Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

BTPN Syariah Targetkan Usaha Nasabah Prasejahtera Berkembang

Jumat 20 Sep 2019 10:18 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Gita Amanda

Rosmania Rajaguguk (putih kembang-kembang), dan suaminya Rudi Pardosi (putih hitam) menjelaskan usaha kue kacangnya yang dikembangkan dengan pinjaman syariah tanpa agunan BTPN Syariah, pada Business Coach BTPN Syariah, Fauzan Ridha (hitam). Medan, Sumatera Utara.

Rosmania Rajaguguk (putih kembang-kembang), dan suaminya Rudi Pardosi (putih hitam) menjelaskan usaha kue kacangnya yang dikembangkan dengan pinjaman syariah tanpa agunan BTPN Syariah, pada Business Coach BTPN Syariah, Fauzan Ridha (hitam). Medan, Sumatera Utara.

Foto: Republika/Arif Satrio Nugroho
Para nasabah ditargetkan dapat mentas dari status prasejahtera.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Program pemberdayaan keluarga prasejahtera BTPN Syariah menargetkan agar usaha para nasabahnya terus berkembang dari tahun ke tahun. Dalam jangka waktu tertentu, para nasabah ditargetkan dapat mentas dari status prasejahtera.

"Mereka dalam proyeksi perhitungan dan harapan kita akan mentas selama lima tahun, kalau cuma satu tahun sebenarnya belum apa apa," kata Direktur BTPN Syariah Gatot Adhi Prasetyo saat ditemui di Medan, Sumatera Utara, Kamis (19/9) malam lalu.

Pembiayaan ini menyasar kaum perempuan. Alasannya, perempuan dinilai memiliki peran yang besar dalam perekonomian keluarga, dan dinilai lebih disiplin. Skema pemberdayaan berupa modal ini dipinjamkan ke kelompok pengusaha perempuan untuk membangun atau mendirikan usaha di berbagai sektor.

Mereka mendapat bantuan awal sebesar Rp 2 juta dengan tenor satu tahun. Namun, seiring perkembangan usaha, bantuan bisa diajukan kembali dengan jumlah yang lebih besar, hingga puluhan bahkan ratusan juta.

Anggota tiap kelompok yang mendapat kredit dari BTPN Syariah mengadakan pertemuan tiap dua pekan. Mereka harus membayar kredit dengan jumlah yang ditentukan sejak akad peminjaman. Bila salah satu anggota berhalangan membayar, maka kelompok bertanggung jawab.

Tanpa adanya agunan, diakui Gatot, ada saja nasabah yang bandel. BTPN Syariah pun mengandalkan tekanan sosial dan disiplin dari kelompok agar ritme pembayaran kredit tetap terjaga. Di samping itu, para bankir Pemberdaya BTPN Syariah yang menjadi pembina nasabah sejak awal sudah bisa memetakan calon nasabah mereka, sehingga risiko kredit macet semakin dapat ditekan. "Kepercayaan ditanamkan sejak pertama kali pelatihan," kata Gatot.

Baca Juga

photo
Rosmania Rajaguguk (putih kembang-kembang), dan suaminya Rudi Pardosi (putih hitam) menjelaskan usaha kue kacangnya yang dikembangkan dengan pinjaman syariah tanpa agunan BTPN Syariah, pada Business Coach BTPN Syariah, Fauzan Ridha (hitam). Medan, Sumatera Utara.

Menyelamatkan usaha

Sarinah adalah salah satu warga Medan yang mengikuti program pemberdayaan keluarga prasejahtera BTPN Syariah. Ia mendirikan usaha produk rotan yang terletak di halaman rumahnya, Jalan Seroja, Gang Kecil, Medan Sunggal, Medan. Sarinah mengaku, usaha rotannya berhasil menghindar dari gulung tikar dengan pinjaman syariah yang diperoleh dari BTPN Syariah.

Wanita 47 tahun itu berbisnis produk rotan, mulai dari mebel hingga perabot sejak 25 tahun lalu. Awalnya, usaha rotan tersebut sangat menjanjikan dengan pemasaran sampai ke luar negeri. Namun, pada 2004, usaha Sarinah mulai turun. "Jatuh betul pun, enggak bangun lagi," kata Sarinah.

Namun, Sarinah terus mempertahankan usaha itu bersama suaminya. Tahun 2016 dapat dibilang menjadi tahun kebangkitan, meskipun tak terlalu signifikan. Sarinah mendapat pinjaman BTPN Syariah dalam skema pembinaan keluarga prasejahtera. Ia mendapat pinjaman Rp 15 juta untuk tahun 2018

Usaha rotan Sarinah menjadi satu-satunya usaha rotan yang masih hidup di Medan Sunggal. Dulunya, ada belasan pengusaha rotan di desa tersebut. "Karena ada pinjaman BTPN Syariah kita msih tetap produksi," kata Sarinah.

Kendati perkembangan usaha pembuatan produk rotannyab tak sepesat pada akhir tahun 90an, Sarinah masih optimis. Meski masih menjumpai sejumlah kendala dalam pemasaran dan ide produksi, ia masih yakin dapat melebarkan usaha, mengingat pasaram produk rotan kembali diminati.

Atas alasan ini pula, ia berniat meningkatkan pinjaman mereka di Rp 30 sampai 50 juta ke BTPN Syariah saat tenor usai. Selain itu, Sarinah berharap, bankir Pemberdaya BTPN juga dapat memberikan konsultasi dan pembinaan lebih lanjut. "Ingin ada penampungan kerajinan, tolong juga dibantu dicarikan pasar yang lebih luas," ucap Sarinah.

Business Coach BTPN Syariah Sumatera Utara Fauzan Ridha menjelaskan, tiap kelompok nasabah akan dibina oleh Community Officer (CO) BTPN Syariah. Para CO memiliki kemampuan menganalisis profil para nasabah.

"Mereka (CO) di awal pembentukan kelompok bertugas memberikan pembinaaan, semacam sekolah singkat, nanti mereka menilai kira-kira seperti apa perilaku nasabah," ujar Fauzan saat berbincang dengan wartawan di Medan.

Menurut Fauzan, BTPN Syariah bergerak aktif menjemput bola mendatangi nasabah langsung. Nasabah yang telah diberikan bantuan modal pun akan terus diberikan pelayanan tatap muka berkonsultasi untuk mengembangkan usaha secara rutin.

Di Sumatera Utara sendiri, ratusan miliar dan ratusan ribu nasabah telah diberdayakan oleh BTPN Syariah. "Kredit kami di Sumatra Utara mencapai Rp 541,292 miliar, dalam satu semester jumlah nasabah 230.171," ujar Fauzan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA