Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Pesona Cita dan Cinta Habibie

Ahad 22 Sep 2019 07:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

BJ. Habibie bersama Ainun Habibie

BJ. Habibie bersama Ainun Habibie

Foto: dok. Istimewa
Nama Habibie adalah yang paling banyak dipinjam sebagai nama anak yang baru lahir.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hamdan Juhannis, Rektor UIN Alauddin Makassar

Mimpi saya untuk bertemu langsung dengan Bapak Habibie terpendam 30-an tahun, sejak mulai mengenal nama dan ketenarannya sampai pada dua tahun lalu, 2017 di Kota Parepare, tempat kelahiran beliau. Saya bertemu dengan beliau saat diminta Wali Kota Parepare, H.M. Taufan Pawe untuk menyampaikan ceramah agama pada acara silaturahim beliau dengan masyarakat Parepare.

Saya teringat, saat dihubungi untuk mengisi acara tersebut, sedang berada di Banjarmasin. Saya dihubungi sore hari untuk acara besoknya.

Saya begitu 'gemes' dengan situasi saya. Dalam benak saya, 'now or never' untuk bertemu langsung dengan Pak Habibie. Untung bisa diraih, saya mendapatkan pesawat untuk pulang ke Makassar pada malam harinya dengan transit, dan itu satu-satunya cara untuk bisa mencapai Parepare yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Makassar pada keesokan malamnya yang menjadi waktu acara tersebut.

photo
FOTO DOKUMENTASI. Almarhum Presiden ke-3 RI BJ Habibie ketika masih hidup sering berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Saat saya ceramah, saya hanya mengulas satu pelajaran kehidupan terpenting yang bisa dipetik dari diri seorang Habibie: Cinta. Dalam dirinya bersemayam kekuatan cinta yang terdahsyat: Cinta terhadap Ilmu Pengetahuan (Inteleketualisme) dan cinta terhadap bangsa (Nasionalisme). Lalu saya mengulas bagaimana dirinya menjadi ikon ilmu pengetahuan.

Saya lalu bertanya pada hadirin, siapa nama orang Indonesia yang paling banyak dipinjam sebagai nama anak yang baru lahir. Hadirin serentak menjawab: Habibie!

Saya meresponnya dengan mengurai: Saat masih kecil di kampung, saya punya teman bernama Habibi. Saat masuk sekolah dasar saya juga memiliki teman bernama Habibi. Saat pergi ke kota sekolah saya juga bertemu dengan seorang siswa yang bernama Habibi.

Saat bekerja sebagai dosen, saya punya kolega bernama Habibi. Saat tinggal di sebuah kompleks perumahan, saya punya tetangga bernama Habibi.

photo
BJ. Habibi bersama Ainun Habibie dan cucu

Waktu selalu menemani anak kecil saya masuk TK, ternyata ada temannya bernama Habibi. dan betapa menakjubkan, tetangga yang bernama Habibi itu pernah bercerita bahwa dia menyukai seorang perempuan yang bernama: Habibah, yang membuat Pak Habibie tertawa terpingkal di atas kursinya yang disiapkan khusus di antara ribuan hadirin yang duduk bersila.

Betul nama Habibi tidak ada matinya, terus memesona generasi, segera setelah post-kolonial sampai era milenial saat ini.

Lalu saya mengulas bagaimana cinta Habibie terhadap ilmu pengetahuan dengan level kejeniusan dan pengabdian yang dimiliki oleh beliau. Saya berefleksi, bukankah semua anak bangsa ingin seperti Pak Habibie. Setiap anak kampung yang mengengok ke langit mengikuti pesawat melintas di angkasa, nama yang terpatri di benak mereka adalah sosok Habibie.

Saya kemudian mengulas cinta pada Tanah Air yang tak terkira yang dimiliki Pak Habibie, dengan kesiapaannya kembali mengabdikan keilmuannya demi bangsa di saat dirinya mendapatkan 'privelege' di negara maju sekelas Jerman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA