Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Always See on Sides: Radikalisme, Hingga Khilafah.

Senin 23 Sep 2019 06:22 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Founder Karim Consulting Indonesia, Adiwarman Karim menjawab pertanyaan wartawan usai memaparkan Outlook Perbankan Syariah 2019 di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta , Kamis (6/12).

Founder Karim Consulting Indonesia, Adiwarman Karim menjawab pertanyaan wartawan usai memaparkan Outlook Perbankan Syariah 2019 di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta , Kamis (6/12).

Foto: Republika/Prayogi
Engganya investor asing datang tak terkait dengan radikalisme atau khilafah.

Oleh: Adiwarman Karim, Pakar Ekonomi Syariah

Kegaduhan pilpres ternyata diikuti dengan berbagai kegaduhan lain, seakan tidak ada habisnya mengaduk emosi masyarakat. Meletup secara sporadis menjelang pelantikan Presiden dan Wapres terpilih.

Kegaduhan Papua, kebisingan rencana ibu kota baru, kekalutan revisi UU KPK dan hal yang menyertainya, kehebohan RUU KUHP, keonaran kebakaran hutan dan lahan, turbulensi ekonomi menyerangsang ketenangan dan kedamaian hati rakyat.

Sing waras ngalah, yang jernih pikiran sebaiknya nga-Allah, mengembalikan semua masalah kepada Allah. Bukan mengalah dalam artian kalah untuk memperjuangkan kebajikan dan membiarkan karut-marut keonaran merajalela. Always see on the bright sides.

Kegaduhan Papua membuka mata kita betapa berharganya persatuan Indonesia. Ini bukan soal sumber daya alam Papua, bukan pula soal mayoritas minoritas, tapi ini soal yang jauh lebih mendasar, yaitu Papua adalah Indonesia.

Kebisingan rencana ibu kota baru membuka kembali lembar sejarah panjang betapa pentingnya Jakarta sebagai ibu kota. Ini bukan soal membuka daerah baru sebagai titik pertumbuhan ekonomi, bukan pula soal kemacetan, tapi ini soal sejarah lahirnya bangsa Indonesia.

Kekalutan revisi UU KPK dan hal yang menyertainya membuka kotak pandora. Dalam mitologi Yunani, Pandora sangat penasaran membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, tiba-tiba aroma yang menakutkan terasa di udara. Berbagai keburukan keluar dari kotak itu dan hanya menyisakan satu hal, yaitu harapan.

Kehebohan RUU KUHP menelanjangi kita betapa sulitnya menyusun kitab hukum yang komprehensif dan tak lekang kemajuan zaman. Itu sebabnya Napoleon Bonaparte ketika meninggalkan Mesir tahun 1799 tanpa ragu menyalin hukum Islam menjadi Napoleon Code yang menjadi dasar Civil Law di seluruh dunia, termasuk di Belanda yang dibawa ke Indonesia dalam bentuk Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie untuk pidana dan Bugerlijk Wetboek voor Nederlandsch-Indie untuk perdata.

Muzaffar Hussain dalam risetnya, "Islamic Law and The Modern Age", dan Aziez Salah Eddine dalam risetnya, "Quotations French Civil Law from Sharia Law", menimbulkan kerinduan untuk nga-Allah, menghidupkan kembali penelusuran ke sumber asli rujukan utama hukum Indonesia yang ternyata adalah hukum Islam.

Keonaran kebakaran hutan dan lahan seakan menghapus prestasi pemerintah dalam mengurangi insiden tahunan itu. Sekaligus menyadarkan kita akan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dan ketegasan negara dalam menegakkan hukum yang berkeadilan.

Turbulensi ekonomi tidak dapat dihadapi dengan pencitraan dan rekayasa finansial saja. Ari Kuncoro, profesor Universitas Indonesia, dalam artikelnya, "Mitigasi Hantu Resesi", menjelaskan mengenai perekonomian dunia yang hampir memasuki resesi dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.

Persoalan ekonomi yang sarat dibicarakan saat kampanye pilpres bukan sekadar fiksi. Untuk keperluan kampanye memang dapat diselesaikan dengan silat lidah dan pencitraan. Dalam kenyataannya, turbulensi ekonomi harus diselesaikan dengan pikiran jernih untuk kepentingan bangsa dan negara.

Bank Dunia dalam risetnya, "Global Economic Risk and Implications for Indonesia", menelaah sejumlah masalah yang menghambat investasi asing di Indonesia. Masalah inilah yang ditengarai menjadi penyebab tidak satu pun industri yang merelokasikan pabriknya dari Cina. Mereka lebih memilih Vietnam.

Menurut Bank Dunia ada dua kelompok masalah. Pertama, Indonesia dinilai berisiko, rumit, dan tidak kompetitif dalam proses perizinan, pengurusan SNI, dan proses impor untuk produksi ekspor. Kedua, regulasi tidak terprediksi, inkonsisten, dan saling bertentangan. Terlalu banyak peraturan menteri, peraturan daerah sering kontradiktif, dan tidak ada entitas tunggal yang akuntabel.

See on the bright sides. Terima kasih kepada Bank Dunia yang telah memberikan masukan berarti untuk mengundang investasi asing. Ternyata hanya ada dua kelompok masalah yang harus diselesaikan, dan semuanya berada dalam kewenangan birokrasi pemerintahan. Tidak satu pun yang terkait dengan radikalisme, Islam garis keras, atau khilafah. Kelompok sempalan selalu ada di negara paling liberal sekalipun.

Investor asing malah melihat Indonesia sebagai negara Muslim yang sangat potensial karena tiga hal. Pertama, skala ekonomi yang sangat besar dengan pertumbuhan dan stabilitas. Kedua, populasi dan sumber daya alam yang melimpah. Ketiga, masyarakat religius dengan pemahaman modern dan terbuka.

Populasi Indonesia mampu menopang konsumsi domestik untuk memastikan tercapainya pertumbuhan ekonomi minimal 4 persen. Angka ini tercapai bahkan ketika golongan berpenghasilan menengah masih 45 juta orang (18,8 persen) pada 2010. Data Bappenas memperkirakan golongan ini menjadi 85 juta (31,3 persen) pada 2020, 165 juta (55,7 persen) pada 2030, 237 juta (75,7 persen) pada 2040, dan 254 juta (79,85 persen) pada 2045.

See on the bright sides. Indonesia adalah masa depan dunia, sebagian besar rakyatnya kelas menengah, dan sebagian besar adalah umat Islam. Maka, Indonesia adalah masa depan Islam yang memiliki kekuatan ekonomi sangat besar, religius, dan berpendidikan.

Kita harus jernih memilah mana yang menjadi persoalan strategis bangsa, mana yang sekadar kegaduhan politik kepentingan. Bangsa ini bangsa besar dengan budaya ratusan tahun dan telah berinteraksi dengan budaya-budaya besar dunia. Budaya Cina, India, Arab, Eropa, dan Afrika tidak dapat mengubah warna samudra budaya Indonesia. Semua terserap dan melebur memperkaya budaya Indonesia.

Sing waras ngalah. Kebangkitan kesadaran masyarakat untuk nga-Allah, mencari solusi permasalahan dengan mendekatkan diri kepada Allah adalah keniscayaan. Subsidi BPJS Kesehatan dapat diatasi dengan teknis finansial tertentu. Berita baiknya, teknis finansial itu sesuai dengan prinsip syariah. Berita buruknya, sejarah 800 tahun kejayaan ekonomi Islam tidak banyak diketahui sehingga tidak dijadikan rujukan alternatif solusi.

Kesadaran akan makanan halal dan gaya hidup halal akan mendorong tumbuhnya halal industrial estates, halal trade centers, dan wisata inklusif yang memberikan kenyamanan bagi wisatawan Muslim. Kesadaran akan ekonomi syariah akan mendorong ekonomi Indonesia yang lebih sehat dan kuat.

Always see on the bright sides. Islam bukan beban bagi Indonesia. Islam adalah jiwa Indonesia dan Indonesia adalah tempat kebangkitan Islam dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA