Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Penyelidikan Penyakit Akibat Vape di AS Fokus pada THC Ganja

Selasa 01 Oct 2019 00:55 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda

Vape dengan perasa sudah mulai dilarang penjualannya di sebagian negara bagian Amerika. Juga dilarang di Jepang dan India.

Vape dengan perasa sudah mulai dilarang penjualannya di sebagian negara bagian Amerika. Juga dilarang di Jepang dan India.

Foto: AP
CDC melaporkan 805 kasus orang jatuh sakit yang dikonfirmasi terkait vaping.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Penyelidikan pejabat kesehatan Amerika Serikat (AS) mengenai penyakit terkait vaping semakin terfokus pada produk yang mengandung senyawa ganja THC. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyebut bahwa dari 800 pasien, sebagian besar merokok THC (tetrahydrocannabinol).

Namun, para pejabat kesehatan belum bisa memastikan apakah THC adalah masalah utama atau kandungan zat cair lainnya dalam vaping yang berperan. “Wabah saat ini menunjuk ke keprihatinan yang lebih besar pada produk yang mengandung THC,” kata perwakilan CDC, dr Anne Schuchat, seperti dilansir di AP.

Sejauh ini, para penyelidik belum mengidentifikasi rokok elektronik tertentu, alat vaping, cairan, atau bahan yang menyebabkan sejumlah orang sakit bersamaan. Namun, sejumlah pasien menyebutkan nama Dank Vapes. Banyak pasien di Illinois dan Wisconsin menggunakan kartrid THC yang sudah terisi yang dijual dalam kemasan Dank Vapes.

“Ini adalah nama produk generik yang tidak benar-benar mengikat kembali ke satu toko atau satu distributor,” ujar Kepala Petugas Medis untuk Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois dr Jennifer Layden.

Menurut dia, pasien mengatakan mendapatkan produk itu dari teman atau orang-orang di jalanan, tanpa memahami dari mana asalnya. Sampai penyebab ditemukan, CDC terus menyarankan pada orang Amerika untuk mempertimbangkan menghindari semua produk vaping.

“Kami belum merasa nyaman untuk menjatuhkan rekomendasi yang lebih luas,” kata dr Schuchat.

Pada pekan ini, CDC melaporkan 805 kasus yang dikonfirmasi akibat vaping dan kemungkinan penyakit paru. Sebanyak 13 orang tewas. Hanya AS yang melaporkan wabah seperti itu, meskipun pejabat Kanada pekan lalu mengkonfirmasi kasus pertama negaranya.

Pada Jumat lalu, CDC memberikan rincian lebih lanjut dalam dua laporan. Pertama, kasus pertama di AS dimulai pada akhir Maret. Kasus-kasus meningkat pada akhir Juni dan meningkat secara dramatis pada akhir Juli. Kedua, usia rata-rata untuk penyakit akibat vaping adalah 23 tahun. Namun, usia rata-rata mereka yang meninggal jauh lebih tua, yakni 50 tahun.

Ketiga, secara nasional, sebanyak sembilan dari 10 kasus memerlukan rawat inap. Banyak remaja yang sebelumnya sehat menjadi membutuhkan mesin pernapasan. Kebanyakan, kasus itu terjadi di Kalifornia, Illinois, Texas, dan Wisconsin. Keempat, di Illinois dan Wisconsin, pasien menyebutkan 87 nama produk yang berbeda, tidak sedikit yang menyesap lebih dari satu produk.

Dokter mengatakan bahwa penyakit pasien menyerupai cedera inhalasi. Gejalanya termasuk sesak napas, kelelahan, sakit dada, diare, dan muntah.

Baca Juga

Pejabat setempat terus menemukan sejumlah besar pasien AS hanya menyesap nikotin, bukan THC. Namun, laporan itu mencatat, sebanyak lima pasien di Wisconsin, yang awalnya menolak menggunakan produk dengan THC, ternyata telah menggunakannya.

Di Wisconsin dan Illinois, penggunaan ganja rekreasi saat ini ilegal. Sejak 2016, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mengatur pembuatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam rokok elektronik berbasis nikotin.

Namun, tidak ada kajian FDA untuk produk THC yang ilegal menurut hukum federal. Merebaknya penyakit dan melonjaknya penggunaan rokok elektronik di bawah umur telah menyebabkan tuntutan regulasi yang lebih ketat dari politisi, pejabat kesehatan masyarakat, dan orang tua.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA