Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

'Industri Mamin Masih Bergantung Bahan Baku Impor'

Senin 14 Oct 2019 19:01 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolanda

Warga memlih makanan dan minuman saat berbelanja di Pasar Swalayan di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/7/2019).

Warga memlih makanan dan minuman saat berbelanja di Pasar Swalayan di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/7/2019).

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Tanpa integrasi industri, pemenuhan bahan baku industri mamin sult dilakukan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menilai kebergantungan bahan baku impor masih menjadi persoalan utama dalam industri makanan dan minuman (mamin) saat ini.

Baca Juga

Adhi menilai perlunya program yang terintegrasi antarkementerian dan lembaga serta percepatan proses pemenuhan bahan baku. "Kemenperin nggak bisa jalan sendiri, kalau hulunya nggak terintegrasi akan sulit," ujar Adhi di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (14/10).

Adhi mendorong pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan kementerian dan lembaga terkait melakukan program yang terintegrasi dalam upaya pemenuhan bahan baku lokal.

"Presiden perlu menetapkan industri ini sebagi lokomotif pertumbuhan maka semua kementerian terkait harus mendukung bersama, jangan sampai hilirasi di Kemenperin, tapi di kementrian lain beda arah," ucap Adhi.

Kurang terintegrasi program telah memakan korban. Adhi menyebut industri Kakao yang sebelumnya unggul kini harus mengimpor bahan baku. Dia juga menyoroti banyaknya regulasi terkait izin impor, mulai dari Susu, Gula, hingga Garam.

"Kalau terintegrasi, daya saing kita akan lebih bagus karena sumber daya Indonesia banyak, tinggal bagaimana kebijakannya," kata Adhi menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA