Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Kemendes PDTT Tinjau Sekolah Beruk di Desa Wisata Pariaman

Rabu 09 Oct 2019 23:11 WIB

Red: Gita Amanda

Seekor kera sedang berjalan. (Ilustrasi)

Seekor kera sedang berjalan. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Fiqman Sunandar
Sekolah Beruk melatih kera besar untuk membantu manusia dalam berkebun.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIAMAN -- Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) meninjau Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) Mandiri. Ini merupakan lembaga yang melatih satwa jenis kera besar untuk membantu manusia dalam berkebun, di desa wisata Apar, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar).

"STIB ini termasuk unik karena tidak ada di daerah lain," kata Kasubdit Sarana dan Prasarana Transportasi Desa Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT Gusti saat memverifikasi desa wisata Apar Pariaman, Rabu (9/10).

Desa Apar masuk dalam nominasi 25 desa wisata nusantara, dan ditambah keunikan tersebut, maka desa tersebut dinilainya, harus dikembangkan untuk diperkenalkan ke kancah nasional dan internasional. Menurutnya dengan pengelolaan yang baik maka objek wisata yang dikembangkan oleh desa tersebut dapat menjadi sumber pendapatan warga dan pemerintah desa.

Ia menyebutkan penilaian desa wisata nusantara terbaik mulai dari potensinya, jumlah pengunjung hingga pendapatan untuk desa. "Yang terpenting itu pendapatan untuk desa karena tujuannya wisata kan untuk menghidupkan badan usaha milik desa dan meningkatkan pendapatan desa sekaligus warganya," kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Apar,Hendric mengatakan awal mula berdirinya sekolah beruk tersebut karena warga di daerah itu banyak menjadi juru beruk atau tukang mengarahkanberuk. "Potensi ini yang kami manfaatkan untuk objek wisata karena hal ini menarik," ujarnya.

Ia menyampaikan STIB tersebut memiliki sejumlah kurikulum terkait satwa primata tersebut. Misalnya pengenalan beruk terhadap kelapa, pelatihan beruk memutar-mutar kelapa yang kedua sisinya bolong sebagai lubang masuknya kayu, selanjutnya memutar kelapa yang digantung, hingga beruk menjatuhkan kelapa dan memilih kelapa muda dan tua.

"Kalau sudah berhasil melewati itu maka beruk sudah bisa diserahkan ke pemiliknya untuk membantu panen di kebun," katanya.

Selain meninjau STIB, rombongan kementerian juga meninjau objek wisata mangrove dan konservasi penyu yang juga terletak di desa itu.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA