Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Sepus Marten, Putra Papua Raih Doktor Berpredikat Cumlaude

Senin 14 Okt 2019 18:07 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Dosen Ilmu Kehutanan Universitas Papua, Sepus Marten Fatem, yang sukses meraih doktor dengan cumlaude bidang kehutanan di UGM.

Dosen Ilmu Kehutanan Universitas Papua, Sepus Marten Fatem, yang sukses meraih doktor dengan cumlaude bidang kehutanan di UGM.

Foto: Dokumen.
Setelah ini, Sepus akan banyak mendapat tugas berat untuk mengembangkan Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Salah satu putra Papua, Sepus Marten Fatem, sukses meraih doktor dengan cumlaude bidang kehutanan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dosen Ilmu Kehutanan Universitas Papua sukses menyelesaikan pendidikan doktor dalam 3,8 tahun.

"Lulus dengan predikat cumlaude, dengan begitu promovenduz menjadi doktor ke-94 yang lulus dari Fakultas Kehutanan UGM," kata Ketua Tim Penguji dan dosen Fakultas Kehutanan UGM, Budiadi, Senin (14/10).

Ketua Tim Promotor, San Afri Awang mengatakan, Sepus Marten Fatem mendapat gelar akademik tertinggi dari Fakultas Kehutanan UGM. Maka itu, ia berharap, ilmu pengetahuan yang didapat bisa dimanfaatkan.

Utamanya, untuk pengambilan kebijakan pembangunan di Papua. San berpesan, setelah ini Sepus akan banyak mendapat tugas berat untuk mengembangkan Papua dan dimulai dari segala sisi.

"Bangunlah Papua dengan hati nurani untuk melindungi kepentingan orang asli Papua," ujar Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM tersebut.

Sepus mengusung disertasi berjudul 'Konstruksi Konservasi Kabupaten Tambrauw: Kontestasi Aktor, Peran Power, Biofisik dan Adaptasi'. Terlebih, sejak pemekaran 2008 dan 2013 seluas 11.373,96 kilometer persegi.

Sekitar 80 persen adminsitrasi pemerintahan mencakup hutan konservasi dan hutan lindung. Status hampir semua hutan lindung dan konservasi, beberapa pola konservasi tradisional alam masyarakat asli Papu masih dipertahankan.

"Ada lima komunitas besar atau lima suku besar yang masih menjadikan kawasan hutan untuk adat, beberapa lokasi dijadikan daerah leluhur, sehingga wajib dijaga," kata Sepus.

Konsep kabupaten konservasi dimaknai kegiatan pemerintahan menggelar pembangunan berasas pemanfaatan berkelanjutan. Serta, perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Menurut Sepus, pemerintah kabupaten perlu mendorong usaha perubahan tata kelola. Utamanya, sebagai perwujudan implementasi kabupaten konservasi yang mengedepankan konservasi sebagai domain pembangunan secara kolektif.

Lalu, pemkab dan pemda dirasa perlu meningkatkan program-program pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis unggulan spesifik lokal. Salah satunya melalui penataan fokus implementasi kabupaten konservasi. "Dan pengembngan destinasi wisata sebagai sektor primer pembangunan," ujarnya.

Ia mengusulkan dilakukan peninjauan kembali rencana pembangunan tata ruang. Tujuannya, agar proses rasionalisasi fungsi hutan dan kawasan mendukung pembangunan kabupaten ini sebagai kabupaten konservasi.

"Minimal 70 persen kawasan lindung darat, pesisir dan laut tetap dipertahankan," kata Sepus.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA