Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

China Desak Resolusi Perdamaian untuk Perang Dagang

Senin 30 Sep 2019 07:44 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Bendera Cina dan AS

Bendera Cina dan AS

Foto: AP PHOTO/Andy Wong
China dan AS akan menggelar perundingan dagang pada 10-11 Oktober 2019

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China berharap, Beijing dan Washington akan menyelesaikan sengketan dagang yang terus memanas dengan sikap yang tenang dan rasional. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Perdagangan China, Wang Shouwen, pada Ahad (29/9) sebagaimana dikutip dari Reuters.

Pernyataan Wang merupakan harapan China sebelum kedua negara melangsungkan pertemuan pada dua pekan yang akan datang. Amerika Serikat (AS) dan China telah terkunci dalam perang dagang yang meningkat selama lebih dari satu tahun terakhir.

Masing-masing negara telah menaikkan tarif bea masuk terhadap produk-produk satu sama lain senilai ratusan miliar dolar. Perang dagang semacam ini telah mengguncnag pasar keuangan dan mengancam prospek pertumbuhan ekonomi global ke depan.

Babak baru perundingan kedua negara diperkirakan bakal berlangsung pada 10-11 Oktober 2019. Pihak China sendiri bakal dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri China sekaligus penasihat ekonomi utama Presiden Xi Jinping, Liu He.

Wang Shouwen yang juga menjadi bagian dari tim perunding mengatakan, China berharap kedua belah pihak menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan satu sama lain. "Kami percaya ini akan bermanfaat bagi masyarakat dan dunia," kata Wang.

Sementara itu, Pemerintahan Donald Trump diketahui tengah mempertimbangkan taktik tekanan finansial baru untuk Beijing. Termasuk, kemungkinan untuk menghapus perusahaan-perusahaan China dari bursa saham AS.

Sumber Reuters pada Jumat, pekan lalu, menuturkan, rencana kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya AS untuk membatasi investasi AS ke perusahaan-perusahaan China. Selain itu karena adanya kekhawatiran terhadap kegiatan keamanan dari perusahaan-perusahaan China.

China pun merespons dengan melontarkan kritik terhadap AS. China menyoroti tentang kurangnya akses pasar bagi perusahaan AS, kegiatan transfer teknologi yang dilakukan secara paksa, serta buruknya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual.

Wang menegaskan bahwa Pemerintah China akan tetap membuka lebih banyak sektor ekonomi bagi investor asing dan kebijakan melindungi hak-hak perusahaan asing tidak akan berubah.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan China, Zhong Shan, mengatakan, bahwa perusahaan-perusahaan China menghadapi kesulitan karena gesekan perdagangan. Hal ini menjadi tantangan yang amat sulit karena belum pernah terjadi sebelumnya.

Karena itu, perusahaan-perusahaan China akan memperluas impor dan mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan perdagangan. Namun, Zhong tidak memerinci seperti apa kebijakan perluasan impor dan langkah-langkah konkret apa saja yang bakal ditempuh pemerintah.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA