Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Catatan HUT TNI Ke-74

Celana Pendek Prajurit Barisan Keamanan Rakyat

Sabtu 05 Oct 2019 06:16 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Foto: Arsip Nasional
Angkatan bersenjata Indonesia bertransformasi dari BKR, TKR, hingga menjadi TNI.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan dari Jalan Pengangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56, Jakarta, yang ketika itu merupakan kediaman Bung Karno, dengan cepat menyebar ke seantero Nusantara. Selebaran berisi informasi Indonesia merdeka disebarkan para pemuda.

Mereka juga melakukan corat-coret di tembok-tembok dan kendaraan umum yang menyatakan: "Siap mati untuk mempertahankan kemerdekaan RI."

Di awal-awal kemerdekaan, prajurit Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi TNI-ABRI masih menggunakan celana pendek dan peci pandan. Bahkan, sebagian besar bertelanjang kaki. Belum dikenal pakaian seragam Angkatan Bersenjata.

Di samping pembentukan BKR, telah tumbuh pula badan-badan atau organisasi lainnya, seperti Angkatan Pemuda Indonesia, PETA, Hizbulah, dan banyak lagi. Sehubungan dengan itu, diadakan pemanggilan kepada mereka termasuk para Heiho yang dibentuk Jepang, Barisan Pelopor yang dibentuk di kampung-kampung menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat keamanan negara.

Sambutan para pemuda cukup besar dan membanjir bahkan melebihi maksimum yang diperlukan. Pada tanggal 5 Oktober 1945, dikeluarkan maklumat mengenai pembentukan TKR.

TNI/ABRI setiap tanggal 5 Oktober memperingati ulang tahunnya, berdasarkan pembentukan TKR. Ketika Sekutu (Inggris) datang ke Indonesia, di mana ikut membonceng NICA (Belanda), mendapatkan perlawanan sengit dari para pejuang.

Kemudian, para anggota TKR itu seluruhnya ditempatkan dan dipusatkan di daerah perbatasan Kota Jakarta, yang diresmikan sebagai kota diplomasi. Maka, terkenallah Karawang-Bekasi sebagai basis kegiatan gerilya.

Chairil Anwar dalam sajaknya menggambarkan betapa hebatnya pertempuran, yang dilakukan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan di front Karawang-Bekasi.

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA