Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Sejak Merdeka, Jakarta Sudah Menjadi Gelanggang Unjuk Rasa

Rabu 25 Sep 2019 15:08 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Mahasiswa yang berdemonstrasi di depan Gedung DPR/MPR mulai memasuki jalan Tol S Parman sekitar pukul 14.45 WIB. Kemacetan panjang pun terjadi.

Mahasiswa yang berdemonstrasi di depan Gedung DPR/MPR mulai memasuki jalan Tol S Parman sekitar pukul 14.45 WIB. Kemacetan panjang pun terjadi.

Foto: Republika/Esthi Maharani
Sejak merdeka, sudah tak terhitung berapa banyak unjuk rasa digelar di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR dan sejumlah wilayah di Indonesia menyulut emosi dari aparat. Bentrokan tak terhindarkan dan tentu saja memakan korban luka. Sepanjang sejarah Indonesia berdiri, bumi Nusantara sudah hampir tak terhitung lagi berapa banyak aksi demonstrasi digelar berbagai elemen masyarakat.

Pascaproklamasi kemerdekaan aksi unjuk rasa pecah di Jakarta, tepatnya di lapangan Ikada. Zaman penjajahan Belanda dan Jepang, di masjid atau mushala, umat Islam melalui ajaran agama mengemukakan kejengkelannya terhadap penjajah.

Hanya sebulan setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya pada 19 September 1945, terjadi unjuk rasa berupa kebulatan tekad untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Unjuk rasa ini, yang dikenal dengan nama "rapat raksasa Ikada", dilakukan di lokasi yang kini dikenal sebagai Lapangan Monas, Jakarta Pusat.

photo
Lapangan IKADA diabadikan dari udara.

Pesertanya membeludak ratusan ribu orang. Padahal, kala itu penduduk Jakarta tidak sampai setengah juta jiwa. Peserta juga berdatangan dari Bogor, Depok, Tangerang, dan sekitarnya.

Di sinilah Presiden Soekarno berpidato singkat menyuruh mereka bubar dengan tenang. Maklum, aksi ini berlangsung di tengah todongan senjata pasukan Jepang. Pasukan Negeri Sakura setelah kalah perang dengan Sekutu diminta menjaga keamanan Indonesia.

Pada masa demokrasi liberal, tepatnya 17 Oktober 1952, tentara yang dipimpin Kolonel Abdul Haris Nasution menyerbu dan memasuki pintu gerbang Istana Merdeka dengan kendaraan tank berlapis baja. Dalam aksi yang dilakukan dari Monas itu, tentara membawa poster bertuliskan "Bubarkan Parlemen".

Nasution mengatakan, "Ini tidak ditujukan kepada Bung Karno pribadi, melainkan untuk menentang sistem pemerintahan."

Bung Karno berjanji untuk mengadakan pemilu pada 1955. Peristiwa 17 Oktober ini mengakibatkan jatuhnya pemerintahan dan terjadi pertentangan di kalangan ABRI yang berlangsung cukup lama.

Trikora dan Dwikora

Pada masa demokrasi liberal ini, adanya pertarungan sengit antarparpol membuat demo marak terjadi. Sebagian besar demo disebabkan kepentingan kelompok dan golongan, khususnya antara propemerintah dan oposisi.

Pada masa Bung Karno, sebagai tokoh karismatik dan menguasai massa, dia sering mengerahkan rakyat untuk menyokong ide-ide politiknya. Pada 20 Oktober 1957 berlangsung rapat raksasa di Lapangan Banteng Jakarta Pusat.

Di hadapan ratusan ribu massa, ia mencetuskan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang berisi: Gagalkan Negara Papua, Kibarkan Merah Putih di Irian Barat, dan Bersiaplah untuk mobilisasi umum.

Pada 1960-an ketika terjadi konfrontasi terhadap Malaysia, Bung Karno mengajak rakyat untuk mengganyang Malaysia. Lalu, lahirlah Dwi Komando Rakyat: Perhebat ketahanan revolusi Indonesia dan Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, dan Serawak.

Sejak itu, demo-demo anti-Malaysia tidak pernah sepi, bukan hanya di Jakarta, melainkan di berbagai tempat di Tanah Air. Tapi, demo ketika itu belum sampai memblokir jalan tol dan jalan raya hingga yang mengakibatkan ekonomi terhambat.

Ketika itu, pada tembok-tembok dan sudut-sudut kota, kita jumpai karikatur besar, "Ganyang Proyek Nekolim Malaysia" dan "Tengku Abdurahman (PM Malaysia ketika itu) Antek Nekolim".

Kedutaan Malaysia di Jalan Budi Kemuliaan dan Jalan Jawa diambil alih. Demikian juga rumah keluarga Alkaff, warga Singapura, di Kwitang.

Kala itu, Singapura masih menjadi bagian Malaysia. Inggris yang menyokong Malaysia juga menjadi sasarannya. Kedutaan besar Inggris di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, dibakar massa, termasuk bendera dan lambang negara itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA