Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Erdogan: Beberapa Pembunuh Khashoggi Nikmati Impunitas

Selasa 01 Oct 2019 05:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan

Foto: Reuters/Umit Bektas
Menurut Erdogan, proses peradilan pembunuhan Khashoggi hampir tidak transparan.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan tetap mencari kebenaran di balik pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi tahun lalu. Ia mengatakan beberapa pembunuh jurnalis itu tampaknya berhasil menghindari keadilan.

Dalam artikelnya di The Washington Post, Erdogan menulis faktanya pembunuh Khashoggi menggunakan paspor diplomatik. Lalu, mereka membuat 'gedung diplomatik sebagai tempat lokasi kejahatan' sehingga dapat menjadi preseden yang sangat berbahaya.

"Mungkin lebih berbahaya dari impunitas yang tampaknya dimiliki beberapa pembunuhnya di balik kerajaan," tulis Erdogan, Senin (30/9).

Ia menambahkan, proses peradilan kejahatan ini hampir sama sekali tidak transparan. Erdogan mengatakan Turki tetap melihat Arab Saudi sebagai teman dan sekutu, tapi tidak berarti mereka akan bungkam.

"Skuad pembunuh 15 anggota membunuh Khashoggi di dalam konsulat Arab Saudi di Istanbul dan memotong-motong tubuhnya menjadi bagian-bagian kecil demi melayani pemerintah bayangan dibalik pemerintah kerajaan," kata Erdogan tanpa menjelaskannya lebih lanjut.

Sebelumnya, Putra Mahkota Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman sekali lagi membantah terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Bantahan terbaru ini ia katakan dalam program acara "60 Minute" yang disiarkan stasiun televisi CBS.

Sebanyak 11 tersangka Arab Saudi sudah dibawa ke pengadilan yang tertutup. Tapi hanya beberapa sidang yang digelar. Laporan PBB meminta Pengeran Mohammed bin Salman dan pejabat senior Arab Saudi lainnya ikut diselidiki.

CIA dan beberapa pemerintah negara Barat lainnya telah mengatakan mereka yakin Mohammed bin Salman memerintahkan pembunuhan tersebut. Kerajaan Arab Saudi sudah berulang kali membantah tuduhan itu.

Khashoggi adalah seorang jurnalis dan kolomnis di The Washington Post. Ia telah menjadi kritikus putra mahkota yang terkemuka.

Pada 2 Oktober 2018 ia masuk ke kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mengambil dokumen menjelang pernikahannya. Tapi sejak itu ia tidak pernah terlihat lagi. Pihak berwenang Turki mengatakan jenazah Khashoggi sengaja dihilangkan dan beberapa bagian tubuhnya belum ditemukan.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA