Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

'Anterin' Permudah Pengguna Memilih Mitra Pengemudi

Kamis 19 Sep 2019 22:48 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nora Azizah

Ojek Online Anterin

Ojek Online Anterin

Foto: dok. Anterin
Sejumlah pilihan nama pengemudi beserta tarifnya muncul saat melakukan pemesanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejauh ini, pasar transportasi daring didominasi Gojek dan Grab. Keduanya ditopang dengan suntikan dana yang besar sehingga relatif memiliki keleluasaan dalam memberi harga murah kepada pengguna jasa.

Kedigdayaan Gojek dan Grab dalam pasar transportasi daring tak membuat Imron Hamzah berkecil hati. Lewat PT Anterin Digital Nusantara atau Anterin, Imron Hamzah cukup percaya diri mengembangkan aplikasi transportasi daring yang identik dengan warna biru.

Imron merupakan pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Anterin yang didirikan sejak 2016. Dalam perbincangan dengan Republika melalui sambungan telepon belum lama iini, Imron enggan menyebut Anterin serupa dengan Gojek dan Grab, apalagi menantang kedua platform tersebut.

Kelebihan 'Anterin', kata Imron, pengguna jasa bisa memilih sendiri mitra pengemudi. Pasalnya, ketika pengguna jasa memesan transportasi akan muncul sejumlah pilihan nama pengemudi beserta tarifnya.

"Pengguna diberikan kebebasan memilih mitra pengemudi sesuai harga, jenis kendaraan, dan gender. Dengan konsep ini, sebenarnya kita ingin berikan solusi, pengemudi bisa mandiri artinya tidak bergantung dari aplikator, pengguna juga bisa punya banyak pilihan," kata Imron.

Ke depan, Anterin akan meningkatkan tambahan layanan dan juga sistem pembayaran nontunai. Imron berharap tambahan layanan yang sedang dalam masa uji coba dapat terealisasi pada tahun ini.

Imron menilai, strategi startup atau perusahaan rintisan memang melakukan promosi besar-besaran, mengambil ceruk pasar, hingga membuat yang lain tidak berdaya. Menurutnya, hal ini berpotensi merugikan mitra pengemudi dan pengguna dalam jangka panjang.

"Ketika dimonopoli, harga akan normal bahkan naik, yang dirugikan pengemudi dan pengguna karena tidak ada pilihan dan itu sudah terjadi di luar Indonesia. Ketika monopoli, yang lain sudah terbunuh, mereka bisa seenaknya. Ini yang kita hindari, apalagi kalau bicata kedaulatan, jangan sampai Indonesia hanya sebagai pasar, tapi juga pemain," lanjut Imron.

Oleh karenanya, Imron memastikan tidak ada suntikan investor asing pada Anterin. Imron optimistis Anterin dapat menarik hati pengguna jasa. Pasalnya, kata dia, pasar transportasi daring masih terbuka cukup luas.

"Tujuan kami mendorong kemandirian mitra pengemudi, bukan monopoli yang menguntungkan investor yang padahal bukan orang Indonesia. Pasarnya masih luas, orang yang nggak pake dua aplikasi (Golek dan Grab) itu masih banyak," ucap Imron.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA