Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

6 Bulan Lagi, Space X Angkut Penumpang ke Bulan dan Mars

Senin 30 Sep 2019 06:31 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Esthi Maharani

Elon Musk.

Elon Musk.

Foto: EPA
6 Bulan Lagi, Space X mengaku siap angkut penumpang ke bulan dan Mars

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemilik SpaceX, Elon Musk, telah meluncurkan iterasi terbaru dari pesawat luar angkasanya Starship. Ia mengklaim, Starship akan bisa mengorbit enam bulan ke depan sebagai kendaraan utama dan tercepat bagi manusia yang ingin pergi ke bulan dan Mars.

"Ini adalah terobosan kritis untuk mencapai peradaban baru. Starship akan membuat perjalanan ruang angkasa bak perjalanan udara," kata Musk, dilansir Reuters, Senin (30/9).

Starship adalah bagian dari sistem roket antarplanet kolosal Musk yang tingginya 387 kaki atau 118 meter. Musk mengungkap rencana SpaceX Starship pengisian ulang orbital yang akan memungkinkan bahan bakar ditransfer antara pesawat ruang angkasa di orbit.

Desa Boca Chican yang terletak beberapa mil di utara perbatasan Meksiko, adalah titik nol untuk program pengujian eksperimental tiga tahun SpaceX untuk Starship.

"Saya akui memang cukup bahaya sebenarnya untuk warga sekitar Desa Boca Chica. Jadi mungkin seiring waktu akan lebih baik untuk membeli lahan desa-desa, dan kami telah membuat penawaran untuk efek itu,” ungkap Musk. Namun beberapa warga telah menolak tawaran SpaceX yang tidak bisa dinegosiasikan untuk membeli rumah mereka tiga kali lipat dari nilai pasar.

Misi Musk ke bulan selaras dengan tujuan NASA mengirim manusia ke sana pada tahun 2024 di bawah program Artemis. Badan antariksa telah memanfaatkan SpaceX untuk mencari tahu cara mendaratkan kendaraan di permukaan bulan dan membantu mengembangkan sistem pengisian bahan bakar roket seperti Starship di luar angkasa.

"Teknologi penting untuk membantu upaya eksplorasi berkelanjutan di Bulan dan Mars," kata NASA dalam sebuah keterangan pers.

NASA telah mengucurkan dana kepada SpaceX dan Boeing Co (BA.N) dengan total sebesar 6,8 miliar dolar AS, untuk membangun sistem roket yang siap bersaing. Pengembangan kedua kapsul astronot telah dilanda oleh penundaan dan menguji kesalahan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA