Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Harga Minyak Turun Dipicu Kekhawatiran Perdagangan

Sabtu 21 Sep 2019 13:47 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Foto: REUTERS/Max Rossi
Harga minyak berjangka masih membukukan kenaikan mingguan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak turun pada Sabtu (21/9) WIB di tengah kekhawatiran baru atas perang perdagangan AS-China. Namun, harga minyak berjangka masih membukukan kenaikan mingguan. Minyak Brent menandai kenaikan mingguan terbesar sejak Januari, setelah serangan terhadap industri minyak Arab Saudi akhir pekan lalu.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 0,12 dolar AS menjadi ditutup pada 64,28 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 0,04 dolar AS menjadi menetap pada 58,09 dolar AS per barel. Untuk minggu ini, Brent naik 6,7 persen, kenaikan terbesar sejak Januari, sementara WTI naik 5,9 persen, terbesar sejak Juni.

Produsen minyak serpih AS mengambil peluang untuk mengunci pendapatan berjangka tahun ini dan berikutnya setelah harga minyak melonjak paling tinggi dalam 30 tahun awal pekan ini setelah serangan terhadap ladang minyak Aramco. Pasar minyak melonjak hampir 20 persen pada Senin (16/9).

Hal ini sebagai reaksi terhadap serangan 14 September terhadap lahan minyak Saudi Aramco yang mengurangi separuh produksi Saudi. Terganggunya operasional dari Aramco ini memotong pasokan global sekitar lima persen. Namun harga sejak itu memangkas sebagian besar keuntungan karena jaminan dari kerajaan bahwa pihaknya akan mengembalikan produksi yang hilang pada akhir bulan ini.

Namun, harga telah mempertahankan premi risiko karena ketegangan geopolitik di wilayah tersebut meningkat dengan Amerika Serikat. Arab Saudi menuduh Iran dibalik serangan tersebut. Teheran menyangkal keterlibatannya.

Serangan itu telah mengintensifkan pertarungan selama bertahun-tahun antara Arab Saudi dan Iran, yang dikurung dalam kontes kekerasan untuk mendapatkan pengaruh di beberapa titik nyala di sekitar Timur Tengah.

Koalisi yang dipimpin Saudi pada Jumat (20/9) melancarkan operasi militer di utara kota pelabuhan Hodeidah Yaman. Sementara Amerika Serikat bekerja dengan negara-negara Timur Tengah dan Eropa membangun koalisi untuk mencegah ancaman Iran.

Perusahaan milik negara Saudi Aramco telah mengalihkan grade minyak mentah dan menunda pengiriman minyak mentah serta produk minyak kepada pelanggan beberapa hari setelah serangan tersebut. Serangan sangat mengurangi produksi minyak ringannya dan menyebabkan penurunan produksi di kilangnya.

Sementara itu, di Amerika Serikat, banjir dari Badai Tropis Imelda memaksa kilang-kilang utama memotong produksi. Pipa saluran minyak utama, terminal dan saluran kapal di Texas ditutup, menurut sumber yang akrab dengan operasi.

Exxon Mobil Corp menutup beberapa unit di kilang Beaumont 369.024 barel per hari (bph) sementara Valero Energy Corp mengurangi produksi di kilang Port Arthur 335.000 barel per hari.

Perusahaan energi AS minggu ini mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi selama lima minggu berturut-turut ke level terendah sejak Mei 2017. Pengebor memotong 14 rig minyak dalam seminggu hingga 20 September.

Baca Juga

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA