Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Iwan Fals Perlu Bikin Lagu Baru Ethiopia

Senin 14 Oct 2019 05:57 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
PM Ethiopia Abiy Ahmed Ali raih Nobel Perdamaian.

REPUBLIKA.CO.ID,

Baca Juga

Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Kekeringan, kelaparan, dan kematian yang sangat mengerikan! Inilah mungkin yang kita ingat bila disebut tentang Etiopia, sebuah negara di Afrika. Ingatan itu terbentuk sejak Iwan Fals mengumandangkan lagu "Ethiopia", yang menjadi hit saat itu. Mari kita simak lirik lagu yang dirilis pada 1986 berikut ini.

Dengar rintihan berjuta kepala

Waktu lapar menggila
Hamparan manusia tunggu mati

Nyawa tak ada arti
Kering-kerontang meradang

Entah sampai kapan
Datang tikam nurani

Selaksa doa penjuru dunia
Mengapa tak rubah bencana

Menjerit Afrika
Mengerang Ethiopia…

Derap langkah sang penggali kubur
Angkat yang mati dengan kelingking

Parade murka bocah petaka
Tak akan lenyap kian menggema

Napas orang-orang di sana
Merobek telinga

Telanjangi kita…
Lalat-lalat berdansa cha-cha-cha

Berebut makan dengan mereka
Tangis bayi di tetek ibunya

Keringkan air mata dunia
Obrolan kita di meja makan

Tentang mereka yang kelaparan
Lihat sekarat di layar TV

Antar kita pergi ke alam mimpi
Ethiopia, Ethiopia…


Derita warga Etiopia itu tidak hanya disebabkan oleh kekeringan alam tetapi juga akibat olah dan perbuatan kerdil manusia. Kudeta, pemberontakan, saling sikut kekuasaan, dan perebutan pengaruh antarsuku merupakan hal lumrah di negara yang terkurung daratan di Tanduk Afrika ini. Belum lagi konflik bersenjata dengan beberapa negara tetangga--Djibuti dan Somalia di timur, Eriteria di utara, Sudan di barat laut, Sudan Selatan di barat, dan Kenya di barat daya.

Akibat dari semua itu, rakyat Ethopia pun seperti didendangkan Iwan Fals tadi. Pendek kata, bila kita ingin membayangkan kehidupan di neraka, ya Etiopia itulah neraka. Neraka adalah Etiopia.

Namun, itu dulu. Waktu Etiopia didendangkan Iwan Fals, sekitar 30 tahun lalu, saat Etiopia masih menjadi negara sosialis yang pro Uni Soviet. Kini Etiopia telah berubah. Negara berpenduduk terbesar kedua di Afrika--setelah Nigeria--itu kini sedang menyongsong pembangunan berkemajuan dalam segala bidang.

Bahkan, Etiopia kini merupakan salah satu negara paling cepat pertumbuhan ekonominya di Afrika. Rata-rata tumbuh 8 persen setiap tahun. Mereka fokus pada transformasi pertanian dengan mengandalkan produk kopi, kacang, biji-bijian, buah, dan sayuran--paprika, labu, dan kol--juga pisang, kapas, gandum, sorgum, jagung, dan daun khat (qat) yang dipakai bahan obat-obatan.

Semua produk pertanian ini dikelola secara modern, tanpa meninggalkan cara-cara petani tradisional di kampung-kampung. Hasil pertanian ini selain untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri justru lebih banyak diekspor sebagai pendaptan negara.

Adalah Abiy Ahmed Ali, 43 tahun, yang berandil besar mengubah Etiopia, terutama dalam satu setengah tahun terakhir sejak ia terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) Etiopia pada Maret 2018.

Jumat (11/10) lalu, Komite Nobel Norwegia mengumumkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini diberikan kepada Abiy. Ia dinilai laik menerima penghargaan tinggi itu atas jasanya menciptakan perdamaian di Benua Afrika dan melakukan perbaikan mendasar di negaranya.

"Abiy Ahmed telah berhasil mempromosikan rekonsiliasi, solidaritas, dan keadilan sosial," ujar Berit Reiss-Andersen, Ketua Komite Nobel Norwegia, di Oslo, tiga hari lalu. "Upaya Abiy laik diakui dan didukung."

Abiy Ahmed lahir di Jima Zone, Etiopia selatan, 15 Agustus 1976. Ayahnya Muslim, sedangkan ibunya Kristen. Perjalanan hidupnya lengkap; akademisi, tentara, dan politisi. Sebagai akademisi, ia mengantongi sejumlah gelar; master dalam kepemimpinan transformasional dari Universitas Greenwich (London) dan master lain dalam administrasi bisnis. Lalu, gelar doktor ia peroleh dari Institut Studi Keamanan dan Perdamaian di Universitas Addis Ababa.

Di militer, pangkat terakhirnya letnan kolonel dengan spesialisasi intelijen dan komunikasi. Ia pernah menjadi bagian pasukan perdamaian PBB di Rwanda.

Pada 2001 Abiy memasuki dunia politik dengan menjadi anggota Oromo People's Democratic Organization. Ia kemudian terpilih menjadi anggota parlemen. Ketika itulah kemampuannya sebagai juru runding teruji, saat terjadi bentrokan antara Muslim dan Kristen. Gagasannya membentuk "Forum Keagamaan bagi Perdamian" kemudian berhasil meredam gesekan antarumat beragama ini.

Sejak terpilih menjadi PM--menyusul pengunduran diri PM sebelumnya, Hailemariam Desalegn--Abiy melakukan serangkain reformasi dan perubahan mendasar bagi negara berpenduduk sekitar 100 juta jiwa ini. Keadaan darurat ia hapus dan tahanan politik ia bebaskan, termasuk para jurnalis yang dipenjarakan.

Ia berdialog dengan kelompok-kelompok oposisi dan masyarakat sipil untuk membahas reformasi politik secara menyeluruh. Orang-orang yang pernah dituduh sebagai pembangkang yang tinggal di luar negeri diajak untuk pulang. Ia juga memastikan keadilan dan supremasi hukum bagi semua pihak.

Terkait dengan perempuan, pemerintahan Abiy mengadopsi kebijakan persamaan gender. Ia pun memilih separuh anggota kabinetnya dari perempuan. Di antaranya ia menunjuk seorang perempuan sebagai menteri pertahanan untuk kali pertama dalam sejarah negara itu.

Ia juga mengurangi jumlah kementerian, dari 28 menjadi 20 kementerian. Dari jumlah ini termasuk sebuah kementerian baru, yaitu Kementerian Perdamaian.

Abiy juga telah mengadopsi sejumlah inisiatif pembangunan global dengan program tanam 350 juta pohon dalam satu hari pada Agustus lalu. Agar program itu berhasil, ia melibatkan seluruh pegawai negeri, polisi, dan tentara ikut turun ke lapangan membantu warga untuk menanam. Bibit tanaman disediakan pemerintah.

Untuk menciptakan perdamaian dengan negara tetangga, Abiy menginisiasi pembicaraan dengan Presiden Eritrea Isaias Afewerki guna mengakhiri konflik dua negara yang telah berlangsung selama dua dekade. Setelah melalui beberapa kali pertemuan, perdamaian akhirnya ditandatangani oleh pemimpin dua negara pada September 2018.

Konflik Etiopia-Eritrea meletus pada 1998. Keduanya memperebutkan sebuah wilayah di perbatasan dua negara. Akibat konflik, 80 ribu nyawa warga melayang dan lebih dari setengah juta penduduk dari dua negara mengungsi.

Dengan adanya kesepakatan damai, jaringan jalan dan transportasi antarkedua negara kini telah beroperasi kembali. Perdagangan juga berkembang setelah pembatasan pertukaran barang dan uang dicabut. Jaringan telekomunikasi pun kembali bekerja.

Kesepakatan itu juga sangat menguntungkan bagi Eritrea. Dewan Keamanan PBB telah setuju untuk mencabut sanksi terhadap negara itu. Embargo senjata pun telah dicabut. Begitu juga dengan properti yang telah dibekukan.

Selanjutnya, Abiy Ahmed juga mempunyai peran penting untuk menciptakan perdamaian di Sudan. Ia telah berhasil memediasi perundingan Dewan Transisi Militer dengan Koalisi Kebebasan dan Perubahan, yang memungkinkan transisi Sudan menjadi negara demokrasi pascatergulingya Presiden Omar Bashir yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Peran penting Abiy ini juga telah memungkinkan kerja sama yang lebih erat antara Etiopia dan Sudan dalam berbagai bidang.

Lagu "Ethiopia" Iwan Fals lebih dari 30 tahun lalu tampaknya hanya tinggal kenangan, menadi saksi sejarah Etiopia masa lalu ketika negara itu mengalami kekeringan, kelaparan, dan kematian mengenaskan. Ada baiknya bila Iwan Fals membuat lagu baru tentang Ethiopia kini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA