Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Sebuah #Tantrump

Senin 07 Oct 2019 06:01 WIB

Red: Joko Sadewo

Ani Nursalikah

Ani Nursalikah

Foto: dok. Pribadi
Trump meradang ketika ditanya soal Joe Biden.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ani Nursalikah*

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memang tidak asing dengan drama dan kontroversi. Sebuah drama terpampang nyata di hadapan publik di sebuah ruangan di Gedung Putih, Rabu lalu.

Trump saat ini sedang dihadapkan pada sebuah penyelidikan pemakzulan. Ketua House of Representative AS Nancy Pelosi resmi menggelar penyelidikan pemakzulan Trump pada 24 September lalu. Pelosi akhirnya setuju menggelar penyelidikan setelah ada tekanan dari anggota Partai Demokrat lainnya.

Penyelidikan itu akan mencari tahu apakah Trump menyelewengkan kekuasaannya dan meminta bantuan kepada pemerintah asing untuk menjegal mantan wakil presiden Joe Biden dan membuatnya terpilih kembali sebagai presiden. Seorang whistleblower atau pembocor rahasia mengungkapkan percakapan  telepon antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

Dalam percakapan telepon pada Juli lalu, Trump menekan Zelenskiy untuk menyelidiki Biden, wakil Partai Demokrat dalam bursa calon presiden, dan putranya Hunter. Hunter pernah bekerja di sebuah perusahaan gas Ukraina.

Percakapan itu terjadi setelah Trump menyuruh pemerintah membekukan bantuan militer. Ia kemudian membatalkan pembekuan tersebut dan Pentagon melanjutkan pengiriman bantuan ke Ukraina.

Parlemen menuduh Trump menyalahgunakan jabatannya dalam upaya mengorek kebusukan musuh politik. Pelosi juga mengatakan apa yang dilakukan Trump mencederai konstitusi. Menurutnya, tindakan semacam itu sebagai pengkhianatan atas sumpah jabatan.

Perkembangan mengenai proses penyelidikan pemakzulan itu terus mengemuka. Trump tentu saja menyampaikan pendapatnya melalui saluran favoritnya, Twitter. Trump mengecam tindakan Pelosi tersebut dan menyebutnya sebagai pelecehan terhadap presiden. Dia juga menyebut pemakzulan itu sebagai kudeta.

Rabu itu, Trump berkesempatan menerima lawatan dari Presiden Finlandia Sauli Niinistö. Mereka mengadakan konferensi pers bersama di ruang timur Gedung Putih.

Saat sesi tanya jawab, seorang jurnalis dari Reuters Jeff Mason bertanya apa yang dia ingin Presiden Zelensky lakukan terhadap mantan wakil presiden Joe Biden dan putranya. Raut wajah Trump seketika berubah.

Dia lantas mengomel mengenai korupsi dan keraguannya atas pemberian uang AS. Ketika, sang jurnalis bertahan untuk pertanyaannya, Trump menolak menjawab dan terus menekan Mason untuk mengajukan pertanyaan pada Niinistö.

"Kamu bicara pada saya," ujar Trump

Dia kemudian dengan marah memintanya bertanya pada Niinistö. " Saya bisa memberimu jawaban panjang. Beri pertanyaan pada pria ini (Niinistö). Jangan kasar!" kata Trump.

"Saya punya pertanyaan untuk Presiden Niinistö. Saya tidak bermaksud kasar Pak. Saya hanya ingin Anda memiliki kesempatan menjawab pertanyaan saya," kata Mason dengan tenang.

"Saya sudah menjawab semuanya. Itu semua palsu. Dan Anda tahu siapa yang bermain hoaks? Orang-orang seperti Anda," kata Trump sambil menunjuk Mason.

Trump lantas mengoceh soal betapa media di AS menampilkan berita-berita bohong. Dia menyatakan media di AS bukan hanya palsu, tapi jahat dan rusak.

Sang jurnalis kemudian memilih mengajukan pertanyaan untuk Niinistö soal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan tarif ilegal. Apa yang terjadi? Trump justru menyela dan menjawab pertanyaan itu.

Niinistö yang sudah bersabar sejak tadi akhirnya berkata, "Saya pikir pertanyaan itu untuk saya."

Usai kunjungannya ke beberapa museum di AS, Presiden Niinistö tentu tak mengharapkan akan terjebak dalam sebuah situasi canggung bersama Trump. Dia jelas menunjukkan raut wajah 'selamatkan saya dari sini' sepanjang argumentasi Trump dengan jurnalis Reuters itu. Namun, Niinistö terlihat tenang, tersenyum, dan menguasai diri.

Reaksi Trump yang meradang sempat menjadi trending topic di Twitter dengan tagar #TrumpMeltdown. Isinya adalah olok-olokan bagi Trump. Ada yang mengatakan Trump sebagai seorang sosiopat. Ada juga yang menyatakan tingkah Trump memalukan negara.

Sebuah komentar singkat menarik perhatian saya. "Sebuah contoh nyata #tantrump," ujar seorang warganet.

Tautan video:

https://www.youtube.com/watch?v=hc8kysUerAU (dari BBC) klo ini langsung pas di pertanyaan soal pemakzulan

https://www.youtube.com/watch?v=OtZuPvGHenI (dari CBSN di menit 36:33)

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA