Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Teknologi Kementan Adaptif Perubahan Iklim Global

Selasa 08 Okt 2019 08:42 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

58 peneliti  hadir dalam The 9th Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases (GRA) di Bali 6-7 Oktober 2019.

58 peneliti hadir dalam The 9th Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases (GRA) di Bali 6-7 Oktober 2019.

Foto: kementan
Sektor pertanian paling rentan dengan perubahan iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Sejumlah 58 peneliti dunia hadir dalam pertemuan tahunan terkait perubahan iklim. Mereka hadir dalam The 9th Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases (GRA) di Bali 6-7 Oktober 2019. Agenda ini membahas dan mengevaluasi kemajuan kegiatan GRA dan memperoleh masukan untuk perbaikan tujuan strategis dan cara mewujudkannya.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Husnain mengatakan semangat pertemuan kali ini adalah membuka peluang riset terkait teknologi yang adaptif terhadap perubahan iklim. Selama ini negara maju lebih menekankan hanya pada mitigasi dampak perubahan iklim. Sebagai negara berkembang dan berkontribusi terhadap penyediaan pangan dunia, Indonesia dirasa perlu berbagi pengalaman adaptasi teknologi.

"Indonesia menawarkan paket-paket teknologi terhadap perubahan iklim tersebut. Kita sudah berbuat banyak hal soal antisipasi perubahan iklim global," ucap Husnain.

Menurut Husnain, Kementerian Pertanian sejak lama telah berinovasi, melalui varietas benih/benih adaptif yang tahan terhadap perubahan iklim, tahan kekeringan, konsep smart agriculture, pengelolaan air yang efisien, dan penggunaan pupuk. Bahkan mekanisasi pertanian diterapkan sebagai upaya membuka lahan pertanian, dan mencegah pembakaran lahan baru.

Baca Juga

"Dampaknya tentu akan sangat besar terhadap atmosfer, dan kita dorong agar terus digunakan untuk mencegah perubahan iklim yang ekstrem," ucap Husnain.

Kegiatan GRA ini melaksanakan empat grup riset, yaitu: Paddy Rice, Livestock, Cropland, dan Integrative. Setiap grup riset melaksanakan pertemuan rutin guna mengevaluasi kemajuan kegiatan yang sedang dilaksanakan dan juga membahas isu-isu terkini. Selanjutnya, pertemuan akan dirangkaikan dengan the 5th Global Science Conference on Climate Smart Agriculture di Jimbaran, Bali pada 8-11 Oktober.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA