Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Erdogan Ancam Kirim Pengungsi ke Eropa

Jumat 11 Oct 2019 16:51 WIB

Red: Budi Raharjo

Foto yang diambil dari sisi Turki di perbatasan Turki-Suriah di Akcakale, Provinsi Sanliurfa menunjukkan asap membumbung usai serangan militer Turki, Kamis (10/10).

Foto yang diambil dari sisi Turki di perbatasan Turki-Suriah di Akcakale, Provinsi Sanliurfa menunjukkan asap membumbung usai serangan militer Turki, Kamis (10/10).

Foto: AP Photo/Lefteris Pitarakis
Turki ingin membuat zona aman sehingga jutaan pengungsi Suriah bisa kembali.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan ancaman ke Eropa. Erdogan, dikutip Aljazirah pada Kamis (10/10), menegaskan akan mengirimkan pengungsi Suriah ke Eropa jika negara Eropa melabeli operasi militer Turki sebagai pendudukan.

Turki memulai operasi militer di timur laut Suriah. Erdogan menyatakan, operasi yang dimulai dengan serangan udara pada Selasa lalu untuk mengusir pasukan yang dipimpin Kurdi dari perbatasan Turki.

Menurut dia, pihaknya juga membuat sebuah zona aman sehingga jutaan pengungsi Suriah bisa kembali. Langkah ini bermula setelah Amerika Serikat (AS) menarik pasukannya dari wilayah tersebut serta membuat SDF harus bertarung sendiri melawan ISIS tanpa bantuan militer AS.

Pertempuran sengit antara pasukan Turki dan SDF berlangsung di kota-kota perbatasan Suriah. SDF telah meminta AS dan sekutunya menerapkan zona larangan terbang untuk berlindung dari serangan udara Turki.

Sementara itu, puluhan pekerja kemanusiaan telah menyeberangi perbatasan dari wilayah timur laut Suriah ke Turki. Sejumlah lembaga kemanusiaan memerintahkan evakuasi masif sebagai antisipasi kian besarnya serangan ke wilayah timur laut Suriah.

Eksodus itu membuat sejumlah pegawai perbatasan sibuk sepanjang Kamis pagi. Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker men desak Turki agar tak menambah ketidak stabilan di Suriah. Ia menuturkan, Suriah kini menjadi tempat krisis kemanusiaan paling kompleks.

photo
Iring-iringan kendaraan militer menuju ke perbatasan Turki-Suriah.

Jutaan orang harus mengungsi di perbatasan dan luar perbatasan. Juncker mengatakan, serangan Turki menambah ketakutan para pengungsi. Dalam pernyataan yang tajam, ia mengingatkan bahwa Uni Eropa berkontribusi 6 miliar euro untuk Turki.

Dana tersebut, ungkap dia, untuk mendukung Turki dalam membantu 3,6 juta pengungsi Suriah di sana. Ia pun menyatakan UE tak akan memberikan dana untuk pembuatan zona aman di wilayah utara Suriah.

"Saya mendesak Turki menahan diri dan menyudahi operasi militer," kata Juncker seperti dilansir //the Guardian, Kamis (10/10). Ia mengakui Turki mempertimbangkan keamanan perbatasannya dengan Suriah.

"Jika Turki berencana membangun zona aman, jangan berharap UE akan memberi sepeser pun untuk itu," katanya menegaskan. Lembaga kemanusiaan yang berbasis di Inggris, Save the Children, sejak awal mengingatkan soal kondisi pascaserangan.

Menurut lembaga ini, ratusan ribu orang kini berada di wilayah timur laut Suriah. "Kami mendorong semua pihak militer di la pangan menjamin operasi mereka tak berdampak ke warga sipil," demikian pernyataan mereka.

Save the Children mengungkapkan, saat ini sekitar 1,65 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan di wilayah timur laut, termasuk 650 ribu pengungsi akibat perang. Mereka membutuhkan makanan, kesehatan, dan pendidikan. n  reuters, ed: ferry kisihandi

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA