Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Trump Minta Bertemu Pelapor Skandal Ukraina

Senin 30 Sep 2019 08:57 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: republika
Trump secara terang-terangan menyerang pelapor skandal pembicaraan teleponnya.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan perhatian lebih pada terhadap pelapor skandal Ukraina, Ahad (29/9). Dia menyatakan layak bertemu dengan penuduhnya itu.

"Seperti setiap orang Amerika, saya layak bertemu dengan penuduh saya, terutama ketika penuduh ini, yang disebut 'pelapor' mewakili percakapan yang sempurna dengan pemimpin asing dengan cara yang benar-benar tidak akurat dan curang," ujar Trump melalui akun Twitter.

Keinginan Trump itu belum sempat dibicarakan dengan Ketua Komite Intelijen Adam Schiff. Setelah itu, Schiff menyatakan ada perjanjian tentatif bagi pelapor untuk bersaksi di depan komite.

"Kebohongannya dibuat dengan cara yang paling terang-terangan dan menyeramkan yang pernah dilihat di Majelis Agung. Dia menulis dan membaca hal-hal yang mengerikan, lalu mengatakan itu dari mulut Presiden AS. Aku ingin Schiff ditanyai di tingkat tertinggi tingkat untuk penipuan dan pengkhianatan," kata Trump, dikutip dari CNN, Senin (30/9).

Pengacara pelapor, Mark Zaid, belum mau menanggapi permintaan yang diajukan Trump. Kicauan itu muncul beberapa hari setelah rilis pengaduan pelapor yang menuduh Trump menyalahgunakan jabatannya untuk meminta campur tangan Ukraina dalam pemilihan Amerika pada 2020.

Trump membantah melakukan penyalagunaan kedudukannya. Transkrip yang dikeluarkan oleh Gedung Putih menunjukkan Trump berulang kali mendorong Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyelidiki Hunter Biden yang merupakan putra mantan wakil presiden Joe Biden yang juga menjadi saingan potensial Trump untuk pemilihan presiden berikutnya.

Bahkan sebelum pengaduan pelapor diajukan kepada anggota parlemen, Ketua House of Representatives Nancy Pelosi menyatakan Trump telah mengkhianati sumpah jabatannya. Dia mengumumkan akan membuka penyelidikan pemakzulan kepada Trump pada pekan lalu.

Trump pun membalas serangan yang didapatkannya atas pelaporan yang dilakukan pembisik. Dia akan memberikan konsekuensi besar bagi siapa saja yang membantu memberikan informasi pada orang tersebut karena sudah memata-matai presiden.

"Saya ingin bertemu tidak hanya penuduh saya, yang memberikan informasi tangan kedua dan ketiga, tetapi, juga orang yang secara ilegal memberikan informasi ini, yang sebagian besar tidak benar, kepada 'pelapor,'" kata Trump.

Trump mengatakan pada pekan lalu, orang yang memberikan informasi tentang percakapan teleponnya kepada Zelensky adalah sosok mata-mata. Komentar itu mendorong tiga ketua komite untuk memanggil Trump agar berhenti menyerang pelapor.

"Komentar presiden hari ini merupakan intimidasi saksi yang tercela dan upaya menghalangi penyelidikan tuduhan oleh Kongres. Kami mengutuk serangan presiden, dan kami mengundang rekan-rekan Republik kami untuk melakukan hal yang sama karena Kongres harus melakukan semua yang dapat dilakukan untuk melindungi pelapor ini, dan semua pelapor," ujar penyataan komite.

Menurut mereka, ancaman kekerasan dari pemimpin negara memiliki efek mengerikan pada seluruh proses pelapor. Hal ini akan menjadi konsekuensi besar bagi demokrasi dan keamanan Amerika.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA