Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Israel Padamkan Listrik di Sejumlah Wilayah Tepi Barat

Senin 23 Sep 2019 13:06 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Seorang warga melintasi pertokoan di Hebron, Tepi Barat, Palestina.

Seorang warga melintasi pertokoan di Hebron, Tepi Barat, Palestina.

Foto: ABED AL HASHLAMOUN/EPA-EFE
Listrik diperkirakan mati selama dua jam setiap hari di beberapa kota Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Perusahaan listrik nasional Israel mengatakan, telah mulai mengurangi pasokan listrik ke sejumlah wilayah Palestina di Tepi Barat yang diduduki karena adanya masalah keuangan, Ahad (22/9) waktu setempat. Hal tersebut dilakukan dalam langkah yang meningkatkan krisis kemanusiaan.

Israel Electric Co. mengatakan mengambil langkah itu karena Jerusalem District Electricity Co. sebagai distributor listrik utama Palestina memiliki tunggakan utang yang membengkak sekitar 485 juta dolar AS. Seorang pejabat distributor listrik Palestina, Ali Hamodeh mengatakan, listrik diperkirakan akan mati selama dua jam setiap hari di beberapa kota Palestina dalam beberapa pekan mendatang.

Baca Juga

"Israel membesar-besarkan tingkat utang dan menyebut kekuasaan memotong eksploitasi politik," katanya dilansir Daily Sabah, Senin (23/9).

Warga Palestina mengandalkan Israel untuk hampir semua pasokan listrik sebab pemadaman listrik lebih lanjut oleh Israel akan menyebabkan runtuhnya total layanan dasar di wilayah Palestina yang diduduki. Warga Gaza telah lama menderita kekurangan listrik dan mengalami pemadaman yang kritis. 

Saluran listrik baru dari Israel telah diusulkan untuk meringankan situasi sehingga kini warga mendapat enam jam listrik diikuti dengan 12 jam padam. Satu-satunya pembangkit listrik yang ada kerap kehabisan bahan bakar untuk generator. Sementara jatah pasokan listrik hanya hingga empat jam per hari. 

Gerakan Hamas merebut kekuasaan di Gaza pada 2007 dari keompok Fatah yang berpisat di Ramallah. Hamas mengimpor diesel untuk generator melalui Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Namun, Hamas terus berselisih mengenai pembayaran yang menyebabkan kekurangan pasokan. Cuaca dingin di Gaza juga meningkatkan permintaan listrik dan bahan bakar untuk generator. 

Kota ini membutuhkan listrik 500 megawatt (MW) setiap hari, tetapi hanya menerima kurang dari 250 MW. Karena kurangnya listrik, orang-orang terutama mengandalkan generator berbahan bakar bensin dan panel surya untuk menjaga lemari es mereka tetap berjalan dan memiliki akses ke air panas. 

Oleh karena harga minyak tinggi, warga Gaza berada dalam situasi yang mengerikan.  Ratusan orang telah terlibat dalam protes terhadap Israel dan Otoritas Palestina (PA). Hal itu terjadi karena hanya tiga jam listrik yang tersedia per hari. PBB pun telah memperingatkan setengah dari populasi Gaza membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Fatah dan Hamas merupakan dua faksi utama pembebasan Palestina. Fatah berkuasa di Tepi Barat selaku penguasa otoritas Palestina. Sedangkan, Hamas berkuasa di Gaza.

Kedua faksi ini terlibat sengketa sejak Hamas memenangkan pemilu pada 2006 dan berkuasa di Gaza setahun kemudian. Tepi Barat dan Gaza terpisah akibat penjajahan Israel. Di wilayah pemisah ini lalu dibangun permukiman Yahudi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendamaikan kedua faksi, tetapi selalu gagal karena perbedaan prinsip.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA