Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Ini Harapan Menko Darmin untuk Financial Technology

Senin 23 Sep 2019 12:39 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berbicara dalam acara Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (23/9).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berbicara dalam acara Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (23/9).

Foto: Republika/Adinda Pryanka
Indonesia masih butuh wadah untuk inklusi keuangan, salah satunya melalui fintech.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap, keberadaan teknologi finansial (tekfin) dapat berkontribusi besar membantu pemerintah dalam mencapai target inklusi keuangan 75 persen pada tahun ini. Sebab, tekfin dapat lebih menjangkau masyarakat di berbagai daerah dari ragam latar belakang. 

Baca Juga

Data Bank Dunia menunjukkan, saving ratio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih berada di tingkat 31 persen pada 2017. Nilai tersebut terbilang tinggi, tapi masih lebih rendah dibanding dengan Singapura dan Cina yang mencapai 46 persen.

"Bahkan Thailand pada level 34 persen," ucapnya dalam acara Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (23/9). 

Oleh karena itu, Darmin menuturkan, pemerintah meluncurkan Strategi Keuangan Nasional Inklusif (SKNI) melalui Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016. Salah satu capaian yang sudah dimiliki pemerintah adalah peningkatan akses terhadap institusi keuangan formal. 

Darmin menjelaskan, pada 2017, jumlah penduduk dewasa yang sudah mencapai akses itu adalah 48,9 persen. Nilai tersebut lebih tinggi dibanding dengan 2014 yang hanya 30 persen. 

Hanya saja, Darmin menegaskan, Indonesia masih butuh banyak batu loncatan untuk menjangkau target inklusi keuangan 75 persen. Di antaranya menggandeng tekfin. 

"Masyarakat butuh layanan keuangan yang lebih mudah dan favourable, fintech dapat memfasilitasinya," tuturnya. 

Darmin menilai, tekfin akan memiliki peranan penting dalam inklusi keuangan. Sebab, berdasarkan data Asosiasi Fintech (Aftech) Indonesia, 70 persen portofolio tekfin terdiri dari lapisan masyarakat yang tidak terlayani perbankan (unbanked dan underbanked). 

Darmin menyebutkan, ada empat harapan pemerintah terhadap tekfin. Pertama, tekfin harus mampu menjangkau populasi di kawasan terluar dan terdalam di Indonesia. Kedua, tekfin dapat bekerja sama dengan agen perbankan. 

Ketiga, Darmin menuturkan, industri tekfin tidak hanya fokus memperoleh keuntungan, juga fokus meningkatkan edukasi dan proteksi terhadap konsumen. Terakhir, tekfin dapat mengintegrasikan diri dengan sektor ekonomi riil. "Khususnya yang telah mengadopsi teknologi," katanya. 

Di sisi lain, Darmin memastikan, pemerintah terus berbenah untuk menyiapkan ekosistem tekfin yang mendukung. Di antaranya membangun infrastruktur jaringan internet, peningkatan literasi finansial hingga menciptakan regulasi framework (kerangka regulasi) yang suportif. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA