Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Menristekdikti Bantah Halangi Mahasiswa Berpendapat

Rabu 02 Oct 2019 09:21 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Teguh Firmansyah

Menristekdikti, Mohamad Nasir,

Menristekdikti, Mohamad Nasir,

Foto: Republika/Bowo Pribadi
Menristekdikti menilai pernyataan pendapat tidak harus diekspresikan ke jalanan.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir membantah, imbauan agar mahasiswa tak lagi melakukan aksi merupakan bentuk pengadangan terhadap kebebasan berpendapat.

Baca Juga

Nasir mengaku, tidak pernah menghalangi siapa saja mengemukakan pendapatnya. Hanya saja, menurutnya, pernyataan pendapat tidak harus diekspresikan di jalan.

"Siapa yang menghalangi berpendapat? Berpendapat itu apa harus di jalan? Di kampus apa tidak bisa berpendapat? Kita tidak akan menghalangi mereka berpendapat? Bebas," kata Nasir di Surabaya, Rabu (2/10).

Nasir menyatakan, pihaknya akan memfasilitasi mahasiswa menyampaikan pendapatnya di kampus melalui forum yang disediakan. Aksi di jalanan, kata ia, justru akan memicu banyak hal di luar dugaan.

"Ini yang harus kita lakukan bukan berarti menghalangi. Berpendapat silakan. Mimbar akademik kita bangun, tapi dengan cara yang baik. Bukan berarti dengan kebebasan akademik menggangu orang lain," ujar Nasir.

Nasir menyatakan, ia terus membangun komunikasi dengan para rektor. Tujuannya agar para rektor mampu mengarahkan para mahasiwanya untuk kembali ke kampus dan belajar secara normal. Terkait tuntutan mahasiswa, kata Nasir, bisa didiskusikan langsung dengan mahasiswa.

"Mahasiswa kita ajak bicara, ajak diskusi bukan dilepas. Kalau dia lepas sendiri silakan tapi bukan tanggung jawab rektor," kata Nasir

Nasir menjelaskan, Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) sudah lama dibahas, namun baru kali ini ramai diperbincangkan. Pembahasan RKHUP, kata dia, adalah upaya Indonesia menasionalisasi produk kitab undang-undang warisan Belanda tersebut. 

"Oleh karena penyesuaian mungkin tidak cocok mari kita diskusi. Maka saya minta rektor perguruan tinggi negeri, tolong pak rektor ajak mahasiswa berdiskusi dengan para dosen atau pakar pada bidangnya," ujar Nasir.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA