Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Rakyat Bukan Beban Melainkan Tanggung Jawab Negara

Sabtu 05 Okt 2019 11:04 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menko Polhukam Wiranto seusai memberikan keterangan pers terkait klarifikasi pernyataan tentang gempa Maluku, di Media Center Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Menko Polhukam Wiranto seusai memberikan keterangan pers terkait klarifikasi pernyataan tentang gempa Maluku, di Media Center Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Foto: Antara/Aprillio Akbar
Negara seharusnya menjamin korban bencana tanpa merasa beban

Baru-baru ini pernyataan Menko Polhukam Wiranto membuat yang dinilai membuat luka masyarakat khususnya asal Maluku. Hingga kemudian, dikutip dari CNN, Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Besar Masyarakat Maluku (KKBMM) membuat surat pernyataan tidak terima. KKBMM meminta Pemerintah menghapus Maluku dari peta Indonesia karena mereka merasa sudah tidak dianggap.

"Bahwa para Pejabat Negara sudah tidak menganggap kami yang di Maluku sebagai bagian dari NKRI, maka adalah lebih baik apabila Bapak menghapus pulau-pulau Maluku dari Peta Indonesia, kalau perlu keluarkan kami Maluku dari NKRI agar Negara tidak perlu mengeluarkan Anggaran sebagai cermin beban Negara terhadap orang-orang Maluku," tulis surat yang ditandatangani Ketua Umum KKBMM Djamaludin Koedoeboen.

Berkaca dari hal ini, sepatutnya sikap dan ucap para petinggi negara haruslah mengayomi seluruh urusan rakyatnya. Tugas mereka adalah menjaga dan menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat.

Karena negara merupakan institusi yang memiliki kewenangan dalam kepengurusan masalah umum. Maka sudah selayaknya negara menjamin para korban bencana tanpa ada rasa beban karena hal itu merupakan tanggung jawab negara.

Wajar jika rakyat Maluku merasa terabai oleh kata-kata yang terlontar dari seorang pejabat negara yang kurang tepat dalam memberikan imbauan. Bencana merupakan rancangan Tuhan semesta alam, yang tak seorangpun mampu mengaturnya. 

Korban bencana telah mengalami masa sulit karena kehilangan harta bahkan keluarga. Harus hidup terlunta di pengungsian, dan tak tahu harus bagaimana setelah bencana ini selesai. Wajar jika hati mereka amat terluka karena mereka sedang amat dirundung duka.

Sejatinya bencana adalah teguran dari Sang Pencipta. Musibah yang terus menerus mengingatkan kita untuk segera introspeksi diri dan bertaubat. Masalah yang datang tiada henti menjadi alarm bagi kita tuk segera berbenah diri. Kembali pada aturan Illahi yang kan menjadikan hidup diberkati.

Negara wajib menjaga persatuan wilayahnya. Jangan sampai satu persatu wilayah NKRI bercerai berai karena merasa terabai. Dan sudah seharusnya negara melakukan tindakan cepat tanggap bencana agar korban jiwa dapat dihindari. Lalu melakukan pemulihan pasca bencana. Karena inilah tugas negara, mengayomi rakyat tanpa merasa berat. Seperti sabda 

Rasulullah SAW. “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya ” (HR.Al Bukhari dan Muslim). 

Pengirim: Silvia Anggraeni, S.Pd, Lampung

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA