikan Islam dikalangan orang arab, mereka menggunakan cara-cara yang ma'ruf dan tidak berbohong. 

Sebagai contoh, Mus'ab bin Umair seorang pemuda yang cerdas. Ditugaskan oleh Rasulullah menjadi duta Islam di Madinah. Dengan keahliannya menyampaikan Islam, ia mampu membentuk opini di kalangan orang Madinah.

Walaupun di saat itu umat yang masuk Islam baru sekitar 20 persen dari total penduduk Madinah. Tapi Islam telah berhasil masuk pada tiap pintu di sudut-sudut Madinah.

Inilah seharusnya peran pembuat opini umum masyarakat. Dalam hal ini "buzzer". Agar profesi buzzer dapat mendatangkan kebaikan dan bervisi akhirat, maka perannya adalah membentuk opini umum tentang Islam. Bukan malah mendiskreditkan Islam. 

Sehingga masyarakat awam pun memahami bahwa Islam bisa menyelesaikan  segala masalah. Dengan mengambil Islam sebagai sistem kehidupan, meneladani Rasulullah di setiap langkah, maka Allah menjamin kita akan bahagia dunia dan akhirat. Wallahu'alam bishowab.

Pengirim: Henyk Nur Widaryanti

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA