Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Apa Rahasia Kesalihan Harun Ar-Rasyid?

Senin 14 Oct 2019 15:14 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Infografis Sensus Peradaban Islam

Infografis Sensus Peradaban Islam

Foto: Infografis Republika
Kesalihan Harun Ar-Rasyid berasal dari sokongan masyarakat dan negara

Siapa yang tidak mengenal sosok Harun Ar-Rasyid? Salah satu dari sekian banyak deretan nama yang menorehkan tinta emas dan mewarnai wajah sejarah peradaban Islam. Ya, betul. Beliau adalah “Harun bin Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bin Abbas”. Khalifah ke lima Daulah Abbasiyah. Ayah beliau bernama Abdillah Muhammad Al-Mahdi, Ibu beliau bernama Jurasiyah (Khayruzan). Beliau lahir di awal masa keemasan Daulah Abbasiyah 148 H. Semenjak kecil, beliau sudah dikaruniai keistimewaan dari Allah berupa wajah yang indah, kecerdasan yang besar, dorongan yang besar untuk belajar.

Masa kecil harun Ar-Rasyid tidak seperti kebanyakan anak-anak lain di dunia ini. Beliau ditunggu oleh hal-hal yang besar, tanggung jawab yang besar. Oleh karena itu sejak kecil ayahnya mempersiapkan putranya untuk tugas yang besar, yakni menjadi pemimpin bagi kaum muslimin.

Ketika anak-anak kecil sedang bermain dan bersenang-senang, Harun Ar-Rasyid justru menyibukkan dirinya untuk belajar militer, beliau belajar seni bela diri dari tokoh-tokoh hebat, seperti: Yahya bin Khalid Al Barmaki, Rabi’ bin Yunus, Yazid bin Mazid, Asy-Syaibani, Hasan bin Quhtubati, At-Thoi, Yazid bin Asid As-Salimi. Beliau terus belajar hingga menjadi sosok ksatria yang kuat dan berani menguasai seni perang dan strateginya.

Tidak hanya menyibukkan dalam hal bela diri, Harun muda menimba ilmu dari para ulama, diundanglah guru syair, guru fiqh, guru Al Qur’an, hakim, penulis, musisi. Beliau sangat ta’dzim kepada guru-guru beliau. Banyak sekali ulama-ulama besar yang hidup di fase ini, seperti Abdullah bin Mubarak, Layis bin Sa’ad, Malik bin Anas, Sibaweh, Muhammad bin Hasan, Sahabat Abu Hanifah (Abu Yusuf)

Masa keemasan ini mencapai puncaknya ketika dipimpin oleh Harun Ar-Rasyid. Harun yang sejak kecil mencintai ilmu pengetahuan tidak ingin ketinggalan mentransfer pengetahuan tersebut kepada seluruh kaum muslimin.

Tidak tanggung-tanggung, beliau memfasilitasi rakyatnya dengan mendirikan Baitul Hikmah, menyediakan banyak buku dari seluruh penjuru dunia. Di dalam perpustakaan itu terdapat aula membentang yang berisi kamar-kamar yang bisa digunakan untuk konsultasi, beberapa kamarnya di khususkan untuk kuliah. Dari sinilah mercusuar ilmu itu mulai terpancar.

Kehidupan Harun diwarnai dengan jihad fi sabilillah, terlebih ketika beliau menjadi khalifah. Terdapat tulisan di lilitan sorban yang beliau pakai di atas kepala bertuliskan “غازٍ حاجاً”. Beliau berjanji untuk menegakkan kalimatullah dan menghilangkan segala ancaman di wilayah Daulah Abbasiyah.

Beliau menolak untuk lemah dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Setiap kali beliau mendengar hadis Rasulullah “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggamannya sesungguhnya aku sangat senang berperang di jalan Allah hingga aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi hingga aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi hingga aku terbunuh” beliau menangis tersedu-sedu dengan kencang.

Diawali dari kisah kaisar wanita Bizantium yang bernama Ratu Irene. Wilayah Bizantium sukses dikepung oleh Harun Ar-Rasyid. Sang panglima, Harun al Rasyid menerima tawaran perdamaian dari Irene dengan syarat Bizantium membayar upeti secara rutin setiap tahunnya.

Pengepungan Konstantinopel terjadi saat musim dingin, dan utusan Irene datang menghadap sang panglima. “Ratu banyak mendengar tentang kehebatan anda sebagai seorang Jendral. Sekalipun engkau musuhnya, ia memujimu sebagai seorang ksatria.”

Harun tergugah dengan bahasa sang ratu, “Katakan pada ratumu bahwa aku akan melepaskan Konstantinopel dengan syarat ia mengirimkan upeti tahunan sebesar 70.000 koin emas kepadaku. Jika ia menepatinya, aku akan menjamin Konstantinopel tidak akan diganggu oleh serangan muslimin lainnya.” Akhirnya Konstantinopel tidak ditaklukkan pada tahun 798 M, kemilau koin-koin emas berhasil menggusur mujahid ini menjadi sebaik-baik manusia sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Baghdad dan dunia Islam menjadi maju dan megah dengan kekayaan dunia yang menyilaukan mata. Upeti dari Bizantium otomatis mewajibkan Harun untuk melindungi Bizantium dari serangan musuh-musuhnya. Bersamaan dengan pengepungan yang dilakukan Harun, daerah-daerah  seperti atarah, Ancyra, Cyprus dan Kreta kembali ke pangkuan Muslimin.

Ketika Irene wafat, ia digantikan oleh Nicephorus yang naik menjadi Kaisar Bizantium. Nicephorus berhasil naik tahta karena berkonspirasi dengan para uskup untuk menjatuhkan Irene. Nicephorus menolak membayar upeti dan menantang khalifah dengan mengirim sebuah  surat;

Dari Nicephorus, Kaisar Romawi

Kepada Harun Raja Arab,

Sesungguhnya kaisar putri yang berkuasa sebelum aku telah mendudukkan kamu pada posisi burung garuda raksasa, sedangkan dia sendiri menempatkan dirinya sebagai burung elang, sehingga membuatnya membawa harta-hartanya kepadamu.

Ini karena lemahnya seorang wanita dan kebodohannya. Jika kamu selesai membaca surat ini, maka kembalikan semua harta yang telah dia serahkan kepadamu sebelum ini.

Jika tidak, maka pedanglah yang akan bermain untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan kamu!

Selesai mendengar pembacaan surat ini, khalifah menjadi sangat marah.

Orang-orang yang ada di sekitarnya segera mundur dan keluar dari ruangan karena khawatir terkena imbas kemarahan sang khalifah. Ia pun segera menulis surat balasan. Lalu datanglah surat dari khalifah Harun Al-Rasyid, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi.

Aku sudah membaca suratmu, jawabannya akan kamu lihat, bukan kamu dengar. (Dalam Imam as-Suyuthi, Tarikh Khulafa hal.349)

Pada hari itu juga khalifah menggerakkan seluruh mujahidin melakukan long-march ke pusat Bizantium, Konstantinopel. Nicephorus kalah telak, ia mengajukan perdamaian dengan membayar upeti dan membebaskan tawanan Muslim. Harun menerima tawaran Nicephorus.

Pasukan Muslimin pun kembali ke Baghdad, belum lagi sampai ke tujuan, Harun jatuh sakit dalam perjalanan. Mendengar berita sakitnya Harun, Kaisar Kristen ini lagi-lagi mengingkari janjinya. Ia berpikir kaum muslimin tidak akan kembali karena masuk di Musim dingin, tapi dugaannya salah.

Harun tidak mengetahui berita pembangkangan Nicephorus ketika sakit. Setelah sembuh barulah ia mendengar dari syair-syair para penyair, seketika itu ia marah dan memerintahkan untuk kembali menuju Konstantinopel. Ia berkata, “Aku tidak akan meminta jizyah, sampai aku dapat menaklukkan negeriini!” Maka kembalilah lagi Harun  menaklukkan Bizantium. Tahun 181 H (797 M) khalifah mengambil alih Benteng Willow di Cilicia, sembilan tahun berikutnya ia menaklukkan Heraclia, setelah beberapa kali Nicephorus melanggar perjanjian.

Benteng pertama yang diserbu Muslimin adalah Benteng Harqalah. Abu  Ishaq al Fazari,  penasihat Harun, berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Harqalah ini adalah salah satu benteng terbesar dan terkuat dari benteng-benteng yang dimiliki musuh, dan kita tidak akan mampu menaklukkkannya kecuali setelah usaha yang sangat keras. Jikalau Anda berusaha untuk menaklukkannya, maka pasukan kaum Muslimin tidak mencukupi. Akan tetapi jika Anda tidak berusaha menaklukkan Harqalah, maka hal ini merupakan kehinaan atas agama kita, mengurangi kekuasaan Anda dan menjadi aib bagi seluruh Muslimin.” Khalifah Harun lantas mempersiapkan banyak manjanik dan puluhan ribu kavaleri kuda sehingga penyerangan Benteng Harqalah pun berhasil.

Di sisi lain, bagian Eropa kaisar eropa Charlemagne pun juga menyadari kehadiran Daulah Abbasiyah di kancah perpolitikan dunia, beliau berniat menjalin kerjasama dengan Harun Ar-Rasyid. Maka dikirimnya tiga orang utusan kepada Harun Ar-Rasyid. Berbagai macam hadiah mewah diberikan cuma-cuma oleh Harun yaitu pahatan gading gajah raksasa, kain mewah, lilin, jam perunggu berlapis emas yang dibuat di Baghdad. Ketika jam dua belas siang, terdapat ksatria yang keluar dari jendela. Mereka pikir ada sihir di dalamnya.

Seorang sejarawan barat Philip K. Hitti mengatakan, “Begitu jauhnya jarak peradaban antara Muslimin dan Eropa saat itu, sehingga ketika Khalifah Harun mengirimkan hadiah jam kepada Kaisar Charlemagne, orang-orang Eropa ketakutan karena mengira jam itu digerakkan oleh jin-jin.”

Al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan dalam Tarikh Baghdad, “Sebagian sahabat Harun bercerita bahwa ia shalat setiap hari sebanyak 100 rakaat. Hal itu ia lakukan dengan istiqomah hingga wafat. Kecuali ada sebab yang menghalanginya.

Ia bersedekah dengan mendermakan 1000 dirham setiap hari. Apabila ia menunaikan haji, turut serta bersamanya 100 ahli fikih (ulama) dan anak-anak mereka. Jika ia tidak berhaji, maka ia menghajikan 300 orang dengan bekal baju besi, kiswah, dan yang lainnya.” (Tarikh Baghdad Bab al-Ha-u)

Al-Mas’udi mencatat tahun-tahun dimana Harun al-Rasyid menunaikan ibadah haji. Dari catatannya Harun al-Rasyid berhaji pada tahun 170, 173, 174, 175, 176, 177, 178, 179, 181, 186, dan 188 H. Adz-Dzahabi mengatakan dalam Tarikhnya, “Tahun 179, Harun al-Rasyid berumrah di bulan Ramadhan. Ia senantiasa dalam ihramnya hingga musim haji tiba. Ia berjalan dari rumahnya menuju Arafah.” (Siyar A’lam Nubala, Juz: 7 al-Rasyid).

Salihnya Khalifah Harun Ar-Rasyid bukan hasil jerih payahnya sendiri melainkan disupport oleh masyarakat dan negara. Tidak heran jika banyak ulama hebat pada saat itu. Sebab para Ibunda mereka hidup dengan visi yang jelas, sehingga Ibunda tahu bagaimana anak harus di didik, kemana sang anak harus di arahkan. Tidak ada lagi judulnya krisis multidimensi pada pemuda atau istilah generasi strawberry yang menggambarkan penampakkan pemuda yang indah dari luar tapi rapuh di dalamnya.

Pengirim: Putri Hanifah, Mahasiswi Sastra Arab Universitas Negeri Malang, Fasilitator Rumah Tahfidz Balita dan Anak

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA