Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Festival Lembah Lore Rajut Tradisi Bangun Ekonomi Desa

Selasa 01 Oct 2019 15:27 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pengunjung bertenda di kawasan eko wisata Telaga Tambing yang masuk kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Desa Sedoa, Lore Utara, Poso, Sulawesi Tengah.

Pengunjung bertenda di kawasan eko wisata Telaga Tambing yang masuk kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Desa Sedoa, Lore Utara, Poso, Sulawesi Tengah.

Foto: Antara
Pertanian dan perkebunan Lembah Lore diharapkan jadi penggerak ekonomi desa.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Festival Lembah Lore mempromosikan sumber daya alam dan kearifan lokal di Lembah Lore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Festival ini  diharapkan berdampak pada pembangunan ketahanan ekonomi desa.

Baca Juga

Festival digagas oleh aktivis lingkungan yang berkecimpung di lembaga swadaya masyarakat (LSM), dengan menggandeng lembaga non-pemerintah luar negeri.

"Pembangunan desa dapat menciptakan peluang bisnis dan lapangan pekerjaan untuk kaum muda yang tidak hanya berbasis pada tanaman pertanian," kata Subarckha, Ketua Panitia Festival Lembah Lore, sekaligus Direktur Relawan Untuk Orang dan Alam (ROA) Sulawesi Tengah.

Potensi hutan dan lahan pada sektor pertanian, perkebunan dan pariwisata yang dimiliki Lembah Lore idealnya menjadi penggerak utama ketahanan ekonomi masyarakat desa. Misalkan, pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan mengenai hasil hutan bukan kayu (HHBK) menjadi suatu kerajinan tangan yang bernilai ekonomis dan bisa dipasarkan ke tingkat nasional dan internasional. Namun itu belum maksimal.

Berdasarkan data dari kebijakan Pemerintah Sulawesi Tengah melaporkan bahwa prioritas pembangunan dari tahun 2010 - 2014 adalah kredit yang diberikan kepada sektor usaha kecil dan menengah terutama untuk perdagangan komoditas pertanian dan perikanan sebesar 54,6 persen dan hanya 14,2 persen terintegrasi dengan sektor hulu.

Padahal, ada masyarakat di Sulawesi Tengah seperti di Lembah Lore Kabupaten Poso yang mengembangkan produk kreatif, ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang dapat berdampak pada ekonomi lokal serta ketahanan pangan tingkat provinsi dan nasional, namun sangat minim.

Lewat festival ini para konsumen dan pemerintah diharap dapat menjadi pioner dalam mempromosikan, membumikan, produk komunitas yang lestari dan berkelanjutan. "Kegiatan ini menjadi salah satu strategi untuk mendorong munculnya kebijakan yang akan mendukung, memberikan insentif yang lebih besar untuk produk lokal/desa yang berkelanjutan," kata Subarckha.

Terdapat 50 wirausaha komunitas berpartisipasi dalam kegiatan itu sekaligus berkomitmen membentuk jaringan pasar yang lebih luas. Mereka diikutkan dengan pengembangan mekanisme pemasaran berkelanjutan untuk produk lokal.

Hutan dan Pariwisata
Salah satu yang menjadi fokus dalam kegiatan Festival Lembah Lore yakni, hutan, lahan dan pariwisata. Para peserta festival dan tamu undangan, akan diajak menikmati keindahan Lembah Lore yang terdapat bukit padang hijau, dikelilingi gunung dan hutan.

Potensi Lembah Lore di Kabupaten Poso, telah mampu menarik perhatian dunia. Terbukti Lembah Lore masuk dalam cagar biosfer Lore-Lindu dideklarasikan oleh UNESCO Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai anggota jaringan cagar biosfer dunia pada tahun 1977.

Lembah Lore yang terdiri dari beberapa kecamatan diantaranya Lore Utara, Lore Peore, Lore Timur dan Lore Selatan memiliki banyak potensi sumber daya alam berupa lahan dan hutan.

Potensi lainnya ialah, situs bersejarah megalitikum yang telah ada sejak 1.500 - 2.000 tahun sebelum masehi, jauh lebih tua dari Piramida di Mesir, ada di lembah itu. Potensi ini, dapat menjadi magnet penarik wisatawan mancanegara, nusantara dan daerah untuk datang ke daerah tersebut.

"Objek wisata yang ada di Tampo Lore dan Lembah Lore ini skalanya, bukan hanya skala nasional. Tetapi internasional," kata Bupati Poso, Darmin A Sigilipu.

Hampir di semua kecamatan di Lembah Lore memiliki situs patung megalitikum yang tinggi dan besarnya berbeda-beda, disertai batu di zaman kuno yang telah terukir.

Behoa atau Besoa merupakan salah satu wilayah di Lembah Lore yang dapat di kunjungi wisatawan mancanegara, nusantara dan lokal untuk melihat langsung megalitikum di Pokekea.

Pemkab Poso, akan mengintegrasikan dengan membangun jalur darat untuk menghubungkan lokasi Pokekea di Behoa dengan megalitikum di Lembah Bada. Hal itu agar pengunjung atau wisatawan selain dapat melihat langsug megalitikum yang ada di Pokekea, juga dapat berkunjung ke Bada tanpa harus kembali ke Wuasa di Lore Utara.

Tari-tarian dan alat musik tradisional, serta makanan khas daerah dan pakaian adat, khasanah budaya dan adat istiadat, menjadi potensi yang tak kalah menarik untuk disaksikan, selain patung megalitikum.

Di Dataran Lore tersebar ribuan situs perbubakala yang selama ini menjadi daya tarik bagi para wisatawan dari belahan dunia datang baik sebagai turis maupun mahasiswa dan para peneliti.

Peran Pemkab Poso
Pemerintah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, akan memasukkan Festival Lembah Lore ke dalam kalender kegiatan pariwisata, untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di daerah itu.

"Festival Lembah Lore, kalau bisa dimasukkan dalam kalender event pariwisata Kabupaten Poso," ucap Bupati Poso, Darmin A Sigilipu, disela-sela makan bersama "Modulu-dulu" dalam kegiatan Festival Lembah Lore, di Desa Wanga, Kecamatan Lore Peore, Jumat.

Bupati mengatakan Festival Lembah Lore harus dilaksanakan setiap tahun, secara berkesinambungan. Dengan memasukkan Festival Lembah Lore kedalam kalender kegiatanpariwisata Kabupaten Poso, maka secara langsung akan dibiayai lewat APBD serta diselenggarakan setiap tahun.

Namun, agar dapat mencakup seluruh wilayah di Poso, maka nama kegiatan tersebut perlu mengalami perubahan dari Festival Lembah Lore menjadi Festival Tampo Lore.

"Kalau Festival Lembah Lore maka itu hanya bisadilaksanakan di Napu. Tetapi bila menjadi Festival Tampo Lore, maka bisajuga dilaksanakan di Bada," sebut Bupati.

Bupati menyebut di Bada juga terdapat satu patung megalitikum yang bernama Palindo dengan tinggi empat meter.

"Pemkab mendukung kegiatan ini. Ketika panitia menemui saya beberapa waktu lalu, kita langsung rapatkan dengan panitia yang telah terbentuk dari LSM. Saat itu saya langsung perintahkan pak camat dukung kegiatan ini," katanya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA