Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Eksodus dari Wamena Berlanjut

Sabtu 28 Sep 2019 08:21 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana aktivitas jual beli di Wamena, Jayawijaya, Papua, Kamis (26/9/2019).

Suasana aktivitas jual beli di Wamena, Jayawijaya, Papua, Kamis (26/9/2019).

Foto: Antara/Iwan Adisaputra
Warga mengantre hingga tiga hari menunggu dievakuasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAWIJAYA – Gelombang evakuasi warga dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, terus berlanjut terkait kerusuhan yang terjadi di wilayah itu pada Senin (23/9). Lebih dari seribu warga telah meninggalkan daerah tersebut hingga Jumat (27/9).

Lebih dari seratus pengungsi asal Wamena, sejak Jumat siang tiba di Timika dan untuk sementara menempati posko pengungsian di Markas Komando Pangkalan TNI AU (Lanud) Yohanes Kapiyau Timika. Komandan Lanud Yohanes Kapiyau Timika Letkol Penerbang Sugeng Sugiharto mengatakan, pada Jumat pagi sebanyak 187 orang pengungsi dari Wamena menumpang pesawat Hercules TNI AU tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika.

Dari jumlah itu, menurut dia, 25 orang berencana melanjutkan perjalanan menuju Semarang Jawa Tengah; 51 orang menuju Biak Numfor, Papua; dan 19 orang menuju Makassar, Sulawesi Selatan. “Untuk sementara ini, kami menyiapkan posko di Lanud Timika. Kami akan berkoordinasi dengan Pemkab Mimika untuk penanganan selanjutnya para pengungsi ini,” kata Letkol Sugeng.

Ia mengatakan, sebagian pengungsi memang mengharapkan kembali ke Jawa, tapi ada juga memilih tinggal di Timika karena memiliki keluarga di wilayah itu. Saat ini, menurut dia, para pengungsi tersebut mendapat pelayanan dari jajaran Lanud Timika dan sejumlah organisasi kemasyarakatan, seperti Baznas Tanggap Darurat Kabupaten Mimika dan lainnya.

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto mengatakan, tidak tertutup kemungkinan jumlah pengungsi Wamena yang tiba di Timika akan bertambah. Hal itu mengingat wilayah terdekat dari Wamena, yaitu ke Timika atau ke Sentani, Jayapura.

“Kemarin saja ada lima kali sorti penerbangan pesawat Hercules TNI AU menuju Sentani Jayapura. Tugas kami, baik pemerintah daerah maupun TNI dan Polri, yaitu memberikan tempat penampungan yang layak, ada dapur umum, ada pelayanan kesehatan, ada fasilitas MCK, dan lain-lain,” ujar Kapolres.

Kapolres mengharapkan peran serta komunitas paguyuban dari berbagai suku di Timika untuk ikut membantu dalam meringankan beban para pengungsi.

Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda NTB Najamuddin Amy mengatakan, pihaknya juga telah mendata warga NTB yang terjebak di Wamena. Informasi adanya warga NTB korban kerusuhan di Wamena ini telah berhasil terkonfirmasi melalui panggilan telepon dengan Mazhari, guru kontrak asal Soromandi, Bima dan Suhardin, guru kontrak asal Rada, Bolo, Bima.

Berdasarkan keterangan keduanya, diketahui adanya 153 jiwa warga NTB penyintas kerusuhan. Dari jumlah tersebut, 40 orang sudah dievakuasi ke Sentani, Jayapura, dengan pesawat komersial, dibantu oleh Rukun Keluarga Bima (RKB) Jayapura. Saat ini, 48 orang lainnya sedang menunggu pemberangkatan.

“Atas informasi tersebut, gubernur langsung memerintahkan agar ditempuh upaya semaksimal mungkin untuk mengevakuasi warga NTB di daerah tersebut, ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, T Wismaningsih Dradjadiah menegaskan, sejumlah upaya serius telah ditempuh untuk mempercepat evakuasi. Warga NTB yang tengah mengungsi di bandara, kini mengharapkan adanya bantuan komunikasi, yang difasilitasi dari Pemkab Bima. "Pemprov NTB kini mengupayakan agar mereka diprioritaskan untuk dievakuasi. Warga Bima di Sentani Jayapura standby menunggu mereka," ujar Wismaningsih.

Sejak Selasa (24/9), TNI AU memberikan tumpangan gratis bagi warga yang hendak keluar dari Jayawijaya. "Diperkirakan, jumlahnya sudah menurun pada tiga hari terakhir, tetapi kenyataannya sejak pagi tadi sudah berkumpul hampir 1.500 warga yang meminta keluar dari Wamena," kata Kepala Detasemen TNI AU Wamena, Mayor PNB Arief Jadmiko di Wamena, kemarin.

Sehubungan kapasitas hercules yang hanya bisa memuat 160 hingga 170 orang sekali terbang, sebagian warga harus mengantre selama tiga hingga empat hari. "Karena yang diangkut adalah anak-anak dan perempuan sehingga kita tidak terlalu memuat banyak, agar jangan sampai ibu yang membawa bayi terjepit," katanya.

Ia mengharapkan, Kementerian Perhubungan membantu agar warga tidak kesulitan mendapat akses ke luar dari Jayawijaya. "Kiranya ada keputusan untuk maskapai sipil bisa membantu, khususnya yang beroperasi di Wamena," katanya.

Berdasarkan pantauan Antara, ratusan warga memadati Bandara Kargo di Wamena. Beberapa ada yang mengklaim, sudah tiga hari menunggu giliran. Warga yang hendak mengungsi terdiri atas warga pendatang dan warga asli Papua.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA