Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Peternak Berharap Indonesia tak Mengimpor Paha Ayam Brasil

Ahad 22 Sep 2019 15:41 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nidia Zuraya

Impor daging ayam Indonesia.

Impor daging ayam Indonesia.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Masuknya paha ayam impor dari Brasil bakal memperburuk harga ayam peternak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menanggapi dibukanya impor ayam Brasil atas buntut kekalahan sengketa dagang RI di World Trade Organisation (WTO) oleh Brasil, peternak mandiri berharap impor yang masuk bukan jenis potongan paha ayam atau chicken leq quarter (CLQ). Sebab, masuknya CLQ bakal memperburuk harga ayam peternak lebih jauh lagi.

Anggota Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) Guntur Rotua menyampaikan, tercatat harga ayam peternak lokal semakin anjlok apabila produk CLQ masuk ke dalam negeri. Pada awal tahun 2000-an, kata dia, masuknya impor CLQ mampu mengerek harga ayam lokal hingga ke level terendah dan rata-rata hanya Rp 9.000 per kilogram (kg).

“Kalau yang masuk itu (ayam) karkas utuh, kami enggak terlalu khawatir. Tapi kalau yang masuk CLQ, harga (ayam peternak lokal) pasti akan hancur parah,” ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (22/9).

Dia menjabarkan, perbedaan harga ayam karkas utuh dengan CLQ cukup berjarak. Hal itu karena ayam CLQ di Brasil masih dianggap sampah dan kebanyakan tidak dikonsumsi oleh konsumen di negara Amerika Latin tersebut. Belum lagi karkas ayam Brasil dinilai sulit untuk bersaing dengan harga ayam lokal karena ada komponen biaya masuk serta pajak yang dikenakan.

Untuk itu dia meminta kepada pemerintah untuk mengatur jenis ayam yang masuk agar tak berbentuk CLQ. Menrut dia apabila ayam impor CLQ memenuhi pasar domestik, hal itu bakal membuat suplai semakin membanjir terutama di kalangan konsumen good processing pabrikan seperti produsen nugget dan daging ayam olahan.

“Artinya kan karena CLQ ini enggak boleh masuk selama ini, customer di pabrik olahan itu pakai (ayam) lokal kan. Nah kalau CLQ ini boleh masuk, itu bahaya karena harganya pasti jauh beda, ada segmen pasar 5 persen saja yang diambil oleh mereka, maka suplainya bisa lebih banjir lagi,” kata Guntur.

Dia menambahkan, selama ini belum ada proteksi yang pasti dari pemerintah untuk melindungi usaha peternakan milik peternak mandiri. Misalnya, di kala harga anjlok, peternak mencari cara-cara tersendiri untuk menyeimbangkan produksi dengan pasar yang ditujunya.

Dia mencontohkan, mayoritas peternak mandiri kerap memangkas produksi mereka dengan mengurangi kandang yang ada. Hal itu agar ketika harga ayam bergejolak, kerugian yang dialami dapat ditekan seminimal mungkin.

Dia menyebut, secara pribadi pihaknya telah mengurangi produksi yang tadinya sebanyak 120 ribu ekor ayam per tujuh minggu, kini hanya berproduksi sebesar 40 ribu ekor saja. “Saya pakai skema hit and run saja. Jadi kalau harga lagi bagus kami dapat untung meski enggak tinggi, sedangkan kalau harga lagi anjlok maka kerugiannya bisa kami tekan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjabarkan, sulit bagi peternak mandiri untuk berubah apalagi meningkatkan nilai tambah produksi sebab minimnya modal. Jangankan untuk menuju ke arah itu, kata dia, untuk dapat bertahan di tengah gempuran harga ayam yang kerap bergejolak pun tak sedikit peternak mandiri yang bisnisnya berguguran.

Dia menyayangkan langkah pemerintah baik itu Kementerian Pertanian (Kementan) maupun Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang abai dalam merealisasikan janji-janjinya kepada peternak. Salah satu janji yang kerap diabaikan adalah mengatur suplai produksi dan impor bibit anak ayam atau day old chicken (DOC), serta perbaikan data produksi dengan kebutuhan yang tak kunjung terealisasi.

Sebelumnya, dalam siaran pers yang diterima Republika, Sabtu (21/9), Wakil Presiden terpilih Ma’ruf Amin meminta kepada seluruh pejabat terkait di sektor peternakan unggas untuk memastikan kehalalan produk ayam Brasil. Menurut Ma’ruf, perilaku konsumen masyarakat Indonesia yang lebih menyukai produk sefar dapat menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk menahan impor masuk.

Di sisi lain, Ma’ruf juga menyoroti perihal permintaan daging ayam dan telur yang terus meningkat setiap tahunnya namun fakta stabilitas bisnis peternak lokal justru semakin terpuruk.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 produksi ayam ras pedaging mencapai 2,14 juta ton atau meningkat 4,75 persen jika dibandingkan pada 2017 sebesar 2,05 juta ton. Sedangkan konsumsi daging ayam ras per kapita per tahun di Indonesia pada 2017 mencapai 5,68 kg, atau meningkat sebesar 573 gram atau sebesar 11,2 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA