Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Gerindra Disebut Dapat 2 Kursi Ketua dan 9 Wakil Ketua AKD

Senin 07 Okt 2019 17:03 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Teguh Firmansyah

Politikus Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Politikus Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Foto: Republika/Arif Satrio Nugroho
Puan menegaskan pembagian AKD berdasarkan UU MD3.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fraksi Partai Gerindra disebut telah mengamankan dua kursi ketua dan sembilan wakil ketua alat kelengkapan dewan (AKD). Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (7/10).

Baca Juga

Menurut Dasco, jumlah tersebut sudah sesuai dengan mekanisme penghitungan yang benar. "Kita sudah tahu bahwa sepertinya Gerindra itu kan akan mendapatkan dua pimpinan, sembilan wakil pimpinan," ujar Dasco

Fraksi Partai Gerindra saat ini masih membahas AKD mana saja yang akan mereka pimpin. Mereka juga menimbang dinamika pemilihan AKD yang tengah terjadi dari fraksi lainnya. "Ini sedang ditimbang-timbang, kan semua menurut saya sama, karena dia mau jadi ketua atau wakil ketua, itu kan pimpinan juga," ujar Dasco.

Meski sudah ada mekanisme penghitungan untuk AKD, lobi politik masih terjadi antara fraksi. Termasuk Partai Gerindra yang juga membuka pintu negosiasi dengan fraksi lainnya. "Itu risiko, musti dihadapi. Kecuali nanti antarpimpinan partai, fraksi itu kemudian ada musyawarah, dia mau tukar-tukeran ya itu monggo," ujar Dasco.

Ketua DPR Puan Maharani menjelaskan, pembetukan AKD nanti akan berdasarkan perolehan suara terbanyak partai dalam pemilihan umum (Pemilu) 2019. Dengan begitu, ia berharap pembagian kursi pimpinan AKD akan dilakukan secara proporsional.

Hal ini juga dilakukan agar pembentukan AKD tak bermasalah seperti yang terjadi pada DPR periode 2014-2019. Saat itu, terjadi konflik internal antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH), perihal pemilihan pimpinan AKD.

"Saya berharap tidak akan terjadi lagi, karena apapun itu menjadi luka sejarah bahwa proses demokrasi yang sudah kita lakukan melalui proses pemilu kemudian menjadi berantakan," ujar Puan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA