Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

BI Prediksi Bahan-Bahan Makanan Ini Turun Harga

Sabtu 21 Sep 2019 02:26 WIB

Red: Friska Yolanda

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Deflasi diperkirakan sebesar minus 0,19 persen secara bulanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memprediksi akan terjadi deflasi pada September minggu ketiga berdasarkan survei pemantauan harga terbaru. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan deflasi diperkirakan sebesar minus 0,19 persen secara bulanan.

Sementara untuk tahunan masih tercatat inflasi sebesar 3,48 persen. Perry mengatakan deflasi terjadi karena sejumlah komoditas penyumbang deflasi telah melewati masa kritisnya, yakni pola musiman.
Penyumbang deflasi yakni cabe merah sebesar 0,21 persen, bawang merah sebesar 0,07 persen, dan daging ayam ras sebesar 0,05 persen. Pasokannya kini berangsur normal dan membaik sehingga turun harga.

"Seperti bulan lalu kami sampaikan bulan lalu inflasi yang naik kemarin disumbang oleh tadi faktor musiman," kata dia di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (20/9).

Hal ini, tambah Perry, mengonfirmasi proyeksi realisasi inflasi pada akhir tahun akan berada di bawah titik tengah proyeksi 3,5 persen plus minum satu persen. Tahun depan, BI masih optimistis inflasi berada di kisaran inflasi tiga persen plus minum satu persen.

Sementara untuk pertumbuhan ekonomi, BI masih belum mengubah proyeksi pada level 5,1-5,4 persen pada kuartal tiga. Pertumbuhan ditopang oleh konsumsi swasta dan rumah tangga.

"Election sudah lewat ya jadi untuk swasta pengeluaran lembaga non-rumah tangga sudah tidak ada lagi," katanya.

Konsumsi rumah tangga pun terpantau terjaga. Harga dan daya beli masyarakat disebutnya terkendali. Bantuan sosial dari pemerintah telah menjaga konsumsi rumah tangga untuk kalangan bawah.

Perry optimistis sektor investasi pun masih akan bertumbuh. Per 19 September 2019, nilai aliran modal asing masuk telah mencapai Rp 189,9 triliun. Terdiri dari aliran pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 130,9 triliun, saham Rp 56,8 triliun, dan obligasi korporasi sebesar Rp 2,3 triliun.

"Kelihatan memang kalau saham sesuai perkembangan global, jadi masih mengalami outflow Rp 1,8 triliun, namun untuk SBN inflow Rp 1,5 triliun," kata Perry.

Ia juga berterima kasih pada para pelaku usaha, sehingga nilai tukar rupiah terpantau stabil di level Rp 14.050-14.060 per dolar AS. Menurutnya mekanisme pasar terjaga karena andil pelaku usaha, perbankan, ekportir, dan impotir yang bergerak menunjang stabilitas di dunia usaha.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA