Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Joker, Skizofrenia dan Urgensi Kepekaan Publik

Kamis 10 Oct 2019 13:33 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Film Joker.

Film Joker.

Foto: Warner Bros via AP
Di kehidupan nyata, penderita skizofrenia bisa lebih kejam dari Joker.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Anggia Ermarini, MKM*

Bagi para penikmat film, pastilah tahu kehadiran film berjudul Joker yang sedang marak ditayangkan di berbagai bioskop Tanah Air. Ya. Film laga hidup yang sarat cerita psikologis dengan bumbu kekerasan berdarah yang kuat, perilaku mengganggu, serta bermuatan bahasa dan gambar seksual.

Penulis tidak sedang mengkritisi cerita dan nuansa kekerasan dalam film tersebut, meskipun di Amerika Serikat sendiri banyak kalangan memprotes keras penayangan Joker. Bahkan sebagian bioskop tidak mendapatkan izin tayang karena alasan gangguan keamanan.

Sisi menarik Joker justru alur cerita tokoh utamanya yang sejak awal digambarkan penuh tekanan psikologis. Hidup dan karirnya penuh kegagalan, cemoohan, bahkan perlakuan kekerasan dari lingkungannya. Dalam bahasa medis dan kesehatan jiwa, Joker mengalami apa yang disebut skizofrenia, yakni gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.

Sebagian penderita skizofrenia juga mengalami gejala psikosis, yakni situasi saat penderitanya kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikirannya sendiri. Psikosis adalah salah satu gejala dari beberapa gangguan mental, yang di antaranya adalah skizofrenia. Dalam bahasa awam sering dicap sebagai “orang gila”.

Menurut WHO, diperkirakan lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Penderitanya juga berisiko 2-3 kali lebih tinggi mengalami kematian di usia muda.

Penyalahgunaan NAPZA, depresi, dan gangguan kecemasan, juga acap melekat pada diri penderita szikofrenia. Begitu rawan dan riskannya gangguan mental ini, jika tidak ada penanganan komprehensif, maka akibatnya bisa fatal seperti deskripsi film Joker.

Terkait film, hemat penulis, terlepas dari perdebatan di dalamnya, sebaiknya berfokus bukan pada kekerasan yang berpotensi menginspirasi penderita gangguan mental lainnya untuk melakukan hal yang sama. Namun dampak skizofrenia dapat berakibat sefatal sebagaimana yang ada di film. Bahkan, dalam kehidupan nyata sangat mungkin ada penderita yang karena tidak tertangani secara baik, berefek lebih liar dan lebih kejam dari Joker.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA