Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Pelajaran Pancasila Lebih Fokus Soal Pendidikan Karakter

Kamis 03 Oct 2019 07:40 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Muhammad Hafil

Pancasila

Pancasila

Buku yang disiapkan pemerintah kurang fokus ke pendidikan karakter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( kemendikbud ) sedang mengkaji untuk memisahkan Pendidikan Moral pancasila ( pmp ) dari pendidikan pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan nantinya kemungkinan akan ada satu mata pelajaran sendiri yang khusus mengajarkan soal Pancasila.

Menanggapi hal tersebut, guru PPKN dari Sekolah Olifant, Fransiskus Wicaksono mengatakan dirinya setuju dengan pemisahan tersebut. Sebab, menurut guru yang mengajar SMP dan SMA Olifant ini selama ini buku yang disiapkan pemerintah memang kurang berfokus ke pendidikan karakter.

"Konten yang disiapkan itu lebih banyak soal sejarah. Misal sejarah Pancasila, Undang-undang, perumusan, penetapan, dan sebagainya," kata Wicak ketika dihubungi Republika, Rabu (2/10).

Sedangkan, lanjut dia, apabila mengacu pada Kurikulum 2013 ada pendidikan karakter. Di dalam pelajaran yang ada saat ini di PPKN, menurut dia, pendidikan karakter tidak dimunculkan dalam porsi yang lebih besar.

Dari acuan yang ada, diharapkan guru bisa mengulik sendiri evaluasi terkait pendidikan karakter. Ia mencontohkan yang selama ini ia lakukan untuk memunculkan pendidikan karakter tersebut.

Ia juga mengatakan pada masa sekolah dulu, ia menerima pelajaran PMP. Menurut dia, pada saat itu nilai Pancasila yang diajarkan cukup baik karena bisa fokus kepada mengolah moral nilai ideologi bangsa.

Menanamkan pendidikan karakter, lanjut dia, sebenarnya akan lebih efektif apabila dilakukan secara praktik. "Jadi misalnya anak-anak melakukan //roleplay//. Jadi anak-anak secara tidak langsung merasakan sehingga nanti pas dewasa terlihat," kata dia.

Di tempat ia mengajar, disediakan tiga jam pelajaran untuk satu kelas. Dua jam ia sediakan khusus untuk kewarganegaraan, sementara satu jam lainnya untuk pendidikan karakter.

Di dalam satu jam tersebut, Wicak kemudian menilai tindakan atau sikap peserta didik. "Itu kami bisa langsung ambil nilai tindakan di PMP tadi. Tapi kalau di dalam PPKN kesulitan untuk menilai, harus mencari momen untuk menilai," kata dia. 

Sementara itu, guru PPKN SMA Negeri 8 Yogyakarta, Wahyuni mengatakan persoalan penanaman nilai moral Pancasila sebenarnya bisa dilakukan melalui cara mengajar. Sebab, selama ini materi yang terdapat di dalam buku ajar memang banyak bersifat memberikan pengetahuan.

"Tapi kalau pun di situ dibilang pengetahuan saja, guru mengajarnya tidak hanya teoritis saja. Tapi bagaimana penerapannya di kehidupan sehari-hari diberikan. Itu nanti tidak hanya bersifat pengetahuan," kata Wahyuni.

Apabila nantinya pemerintah memutuskan untuk memisahkan materi Pancasila dari PPKN, maka jangan sampai hanya berupa teori lagi. "(Pemisahan) itu bagus sih. Tapi kalau kemudian hanya di atas kertas, tidak dengan bagaimana praktiknya, akan menjadi pelajaran yang lebih membosankan," kata dia lagi.

Ia menegaskan, sebenarnya yang perlu ditekankan di dalam nilai moral Pancasila ketika ditanamkan kepada peserta didik adalah bagaimana menerapkan nilai-niali tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya, lanjut dia, akan menjadi beban untuk siswa apabila nanti ketika dipisah tetap berupa teori saja.

Selama ini, Wahyuni mengatakan dirinya memberikan teori kepada peserta didik, namun juga diberikan bagaimana praktiknya. Di dalam mengajar, khususnya mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan karakter tidak bisa hanya diberikan teorinya saja.

"Intinya menurut saya, bagaimana mengemas hal yang sifatnya pengetahuan atau teoritis ditambah menjadi teori dan praktiknya," kata dia.

Salah satu siswa SMK Pandawa, Haekal Tassa Ismanda mengatakan dirinya tidak keberatan dengan adanya mata pelajaran baru. Ia berpendapat semua mata pelajaran harus dipelajari dengan senang.

Namun, ia mengusulkan agar teori yang diberikan tidak terlepas dari nilai-nilai inti yang ada di dalam Pancasila. Sebab, penambahan mata pelajaran tersebut bertujuan untuk menanamkan nilai Pancasila dengan lebih dalam.

"Nggak keberatan. Karena sama-sama mata pelajaran ya harus dipelajari," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA