Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Pengacara Trump Dipanggil dalam Penyelidikan Pemakzulan

Selasa 01 Oct 2019 06:54 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Pengacara Presiden AS Donald Trump, Rudy Giuliani, berbicara di Washington.

Pengacara Presiden AS Donald Trump, Rudy Giuliani, berbicara di Washington.

Foto: AP Photo/Andrew Harnik
Giuliani memiliki waktu hingga 15 Oktober untuk menunjukkan dokumen yang dibutuhkan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Partai Demokrat memanggil pengacara pribadi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump Rudy Giuliani untuk dokumen terkait interaksinya dengan pejabat Ukraina. Panel Intelijen, Luar Negeri, dan Pengawasan dan Reformasi mengumumkan panggilan pengadilan, Senin (30/9).

Giuliani diduga membantu upaya Tump melakukan desakan pada Ukraina untuk menyelidiki Joe Biden sebagai pesaing pemilihan presiden 2020. Komite-komite itu sedang menyelidiki masalah itu. Langkah tersebut menjadi jalan untuk mengungkap fakta, sebagai bagian dari penyelidikan pemakzulan yang disahkan oleh Ketua House of Representatives Nancy Pelosi pekan lalu.

Komite tersebut bergerak cepat dengan tujuan menyelesaikan penyelidikan dan memberikan hasil pada tuduhan yang terjadi pada akhir tahun. Trump dan Giuliani telah mengakui upaya mempengaruhi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki keanggotaan Hunter Biden di dewan perusahaan gas Ukraina pada saat yang sama ayahnya memimpin hubungan diplomatik pemerintahan Obama dengan Kiev.

Ketua panel mengatakan, Giuliani mengatakan di televisi nasional, meminta pemerintah Ukraina untuk mengincar Biden. "Selain pengakuan ini, Anda baru-baru ini menyatakan memiliki bukti dalam bentuk pesan teks, catatan telepon, dan komunikasi lainnya, menunjukkan Anda tidak bertindak sendiri dan pejabat administrasi Trump lainnya mungkin telah terlibat dalam skema ini," ujar ketua panel menulis kepada Giuliani, dikutip dari Aljazirah, Selasa (1/10).

Demokrat juga telah meminta informasi dari tiga rekan Giuliani. Ketua mengatakan dalam sebuah pernyataan, Giuliani memiliki waktu hingga 15 Oktober untuk menunjukkan dokumen yang dibutuhkan.

Baca Juga

photo

Surat panggilan pengadilan datang kepada Giluliani ketika Pemimpin Partai Republik Mitch McConnell mengatakan aturan Senat akan mengharuskan untuk mengambil pasal pemakzulan terhadap Trump jika disetujui oleh House of Representatives. "Saya tidak punya pilihan selain mengambilnya. Berapa lama Anda berada di sana adalah masalah yang sama sekali berbeda," kata McConnell di CNBC.

Saat House of Representatives menyetujui pasal pemakzulan ini, mereka akan dikirim ke Senat untuk diadili. McConnell menyarankan dia tidak memiliki 67 suara untuk mengubah aturan. Namun, dia akan mencoba membuka masalah ini dengan fokus pada isu.

Pertanyaan prosedural yang rumit itu dapat memengaruhi masa depan politik Trump dan pemilihan presiden serta kongres tahun depan. Demokrat telah meluncurkan strategi politik dan pemungutan suara yang terkoordinasi yang bertujuan untuk mencegah serangan balasan di distrik-distrik yang terbelah agar tidak menggulingkan suara mayoritas House of Representatives.

Akhir pekan ini, Ketua Komite Intelijen Adam Schiff mengatakan, panel akan mendengar keterangan dari penggugat yang masih rahasia sesegera mungkin. Belum ada penetapan tanggap pasti untuk mendengarkan keterangan langsung, sebab menunggu rincian lebih lanjut.

Partai Republik tersudut untuk melakukan pembela kepada Trump yang melakukan komunikasi dengan transkrip telepon telah terbuka ke publik. Penggugat telah menyerahkan segala bukti pembicaraan dan tindakan Trump untuk meminta Ukraina bertindak.

Atas tuduhan itu, Trump pun menyatakan di Twitter kalau semua palsu dan menyarankan orang-orang yang memimpin penyelidikan harus ditangkap dan didakwa dengan pengkhianatan. "Dia bahkan tidak tahu itu salah," kata Pelosi, menggambarkan panggilan teleponnya dengan Trump di mana presiden menyarankan dokumen itu akan membebaskan dari tuduhan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA