Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dimatikan? Ini Alasannya

Rabu 02 Oct 2019 17:02 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andi Nur Aminah

Sejumlah anggota TNI Kodim 0301/Pekanbaru melintas di dekat lahan gambut yang telah terbakar  (ilustrasi)

Sejumlah anggota TNI Kodim 0301/Pekanbaru melintas di dekat lahan gambut yang telah terbakar (ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Gambut pada dasarnya biomassa materi sisa vegetasi yang terhambat pelapukannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Restorasi Gambut (BRG) memberikan penjelasan mengapa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tanah gambut sulit dipadamkan. "Gambut sulit dimatikan karena pada dasarnya gambut itu biomassa materi sisa vegetasi yang terhambat pelapukannya karena tertimbun pada lingkungan tergenang dan asam," kata Deputi Perencanaan dan Kerja Sama BRG Budi Wardhana saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (2/10).

Jika dikeringkan dengan dibuka saluran drainase yang masif, dia melanjutkan, maka biomassa yang kering ini menjadi mudah terbakar. Karena tertimbun cukup tebal maka api bisa merambat ke bawah permukaan yang sering tidak terjangkau dengan metode pemadaman yang mematikan api di permukaan saja.

"Tebalnya lapisan gambut yang terbakar ini bisa menyebabkan kebakaran di lahan gambut berlangsung ber bulan-bulan dan menghasilkan polusi asap yang cukup pekat," ujarnya.

Baca Juga

Dia melanjutkan, kebakaran yang merambat di bawah permukaan ini baru akan padam jika gambut kering ini terendam air kembali. Ia menambahkan, hujan, atau kanal-kanal ditutup dengan sekat kanal atau malah ditimbun sama sekali. Selain itu, dia melanjutkan, untuk wilayah yang memang diperkenankan menjadi areal budidaya, pola tata air harus dikelola dengan ketat dan tidak diperbolehkan menggunakan api sebagai sarana pengolahan lahan.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo menekankan pentingnya mengembalikan lahan gambut ke kodratnya. Hal itu guna mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan berulang.

"Kembalikan gambut sebagaimana kodratnya, yaitu basah, berair, dan berawa," katanya dalam siaran pers BNPB pada Selasa (1/10), bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Ia mengatakan gambut yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk merupakan batu bara muda. Jika mengering maka gambut tersebut akan sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Pemadaman kebakaran yang terjadi di lahan gambut yang kering dengan kedalaman beragam sampai 30 meter, menurut dia, sangat sulit. "Baik oleh personel darat, pengeboman air, bahkan dengan hujan buatan," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA