Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Ada Tambahan Investasi Baru, Impor Petrokimia Bisa Ditekan

Selasa 08 Oct 2019 17:29 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Pekerja melakukan monitoring pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400 ribu ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) di Cilegon, Banten, Selasa (18/6/2019).

Pekerja melakukan monitoring pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400 ribu ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) di Cilegon, Banten, Selasa (18/6/2019).

Foto: Antara/Asep Fathulrahman
Rata-rata impor bahan kimia 20 miliar dolar AS per tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, terdapat investasi baru pada sektor industri petrokimia yang dikeluarkan oleh dua perusahaan besar nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi. Yakni PT Chandra Asri Petrochemical, Tbk (CAP) serta PT Lotte Chemical Titan, Tbk.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono, mengatakan, CAP telah meneken komitmen investasi sebesar 4 miliar dolar AS sedanglan Lotte senilai 3 miliar dolar AS. Digelontorkannya investasi oleh swasta itu bakal berdampak positif pada pengurangan impor produk petrokimia sekitar 50 persen pada 2023 mendatang.

"Ada dua komitmen investasi. Ini bisa membangkitkan industri petrokimia tahun 2023 karena kita bisa kurangi impor bahan baku," kata Sigit kepada wartawan di Padang, Selasa (8/10).

Ia meyakini, investasi dari dua industri manufaktur kakap itu bakal mendorong perbaikan sektor petrokimia dari segi volume impor petrokimia yang saat ini cukup besar. Dengan begitu, kebutuhan atas bahan baku bisa semakin dipenuhi oleh indusri domestik.

Saat ini, Sigit mengungkapkan rata-rata impor bahan kimia senilai 20 miliar dolar AS per tahun. Impor itu setara 30 persen dari total impor bahan baku secara nasional. Besarnya impor bahan kimia turut menjadi salah satu penyumbang defisit transaksi berjalan yang kini dialami Indonesia

Menurut Sigit, dari tahun ke tahun permintaan terhadap industri petrokimia terus bertambah. Karenanya, antisipasi kenaikan impor bahan baku wajib dilakukan dengan substitusi. Namun, di sisi lain, diakui pula bahwa investasi pada industri petrokimia masih kurang.

Untuk bisa melakukan substutusi barang impor, maka satu-satunya jalan adalah dengan menambah investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan baku oleh pabrikan dalam negeri.

Seiring dengan upaya peningkatan investasi, Kemenperin mendorong agar harga gas untuk industri diturunkan sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo. Dorongan itu terutama ditujukan kepada PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selaku BUMN pemasok gas industri.

Ia menuturkan, gas merupakan salah satu bahan baku bagi industri petrokomia yang memiliki peran strategis sebagai sumber energi. Ketika harga gas tinggi, maka biaya produksi untuk menghasilkan produk kimia ikut meningkat. Alhasil, bahan kimia yang diproduksi tidak berdaya saing dari segi harga.

"Kita menginginkantidak ada kenaikan harga gas, itu faktor yang sangat sensitif. Untuk industri petrokimia, gas menjadi bahan baku dengan porsi 70 persen dari total bahan baku yang digunakan petrokimia," ujar dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA